Seri Pendidikan Dokter Subspesialis Penyakit Dalam Konsultan Tropik dan Infeksi · Buku 2 dari 10

Infeksi Bakteri dan Terapi Antibiotik Lanjut

Modul TI-2 (Tahap Madya)
Penanggung Jawab: dr Norma Rahayu Najikhah, Sp.PD.
Perpustakaan Digital ABBA · Malang, 2026
Prakata

Kata Pengantar

Buku ini disusun sebagai bagian kedua dari Seri Pendidikan Dokter Subspesialis Penyakit Dalam Konsultan Tropik dan Infeksi, sebuah rangkaian sepuluh buku yang disusun secara sistematis mengacu pada Keputusan Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) Nomor 44/KKI/KEP/V/2023 tentang Standar Pendidikan Profesi Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Penyakit Tropik dan Infeksi. Buku "Infeksi Bakteri dan Terapi Antibiotik Lanjut" ini secara khusus membahas cakupan Modul TI-2 pada Tahap Madya kurikulum, yang menitikberatkan pada penguasaan diagnosis dan tata laksana mandiri-tuntas berbagai infeksi bakterial kompleks, mulai dari demam enterik, infeksi termediasi toksin, infeksi sistemik berat, hingga infeksi organ spesifik, serta prinsip terapi antibiotik lanjut yang menjadi tulang punggung kompetensi seorang subspesialis penyakit tropik dan infeksi. Materi disusun berjenjang menurut kerangka klinis yang konsisten — definisi, epidemiologi, etiologi dan patogenesis, manifestasi klinis, pendekatan diagnostik, tata laksana, komplikasi, dan pencegahan — dilengkapi tabel ringkasan praktis dan penanda tingkat kompetensi sesuai Definisi Tingkat Kompetensi KKI 2019, agar dapat digunakan langsung sebagai pegangan belajar di tempat pendidikan maupun di tempat pelayanan. Semoga buku ini bermanfaat bagi peserta didik Program Pendidikan Dokter Subspesialis Penyakit Dalam Pemimatan Penyakit Tropik dan Infeksi di seluruh Indonesia dalam mencapai kompetensi yang dipersyaratkan demi peningkatan mutu pelayanan kesehatan masyarakat.

Malang, 2026
Penanggung Jawab Penulisan,
dr Norma Rahayu Najikhah, Sp.PD.

BAB I

PENDAHULUAN MIKROBIOLOGI BAKTERI KLINIS

Penguasaan mikrobiologi klinis merupakan fondasi mutlak bagi seorang Dokter Subspesialis Penyakit Dalam Pemimatan Penyakit Tropik dan Infeksi sebelum menatalaksana kasus-kasus infeksi bakterial yang kompleks. Bab ini membahas klasifikasi bakteri patogen yang relevan secara klinis, prinsip pemeriksaan mikrobiologi konvensional dan molekuler, interpretasi uji kepekaan antibiotik, serta peran Program Pengendalian Resistensi Antimikroba (PPRA) sebagai kerangka kerja institusional yang menaungi seluruh praktik peresepan antibiotik lanjut yang dibahas pada bab-bab berikutnya.

1.1 Klasifikasi dan Struktur Bakteri Patogen Klinis

Bakteri patogen klinis diklasifikasikan berdasarkan struktur dinding sel (Gram positif dan Gram negatif), morfologi (kokus, basil, spiral), kebutuhan oksigen (aerob, anaerob fakultatif, anaerob obligat), serta lokasi intraseluler atau ekstraseluler.1 Perbedaan struktur dinding sel — lapisan peptidoglikan tebal pada bakteri Gram positif versus membran luar berlapis lipopolisakarida pada Gram negatif — menentukan afinitas terhadap kelas antibiotik tertentu serta potensi pelepasan endotoksin saat lisis bakteri, yang mendasari fenomena Jarisch–Herxheimer pada beberapa infeksi seperti sifilis dan leptospirosis.1

Bakteri atipikal seperti Mycoplasma pneumoniae, Chlamydophila pneumoniae, dan Legionella pneumophila tidak memiliki dinding sel peptidoglikan konvensional atau bersifat intraseluler obligat, sehingga resisten terhadap golongan beta-laktam dan memerlukan agen dengan penetrasi intraseluler seperti makrolid, tetrasiklin, atau fluorokuinolon.2 Pemahaman klasifikasi ini menjadi dasar rasional pemilihan terapi empiris sebelum hasil kultur definitif tersedia.

1.2 Pengumpulan Spesimen, Pewarnaan, dan Kultur

Kualitas hasil mikrobiologi sangat bergantung pada teknik pengumpulan dan pengiriman spesimen yang tepat — darah, urin, pus, cairan tubuh steril, dan feses — sebelum pemberian antibiotik empiris bila memungkinkan, guna menghindari hasil negatif palsu akibat supresi pertumbuhan kuman.1 Pewarnaan Gram tetap menjadi pemeriksaan cepat lini pertama yang memberi arah awal terapi empiris dalam hitungan menit, sedangkan pewarnaan Ziehl–Neelsen (Basil Tahan Asam/BTA) digunakan untuk skrining mikobakterium.2

Kultur darah idealnya diambil dari dua lokasi berbeda sebelum inisiasi antibiotik pada kecurigaan bakteremia atau sepsis, dengan volume darah adekuat (8–10 mL per botol pada dewasa) untuk memaksimalkan sensitivitas deteksi.1,12 Waktu inkubasi standar 5 hari sudah mencakup mayoritas patogen umum, namun kecurigaan organisme fastidious (mis. Brucella spp., Bartonella spp.) memerlukan perpanjangan inkubasi dan media khusus.11

1.3 Uji Kepekaan Antibiotik dan Diagnostik Molekuler

Uji kepekaan antibiotik (antimicrobial susceptibility testing) menentukan Kadar Hambat Minimum (KHM/MIC) suatu isolat terhadap panel antibiotik, diinterpretasikan sebagai sensitif, intermediat, atau resisten berdasarkan breakpoint klinis standar internasional (mis. CLSI atau EUCAST), menjadi dasar de-eskalasi terapi empiris menjadi terapi definitif yang ditargetkan.1

Pemeriksaan Polymerase Chain Reaction (PCR) multipleks kini memungkinkan deteksi cepat patogen dan sebagian gen resistensi (mis. mecA untuk MRSA, blaKPC untuk karbapenemase) dalam hitungan jam, mempercepat keputusan klinis pada kondisi sepsis maupun meningitis yang membutuhkan terapi presisi sedini mungkin.1 Namun demikian, hasil PCR positif tidak selalu menggambarkan organisme hidup, sehingga interpretasi klinis tetap wajib mengintegrasikan gambaran klinis pasien secara menyeluruh.

1.4 Pengendalian Resistensi Antimikroba dan Peran PPRA

Resistensi antimikroba (Antimicrobial Resistance/AMR) merupakan salah satu ancaman kesehatan global paling mendesak. Pembaruan terkini WHO Bacterial Priority Pathogens List (2024) tetap menempatkan Enterobacteriaceae penghasil karbapenemase, Acinetobacter baumannii, dan Pseudomonas aeruginosa resisten karbapenem pada kategori prioritas kritis, dengan penambahan penting berupa Mycobacterium tuberculosis resisten rifampisin serta penekanan lebih tinggi pada Salmonella Typhi dan Shigella spp. resisten fluorokuinolon sebagai kontributor utama beban penyakit komunitas — sangat relevan bagi topik demam tifoid pada Bab II buku ini.23

Program Pengendalian Resistensi Antimikroba (PPRA) di rumah sakit merupakan perwujudan nasional dari komitmen Global Action Plan on Antimicrobial Resistance yang diadopsi WHO pada 2015, mengawal penggunaan antibiotik rasional melalui audit peresepan, pembatasan antibiotik cadangan, edukasi berkelanjutan, dan surveilans pola kuman lokal (antibiogram).22,24,28,30 Setiap Dokter Subspesialis Penyakit Tropik dan Infeksi berperan sentral sebagai anggota aktif tim PPRA di institusinya, sejalan dengan Standar Kompetensi Prosedur Klinis pada Lampiran Keputusan KKI No. 44/KKI/KEP/V/2023.25,26

BAB II

DEMAM TIFOID DAN PARATIFOID

Demam tifoid dan paratifoid (demam enterik) merupakan penyakit infeksi bakterial sistemik yang masih endemis tinggi di Indonesia dan menjadi salah satu kompetensi inti wajib subspesialis Penyakit Tropik dan Infeksi. Bab ini membahas empat varian presentasi klinis demam tifoid — tanpa komplikasi, dengan komplikasi, dengan resistensi multi-obat, dan pada kehamilan — sesuai Tabel Kompetensi Penyakit Lampiran Keputusan KKI No. 44/KKI/KEP/V/2023, seluruhnya pada Tingkat Kompetensi 4 (mendiagnosis dan menatalaksana secara mandiri dan tuntas).

2.1 Demam Tifoid Tanpa Komplikasi

Tingkat Kompetensi: 4 — Mendiagnosis dan menatalaksana secara mandiri dan tuntas (mengacu Definisi Tingkat Kompetensi KKI 2019)

Definisi. Demam tifoid adalah penyakit infeksi sistemik akut yang disebabkan oleh Salmonella enterica serotipe Typhi, ditandai demam berkepanjangan, gangguan saluran cerna, dan potensi bakteremia berkelanjutan tanpa disertai penyulit organ.1,2

Epidemiologi. Secara global diperkirakan 9,2 juta kasus dan 110.000 kematian terjadi setiap tahun, dengan insidensi tertinggi di kawasan Asia Selatan dan Tenggara akibat sanitasi air dan makanan yang belum optimal.3,4 Indonesia termasuk negara endemis tinggi dengan penularan utama melalui jalur fekal-oral.5

Etiologi dan Patogenesis. S. Typhi ditelan bersama makanan/air terkontaminasi, melewati barrier asam lambung, menginvasi sel M pada plak Peyer ileum terminal, kemudian bereplikasi intraseluler dalam makrofag dan menyebar hematogen (bakteremia primer asimtomatik) sebelum menimbulkan bakteremia sekunder simtomatik disertai kolonisasi hati, limpa, dan sumsum tulang.1,2

Manifestasi Klinis. Gejala klasik berupa demam step-ladder yang meningkat bertahap selama 4–7 hari pertama, nyeri kepala, malaise, anoreksia, nyeri perut, konstipasi (dewasa) atau diare (anak), lidah tifoid (kotor di tengah, tepi hiperemis), relative bradycardia, hepatosplenomegali ringan, dan rose spots pada kulit abdomen yang jarang terlihat pada kulit gelap.1,2

Pendekatan Diagnostik. Kultur darah merupakan baku emas dengan sensitivitas 40–80% tergantung volume darah dan fase penyakit; kultur sumsum tulang memberikan sensitivitas lebih tinggi (~90%) dan tetap positif meski pasien telah mendapat antibiotik.1 Uji serologis Widal memiliki keterbatasan sensitivitas dan spesifisitas signifikan pada area endemis sehingga tidak direkomendasikan sebagai diagnostik tunggal.2 Pemeriksaan darah tepi sering menunjukkan leukopenia relatif dengan limfositosis.

Tata Laksana. Terapi lini pertama pada area dengan sensitivitas terjaga adalah fluorokuinolon oral (siprofloksasin 500 mg dua kali sehari selama 7–10 hari), namun mengingat tingginya resistensi kuinolon di Asia, seftriakson intravena 2 g sekali sehari selama 10–14 hari atau azitromisin oral 1 g dosis awal dilanjutkan 500 mg/hari selama 6 hari menjadi pilihan yang lebih aman secara empiris.1,2,5 Hidrasi adekuat dan pemantauan komplikasi tetap penting sepanjang terapi.

Komplikasi. Tanpa komplikasi berarti belum terjadi perdarahan, perforasi usus, ensefalopati tifoid, atau miokarditis; namun pemantauan ketat tetap diperlukan karena perburukan dapat terjadi cepat pada minggu kedua–ketiga perjalanan penyakit.1

Pencegahan. Pencegahan meliputi perbaikan sanitasi air dan makanan, cuci tangan, serta vaksinasi tifoid konjugat (TCV) yang direkomendasikan WHO untuk anak mulai usia 6 bulan di area endemis tinggi.3

Tabel 2.1 Regimen Antibiotik Empiris Demam Tifoid Tanpa Komplikasi
RegimenDosis DewasaDurasiCatatan
Seftriakson IV2 g sekali sehari10–14 hariPilihan aman area resistensi tinggi
Azitromisin oral1 g hari-1, lanjut 500 mg/hari6 hariAlternatif oral rawat jalan
Siprofloksasin oral500 mg 2×/hari7–10 hariHanya bila sensitivitas lokal terjaga
Poin Penting
  • Kultur darah adalah baku emas; Widal tidak direkomendasikan sebagai diagnostik tunggal di area endemis.
  • Seftriakson atau azitromisin lebih diutamakan secara empiris mengingat resistensi fluorokuinolon yang meningkat.
  • Perhatikan tanda alarm minggu kedua: nyeri abdomen mendadak, penurunan kesadaran, atau perdarahan saluran cerna.

2.2 Demam Tifoid dengan Komplikasi

Tingkat Kompetensi: 4 — Mendiagnosis dan menatalaksana secara mandiri dan tuntas (mengacu Definisi Tingkat Kompetensi KKI 2019)

Definisi. Demam tifoid dengan komplikasi adalah demam tifoid yang disertai penyulit organ mayor seperti perforasi/perdarahan usus, ensefalopati tifoid, miokarditis, atau kolesistitis tifoid, umumnya terjadi pada minggu kedua–ketiga perjalanan penyakit yang tidak diobati adekuat.1,2

Epidemiologi. Komplikasi terjadi pada sekitar 10–15% kasus yang tidak diterapi dini, dengan perforasi usus sebagai komplikasi bedah tersering di negara endemis dan berhubungan dengan mortalitas yang bermakna lebih tinggi dibanding kasus tanpa komplikasi.1,4

Etiologi dan Patogenesis. Hiperplasia dan nekrosis plak Peyer ileum terminal akibat respons inflamasi yang berlebihan dapat berlanjut menjadi ulserasi transmural, perforasi, atau erosi pembuluh darah submukosa yang menimbulkan perdarahan; toksemia sistemik berat dapat menimbulkan ensefalopati dan gangguan konduksi jantung (miokarditis toksik).1,2

Manifestasi Klinis. Perforasi ditandai nyeri abdomen akut mendadak, distensi, dan tanda peritonitis; perdarahan bermanifestasi melena atau hematokezia mendadak dengan penurunan hemoglobin akut; ensefalopati tifoid ditandai penurunan kesadaran, delirium, hingga koma (typhoid state).1,2

Pendekatan Diagnostik. Kecurigaan perforasi ditegakkan secara klinis dan dikonfirmasi dengan foto polos abdomen tegak (udara bebas subdiafragma) atau CT-scan abdomen; evaluasi laboratorium mencakup darah perifer lengkap, fungsi hati, elektrolit, serta kultur darah yang tetap diperlukan untuk konfirmasi etiologi.1

Tata Laksana. Perforasi usus memerlukan tata laksana bedah emergensi (laparotomi dengan reseksi/penutupan primer) disertai antibiotik spektrum luas mencakup kuman Gram negatif dan anaerob (mis. seftriakson dikombinasi metronidazol), resusitasi cairan agresif, dan perawatan intensif.1,2 Ensefalopati tifoid ditata laksana dengan seftriakson dosis tinggi dan dapat dipertimbangkan deksametason pada kasus berat sesuai penilaian klinis individual.1

Komplikasi. Sepsis abdominal, syok septik, gagal organ multipel, dan kematian merupakan risiko utama bila penanganan tertunda.1

Pencegahan. Deteksi dini dan terapi antibiotik adekuat sejak minggu pertama merupakan strategi pencegahan komplikasi paling efektif, di samping strategi pencegahan populasi seperti pada demam tifoid tanpa komplikasi.3

Tabel 2.2 Spektrum Komplikasi Demam Tifoid dan Prinsip Tata Laksana
KomplikasiTanda KunciTata Laksana Utama
Perforasi ususNyeri akut, peritonitis, udara bebasBedah emergensi + antibiotik spektrum luas
Perdarahan saluran cernaMelena/hematokezia, Hb turun akutTransfusi, PPI, evaluasi endoskopi/bedah
Ensefalopati tifoidPenurunan kesadaran, deliriumSeftriakson dosis tinggi, perawatan intensif
Miokarditis toksikAritmia, gagal jantung akutMonitoring jantung, terapi suportif
Poin Penting
  • Perforasi usus adalah kegawatdaruratan bedah — jangan menunda konsultasi bedah pada nyeri abdomen akut minggu kedua.
  • Kombinasi antibiotik harus mencakup kuman anaerob pada kecurigaan perforasi.
  • Ensefalopati tifoid menandakan toksemia berat dan memerlukan perawatan intensif.

2.3 Demam Tifoid dengan Resistensi Multi-obat

Tingkat Kompetensi: 4 — Mendiagnosis dan menatalaksana secara mandiri dan tuntas (mengacu Definisi Tingkat Kompetensi KKI 2019)

Definisi. Demam tifoid dengan resistensi multi-obat (Multidrug-Resistant Typhoid, MDR) adalah infeksi S. Typhi yang resisten terhadap kloramfenikol, ampisilin, dan trimetoprim-sulfametoksazol; termasuk di dalamnya galur Extensively Drug-Resistant (XDR) yang tambahan resisten terhadap fluorokuinolon dan sefalosporin generasi ketiga.1,4

Epidemiologi. Galur XDR pertama kali dilaporkan meluas di Pakistan sejak 2016 dan menjadi ancaman regional Asia Selatan; di Indonesia, resistensi terhadap fluorokuinolon dilaporkan meningkat meskipun galur XDR belum menjadi masalah dominan, sehingga surveilans lokal tetap penting.4,5

Etiologi dan Patogenesis. Resistensi diperantarai plasmid yang membawa multipel gen resistensi sekaligus, termasuk gen penghasil Extended-Spectrum Beta-Lactamase (ESBL) pada galur XDR yang menonaktifkan sefalosporin generasi ketiga selain fluorokuinolon.1,4

Manifestasi Klinis. Manifestasi klinis serupa demam tifoid tanpa komplikasi namun dengan perjalanan penyakit yang lebih lama dan risiko kegagalan terapi empiris standar, ditandai demam menetap meski telah mendapat antibiotik lini pertama selama 3–5 hari.1

Pendekatan Diagnostik. Konfirmasi memerlukan kultur darah/sumsum tulang dengan uji kepekaan antibiotik lengkap; kecurigaan XDR meningkat pada riwayat perjalanan ke area endemis XDR atau kegagalan terapi seftriakson/fluorokuinolon empiris.1,4

Tata Laksana. Pada MDR konvensional, seftriakson intravena atau azitromisin oral tetap efektif sebagai lini pertama.1,2 Pada kecurigaan atau konfirmasi XDR, karbapenem (meropenem) menjadi pilihan utama, dengan azitromisin oral sebagai alternatif pada kasus tanpa komplikasi berat berdasarkan pengalaman klinis di area endemis XDR.4

Komplikasi. Risiko komplikasi organ meningkat akibat keterlambatan terapi efektif selama periode kegagalan terapi empiris awal.1

Pencegahan. Vaksinasi TCV memberikan proteksi silang terhadap galur resisten karena bekerja pada level pencegahan infeksi, bukan pada level sensitivitas antibiotik, sehingga menjadi strategi pencegahan utama di area risiko tinggi XDR.3

Tabel 2.3 Pola Resistensi dan Pilihan Terapi Demam Tifoid MDR/XDR
KategoriResistensiTerapi Pilihan
MDRKloramfenikol, ampisilin, kotrimoksazolSeftriakson IV atau azitromisin oral
XDRMDR + fluorokuinolon + sefalosporin gen-3Meropenem IV; azitromisin oral pada kasus ringan
Poin Penting
  • Curigai XDR bila demam menetap setelah 3–5 hari terapi seftriakson/fluorokuinolon adekuat, terutama pada riwayat perjalanan endemis.
  • Meropenem adalah pilihan utama pada XDR terkonfirmasi.
  • Surveilans antibiogram lokal krusial karena pola resistensi bervariasi antarwilayah.

2.4 Demam Tifoid pada Kehamilan

Tingkat Kompetensi: 4 — Mendiagnosis dan menatalaksana secara mandiri dan tuntas (mengacu Definisi Tingkat Kompetensi KKI 2019)

Definisi. Demam tifoid pada kehamilan adalah infeksi S. Typhi yang terjadi selama masa gestasi, membawa risiko tambahan terhadap ibu dan janin dibanding populasi umum.1,2

Epidemiologi. Insidensi mengikuti pola endemisitas regional; kehamilan tidak meningkatkan kerentanan infeksi secara bermakna namun meningkatkan risiko keparahan dan komplikasi obstetrik bila terjadi.2

Etiologi dan Patogenesis. Patogenesis serupa demam tifoid pada populasi umum, namun bakteremia dapat menyebabkan penyebaran transplasenta ke janin serta memicu kontraksi uterus akibat efek pirogen dan endotoksin, meningkatkan risiko partus prematurus dan abortus.1,2

Manifestasi Klinis. Gejala klinis serupa demam tifoid umum, namun perlu kewaspadaan terhadap tanda ancaman persalinan preterm (kontraksi, perdarahan pervaginam) dan gawat janin yang dapat menyertai episode demam tinggi.2

Pendekatan Diagnostik. Kultur darah tetap menjadi baku emas; pemantauan kesejahteraan janin (kardiotokografi sesuai usia gestasi) dianjurkan berdampingan dengan evaluasi maternal standar.1

Tata Laksana. Seftriakson intravena merupakan pilihan aman pada kehamilan karena profil keamanan sefalosporin yang baik; azitromisin juga dapat dipertimbangkan sebagai alternatif aman.1,2 Fluorokuinolon sebaiknya dihindari karena potensi efek pada kartilago janin berdasarkan data hewan, sedangkan kloramfenikol sebaiknya dihindari terutama menjelang aterm karena risiko toksisitas hematologis neonatal (grey baby syndrome) akibat imaturitas konjugasi hepar janin/neonatus.1

Komplikasi. Abortus, partus prematurus, dan transmisi transplasenta yang berisiko menimbulkan tifoid kongenital merupakan komplikasi spesifik yang perlu diantisipasi.2

Pencegahan. Skrining dan tata laksana dini pada ibu hamil di area endemis, higienitas makanan-minuman ketat, serta pertimbangan vaksinasi tifoid pra-konsepsi pada perempuan usia reproduktif di area risiko tinggi.3

Tabel 2.4 Pilihan Antibiotik Demam Tifoid pada Kehamilan
AntibiotikKeamanan KehamilanRekomendasi
SeftriaksonAman (kategori umum digunakan)Lini pertama
AzitromisinAmanAlternatif lini pertama
SiprofloksasinHindari bila memungkinkanHanya bila tidak ada alternatif
KloramfenikolHindari mendekati atermRisiko grey baby syndrome
Poin Penting
  • Hindari fluorokuinolon dan kloramfenikol pada kehamilan; seftriakson dan azitromisin lebih aman.
  • Pantau kesejahteraan janin bersamaan dengan tata laksana maternal.
  • Waspadai risiko partus prematurus pada episode demam tinggi berkepanjangan.
BAB III

INFEKSI BAKTERI DIMEDIASI TOKSIN

Kelompok penyakit pada bab ini disatukan oleh mekanisme patogenesis yang khas: manifestasi klinis berat terutama diperantarai eksotoksin bakteri, bukan semata invasi jaringan langsung, sehingga tata laksana menekankan netralisasi toksin (antitoksin/imunoglobulin) selain eradikasi kuman penghasilnya. Tetanus, botulisme, dan antraks — meski jarang dijumpai pada praktik sehari-hari — tetap menjadi kompetensi wajib Tingkat 4 subspesialis Penyakit Tropik dan Infeksi karena potensi kefatalannya yang tinggi dan relevansinya sebagai ancaman kesehatan masyarakat maupun potensi bioterorisme.

3.1 Tetanus

Tingkat Kompetensi: 4 — Mendiagnosis dan menatalaksana secara mandiri dan tuntas (mengacu Definisi Tingkat Kompetensi KKI 2019)

Definisi. Tetanus adalah penyakit neurologis akut yang disebabkan oleh eksotoksin tetanospasmin dari Clostridium tetani, ditandai kekakuan otot generalisata dan spasme yang menyakitkan akibat gangguan inhibisi neuron motorik di sistem saraf pusat.1,8

Epidemiologi. Insidensi global telah menurun tajam berkat program imunisasi, namun tetanus tetap menjadi masalah di negara dengan cakupan vaksinasi rendah dan praktik perawatan luka/persalinan yang tidak higienis, termasuk tetanus neonatorum yang masih dilaporkan di beberapa wilayah Indonesia.8

Etiologi dan Patogenesis. Spora C. tetani yang mengontaminasi luka (terutama luka dalam, tertusuk, atau nekrotik dengan lingkungan anaerob) berkecambah menjadi bentuk vegetatif dan melepaskan tetanospasmin, yang bermigrasi retrograd melalui akson motorik menuju sistem saraf pusat dan menghambat pelepasan neurotransmiter inhibitorik (GABA dan glisin), menyebabkan aktivitas motorik tak terkendali (rigiditas dan spasme).1,8

Manifestasi Klinis. Trismus (kekakuan rahang) merupakan gejala awal tersering, diikuti risus sardonicus, kekakuan leher dan batang tubuh, opistotonus, serta spasme generalisata yang dapat dipicu stimulus minimal (cahaya, suara, sentuhan); disfungsi otonom berat (labilitas tekanan darah, aritmia) menandakan tetanus generalisata berat.1

Pendekatan Diagnostik. Diagnosis bersifat klinis murni berdasarkan riwayat luka dan gambaran khas rigiditas-spasme; kultur luka sering negatif dan tidak diperlukan untuk menegakkan diagnosis, sementara pemeriksaan penunjang lain terutama untuk menyingkirkan diagnosis banding (meningitis, keracunan striknin, reaksi distonik).1,8

Tata Laksana. Tata laksana meliputi netralisasi toksin bebas dengan human tetanus immunoglobulin (HTIG) 3.000–6.000 unit intramuskular sedini mungkin, debridemen luka, antibiotik metronidazol (lini pertama, menggantikan penisilin karena penisilin bersifat antagonis GABA), kontrol spasme dengan benzodiazepin dosis tinggi, serta dukungan ventilasi mekanik pada kasus berat dengan spasme laring/pernapasan.1,8 Imunisasi aktif dengan toksoid tetanus wajib diberikan karena infeksi alami tidak memberikan imunitas protektif.8

Komplikasi. Disfungsi otonom berat, gagal napas akibat spasme laring atau kelelahan otot pernapasan, fraktur kompresi vertebra akibat spasme hebat, dan aspirasi pneumonia merupakan komplikasi utama penyebab kematian.1

Pencegahan. Imunisasi dasar dan booster toksoid tetanus (DPT/Td) sesuai jadwal nasional, profilaksis tetanus pasca-luka berdasarkan status imunisasi dan jenis luka, serta praktik persalinan bersih untuk mencegah tetanus neonatorum.8

Tabel 3.1 Profilaksis Tetanus Pasca-Luka Berdasarkan Status Imunisasi
Status ImunisasiLuka Bersih MinorLuka Kotor/Berisiko Tinggi
Tidak diketahui/<3 dosisToksoid tetanusToksoid tetanus + HTIG
≥3 dosis, booster >10 tahunToksoid tetanusToksoid tetanus
≥3 dosis, booster >5 tahunTidak perluToksoid tetanus
≥3 dosis, booster <5 tahunTidak perluTidak perlu
Poin Penting
  • Metronidazol menggantikan penisilin sebagai antibiotik lini pertama karena penisilin berpotensi antagonis GABA.
  • HTIG diberikan sedini mungkin untuk menetralisasi toksin yang belum terikat.
  • Infeksi alami TIDAK memberi imunitas — vaksinasi aktif tetap wajib pasca-pemulihan.

3.2 Botulisme

Tingkat Kompetensi: 4 — Mendiagnosis dan menatalaksana secara mandiri dan tuntas (mengacu Definisi Tingkat Kompetensi KKI 2019)

Definisi. Botulisme adalah sindrom kelumpuhan flaksid akut yang diperantarai neurotoksin botulinum dari Clostridium botulinum, bekerja pada sambungan neuromuskular perifer sehingga menghambat pelepasan asetilkolin.1,9

Epidemiologi. Botulisme jarang namun tersebar di seluruh dunia dalam bentuk botulisme makanan (akibat toksin praformasi pada makanan kaleng/fermentasi yang tidak diproses adekuat), botulisme luka (terutama pada pengguna napza suntik), dan botulisme infan (kolonisasi usus bayi oleh spora, umumnya terkait konsumsi madu).9

Etiologi dan Patogenesis. Toksin botulinum menghambat pelepasan asetilkolin presinaptik pada sambungan neuromuskular, menyebabkan kelumpuhan flaksid desendens simetris tanpa mempengaruhi kesadaran maupun sensorik, berbeda mencolok dengan tetanus yang justru menimbulkan hiperaktivitas motorik.1,9

Manifestasi Klinis. Gejala klasik berupa diplopia, ptosis, disartria, disfagia (bulbar palsy) yang berkembang desendens ke otot leher, ekstremitas, dan akhirnya otot pernapasan, disertai mulut kering dan pupil dilatasi akibat efek otonom antikolinergik toksin.1,9

Pendekatan Diagnostik. Diagnosis terutama klinis, dikonfirmasi dengan deteksi toksin pada serum, feses, atau sisa makanan melalui mouse bioassay atau PCR di laboratorium rujukan; elektromiografi menunjukkan pola khas (facilitation pada stimulasi repetitif frekuensi tinggi) yang membantu diagnosis banding dengan Guillain–Barré Syndrome dan Myasthenia Gravis.1,9

Tata Laksana. Antitoksin botulinum ekuin heptavalen diberikan sesegera mungkin setelah kecurigaan klinis tanpa menunggu konfirmasi laboratorium, karena hanya menetralisasi toksin bebas yang belum terikat reseptor.9 Perawatan suportif intensif termasuk ventilasi mekanik pada gagal napas merupakan tulang punggung tata laksana, dengan pemulihan yang dapat memerlukan waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan seiring regenerasi ujung saraf.1,9

Komplikasi. Gagal napas akibat kelumpuhan otot pernapasan merupakan penyebab utama kematian bila tidak ditangani dengan ventilasi mekanik tepat waktu; pemulihan fungsi motorik dapat berlangsung lama.1

Pencegahan. Pengolahan makanan kaleng/fermentasi yang benar (pemanasan adekuat menginaktivasi toksin), penghindaran madu pada bayi <12 bulan, dan kewaspadaan pada pengguna napza suntik terhadap risiko botulisme luka.9

Tabel 3.2 Perbandingan Ciri Klinis Botulisme, Tetanus, dan Guillain–Barré Syndrome
CiriBotulismeTetanusGuillain–Barré
Pola kelumpuhanFlaksid, desendensSpastik/rigidFlaksid, asendens
KesadaranNormalNormalNormal
Reflek tendonMenurun/hilangMeningkatMenurun/hilang
MekanismeBlok asetilkolin presinaptikBlok GABA/glisin SSPAutoimun demielinisasi
Poin Penting
  • Kelumpuhan bersifat desendens, simetris, tanpa gangguan kesadaran/sensorik — pola khas membedakan dari Guillain–Barré (asendens).
  • Antitoksin diberikan berdasarkan kecurigaan klinis, tidak menunggu konfirmasi laboratorium.
  • Hindari pemberian madu pada bayi di bawah 12 bulan untuk mencegah botulisme infan.

3.3 Antraks

Tingkat Kompetensi: 4 — Mendiagnosis dan menatalaksana secara mandiri dan tuntas (mengacu Definisi Tingkat Kompetensi KKI 2019)

Definisi. Antraks adalah penyakit zoonotik akut yang disebabkan oleh Bacillus anthracis, bakteri Gram positif pembentuk spora, bermanifestasi dalam bentuk kutan, inhalasi, gastrointestinal, dan meningitis, dengan bentuk kutan sebagai yang paling umum secara global.1,7

Epidemiologi. Antraks bersifat zoonotik terkait paparan hewan ternak (sapi, kambing, domba) atau produk hewan terkontaminasi spora; kasus manusia umumnya sporadis di area peternakan tradisional, sementara bentuk inhalasi mendapat perhatian khusus sebagai potensi agen bioterorisme.7

Etiologi dan Patogenesis. Spora B. anthracis yang masuk melalui kulit, inhalasi, atau ingesti berkecambah menjadi bentuk vegetatif yang memproduksi toksin letal dan toksin edema (kompleks protective antigen, lethal factor, edema factor), menimbulkan nekrosis jaringan lokal (kutan), perdarahan dan edema mediastinum masif (inhalasi), atau lesi ulseratif saluran cerna dengan sepsis berat (gastrointestinal).1,7

Manifestasi Klinis. Antraks kutan bermanifestasi papul gatal tak nyeri yang berkembang menjadi vesikel dan eskar hitam nekrotik (black eschar) dengan edema periesional luas; antraks inhalasi menimbulkan gejala prodromal mirip flu yang cepat memburuk menjadi distres napas berat, mediastinitis hemoragik, dan syok; antraks gastrointestinal menimbulkan nyeri perut hebat, hematemesis, dan asites hemoragik.1,7

Pendekatan Diagnostik. Diagnosis ditegakkan melalui kultur darah/lesi (Gram positif berbentuk batang besar dengan rantai — "boxcar-shaped"), deteksi toksin, atau PCR; foto toraks/CT pada antraks inhalasi khas menunjukkan pelebaran mediastinum tanpa infiltrat paru yang jelas.1,7

Tata Laksana. Antraks sistemik (inhalasi, gastrointestinal, meningitis) memerlukan kombinasi antibiotik bakterisidal (siprofloksasin atau meropenem) dan protein-synthesis-inhibitor (linezolid atau klindamisin) ditambah antitoksin monoklonal (raxibacumab atau obiltoxaximab) bila tersedia; antraks kutan tanpa keterlibatan sistemik cukup diterapi antibiotik oral tunggal (siprofloksasin atau doksisiklin) selama 7–10 hari, diperpanjang 60 hari bila terdapat kecurigaan paparan aerosol/bioterorisme.7

Komplikasi. Sepsis berat, syok, meningitis hemoragik, dan mediastinitis merupakan komplikasi mengancam nyawa terutama pada bentuk inhalasi dan gastrointestinal yang memiliki mortalitas tinggi meski dengan terapi optimal.1,7

Pencegahan. Vaksinasi hewan ternak, kewaspadaan pada pekerja yang menangani produk hewan (penyamak kulit, peternak), serta profilaksis pasca-pajanan dengan antibiotik dan vaksin pada kecurigaan pajanan bioterorisme.7

Tabel 3.3 Bentuk Klinis Antraks dan Prinsip Terapi
BentukTanda KhasTerapi Utama
Kutan tanpa komplikasiEskar hitam, edema lokalSiprofloksasin/doksisiklin oral 7–10 hari
InhalasiMediastinum lebar, distres napasKombinasi IV + antitoksin, ICU
GastrointestinalNyeri perut hebat, asites hemoragikKombinasi IV + antitoksin, suportif agresif
MeningitisPerdarahan LCS, penurunan kesadaranKombinasi IV dosis tinggi + antitoksin
Poin Penting
  • Eskar hitam tak nyeri dengan edema luas adalah tanda khas antraks kutan.
  • Pelebaran mediastinum tanpa infiltrat paru pada foto toraks mengarahkan kecurigaan antraks inhalasi.
  • Terapi sistemik memerlukan kombinasi bakterisidal + protein-synthesis-inhibitor ± antitoksin.
BAB IV

INFEKSI BAKTERI SALURAN CERNA

Bab ini membahas empat penyakit infeksi bakterial dengan portal masuk atau keterlibatan utama saluran cerna yang tetap relevan secara epidemiologis di Indonesia dan kawasan tropis: disentri basiler, kolera, bruselosis, dan penyakit pes. Meskipun berbeda etiologi dan mekanisme, keempatnya menuntut kewaspadaan klinis tinggi karena potensi wabah (outbreak) dan keparahan yang dapat terjadi cepat bila penanganan awal tertunda.

4.1 Disentri Basiler

Tingkat Kompetensi: 4 — Mendiagnosis dan menatalaksana secara mandiri dan tuntas (mengacu Definisi Tingkat Kompetensi KKI 2019)

Definisi. Disentri basiler adalah sindrom diare inflamatorik akut dengan darah dan mukus pada tinja (bloody diarrhea), paling sering disebabkan oleh Shigella spp., ditandai nyeri kram abdomen, tenesmus, dan demam.1,2

Epidemiologi. Shigella spp. menyebar melalui rute fekal-oral dengan dosis infeksius sangat rendah (10–100 organisme), menjadikannya sangat kontagius pada kondisi sanitasi buruk dan padat penduduk, dengan Shigella flexneri dominan di negara berkembang dan Shigella sonnei lebih sering di negara maju.2

Etiologi dan Patogenesis. Shigella menginvasi sel epitel kolon melalui sel M, bereplikasi intraseluler, dan menyebar antarsel menimbulkan nekrosis mukosa dan reaksi inflamasi neutrofilik hebat; galur tertentu memproduksi toksin Shiga yang dapat menimbulkan komplikasi sindrom hemolitik-uremik.1,2

Manifestasi Klinis. Diare berdarah-berlendir frekuen dalam volume kecil disertai tenesmus, kram abdomen hebat, dan demam tinggi; pada anak dapat disertai kejang demam akibat neurotoksin Shiga meski tanpa hipoglikemia atau gangguan elektrolit berat.1,2

Pendekatan Diagnostik. Kultur tinja dengan media selektif (mis. Xylose Lysine Deoxycholate/XLD, MacConkey) merupakan baku diagnostik, dilengkapi pemeriksaan mikroskopis tinja yang menunjukkan leukosit dan eritrosit; PCR multipleks panel gastrointestinal mempercepat identifikasi pada fasilitas yang tersedia.1

Tata Laksana. Antibiotik empiris dipertimbangkan pada kasus sedang-berat atau pasien risiko tinggi (imunokompromais, usia ekstrem) menggunakan siprofloksasin atau azitromisin, disesuaikan pola resistensi lokal yang cenderung meningkat pada golongan fluorokuinolon; rehidrasi oral/intravena tetap menjadi tata laksana suportif utama.1,2 Antimotilitas (loperamid) sebaiknya dihindari karena berisiko memperpanjang durasi gejala dan komplikasi toksik megakolon.

Komplikasi. Sindrom hemolitik-uremik (terkait galur toksigenik), megakolon toksik, prolaps rektum pada anak, dan bakteremia pada pasien imunokompromais merupakan komplikasi yang perlu diwaspadai.1

Pencegahan. Sanitasi air dan makanan, cuci tangan dengan sabun, serta isolasi kontak pada wabah institusional (panti, barak pengungsian) menjadi strategi pencegahan utama.2

Tabel 4.1 Diagnosis Banding Diare Inflamatorik Bakterial
PatogenCiri TinjaTerapi Antibiotik Lini Pertama
Shigella spp.Berdarah-berlendir, tenesmusAzitromisin atau siprofloksasin
Salmonella non-tifoidCair-berlendir, jarang berdarahUmumnya suportif, antibiotik pada risiko tinggi
Campylobacter spp.Berdarah, nyeri kram hebatAzitromisin
Poin Penting
  • Hindari antimotilitas pada diare berdarah karena risiko memperberat toksisitas sistemik.
  • Dosis infeksius Shigella sangat rendah — sangat kontagius pada kepadatan penduduk tinggi.
  • Pertimbangkan sindrom hemolitik-uremik pada anak dengan disentri berat disertai penurunan produksi urin.

4.2 Kolera

Tingkat Kompetensi: 4 — Mendiagnosis dan menatalaksana secara mandiri dan tuntas (mengacu Definisi Tingkat Kompetensi KKI 2019)

Definisi. Kolera adalah penyakit diare sekretorik akut berat yang disebabkan oleh Vibrio cholerae toksigenik (serogrup O1/O139), ditandai diare cair masif ("rice-water stool") yang dapat menyebabkan dehidrasi berat dan kematian dalam hitungan jam bila tidak ditangani.1,6

Epidemiologi. Kolera tetap menjadi masalah kesehatan masyarakat global dengan estimasi 1,3–4 juta kasus dan puluhan ribu kematian per tahun, terkonsentrasi di area dengan akses air bersih dan sanitasi terbatas, sering muncul sebagai wabah pasca-bencana atau pada situasi pengungsian.6

Etiologi dan Patogenesis. V. cholerae yang bertahan melewati asam lambung berkolonisasi di usus halus dan memproduksi toksin kolera yang mengaktifkan adenilat siklase sel epitel usus secara ireversibel, menyebabkan sekresi klorida dan air masif ke lumen usus tanpa disertai kerusakan struktural mukosa yang signifikan.1,2

Manifestasi Klinis. Diare cair profus mendadak menyerupai air cucian beras, tanpa nyeri kram signifikan, disertai muntah, dan progresi cepat menuju dehidrasi berat (mata cekung, turgor kulit menurun, oliguria, syok hipovolemik) dalam hitungan jam.1,6

Pendekatan Diagnostik. Diagnosis pada situasi wabah umumnya klinis berdasarkan gambaran khas dan konteks epidemiologis; konfirmasi laboratorium melalui kultur tinja pada media TCBS (Thiosulfate-Citrate-Bile Salts-Sucrose) atau rapid diagnostic test dilakukan untuk verifikasi dan surveilans strain.1,6

Tata Laksana. Rehidrasi agresif merupakan tata laksana utama dan penyelamat nyawa — cairan intravena Ringer Laktat pada dehidrasi berat diikuti oralit (larutan rehidrasi oral) formula rendah osmolaritas, dengan kebutuhan cairan dapat mencapai 10% berat badan dalam beberapa jam pertama.1,6 Antibiotik (doksisiklin dosis tunggal atau azitromisin) mempersingkat durasi diare dan mengurangi volume kehilangan cairan, meski bukan pengganti rehidrasi.1,2

Komplikasi. Syok hipovolemik, gagal ginjal akut prerenal, hipoglikemia (terutama anak), dan kematian dapat terjadi dalam hitungan jam bila rehidrasi tertunda.1,6

Pencegahan. Akses air bersih dan sanitasi merupakan strategi pencegahan primer; vaksin kolera oral memberikan proteksi tambahan pada situasi wabah/risiko tinggi, digunakan sebagai pelengkap bukan pengganti perbaikan WASH (water, sanitation, hygiene).6

Tabel 4.2 Klasifikasi Derajat Dehidrasi pada Kolera dan Tata Laksana Cairan
Derajat DehidrasiTanda KlinisTata Laksana Cairan
Tanpa dehidrasiKlinis normalOralit sesuai kebutuhan setelah tiap BAB
Dehidrasi ringan-sedangHaus, mata sedikit cekung, turgor menurunOralit 75 mL/kgBB dalam 4 jam
Dehidrasi beratLetargi, mata sangat cekung, syokRL IV 100 mL/kgBB bertahap + oralit
Poin Penting
  • Rehidrasi adalah tata laksana yang menyelamatkan nyawa — jangan menunda demi menunggu konfirmasi laboratorium.
  • Kebutuhan cairan dapat mencapai 10% berat badan dalam beberapa jam pertama pada dehidrasi berat.
  • Antibiotik mengurangi durasi dan volume diare namun bukan pengganti rehidrasi.

4.3 Bruselosis

Tingkat Kompetensi: 4 — Mendiagnosis dan menatalaksana secara mandiri dan tuntas (mengacu Definisi Tingkat Kompetensi KKI 2019)

Definisi. Bruselosis adalah zoonosis sistemik kronik-relaps yang disebabkan oleh bakteri Gram negatif intraseluler fakultatif genus Brucella, ditularkan melalui kontak dengan hewan ternak terinfeksi atau produk susu tidak dipasteurisasi.1,2,11

Epidemiologi. Bruselosis endemis di area peternakan dengan praktik pasteurisasi belum optimal, terutama Timur Tengah, Mediterania, dan sebagian Asia; kelompok berisiko meliputi peternak, dokter hewan, dan pekerja rumah potong hewan.11

Etiologi dan Patogenesis. Brucella spp. yang masuk melalui mukosa, kulit terluka, atau ingesti produk susu terkontaminasi difagositosis makrofag namun mampu bertahan hidup intraseluler, menyebar hematogen ke sistem retikuloendotelial (hati, limpa, sumsum tulang, kelenjar getah bening) membentuk granuloma dan menimbulkan penyakit sistemik kronik-relaps yang khas.1,2

Manifestasi Klinis. Gejala klasik berupa demam undulan (undulant fever) berulang, keringat malam berbau khas, artralgia/mialgia, hepatosplenomegali, dan limfadenopati; komplikasi fokal dapat meliputi spondilitis, sakroiliitis, orkiepididimitis, dan endokarditis pada kasus lanjut.1,2

Pendekatan Diagnostik. Kultur darah memerlukan media dan inkubasi diperpanjang (hingga 4 minggu) karena sifat fastidious bakteri; uji serologis aglutinasi standar (Standard Agglutination Test) dan PCR memberikan konfirmasi lebih cepat pada praktik klinis rutin.1,11

Tata Laksana. Terapi kombinasi jangka panjang diperlukan untuk mencegah relaps: doksisiklin 100 mg dua kali sehari selama 6 minggu dikombinasikan streptomisin/gentamisin selama 2–3 minggu pertama, atau alternatif doksisiklin plus rifampisin selama 6 minggu pada kasus tanpa akses aminoglikosida; kasus dengan keterlibatan fokal (spondilitis, endokarditis) memerlukan perpanjangan durasi hingga berbulan-bulan.1,2

Komplikasi. Spondilitis brucella, endokarditis (penyebab mortalitas tersering), neurobruselosis, dan orkiepididimitis merupakan komplikasi fokal yang memerlukan terapi diperpanjang dan pemantauan ketat.1,2

Pencegahan. Pasteurisasi susu dan produk olahannya, vaksinasi ternak, serta penggunaan alat pelindung diri pada pekerja peternakan/rumah potong hewan merupakan strategi pencegahan utama.11

Tabel 4.3 Regimen Terapi Bruselosis Dewasa Non-Hamil
RegimenKomponenDurasi
Lini pertamaDoksisiklin + streptomisin/gentamisinDoksisiklin 6 minggu, aminoglikosida 2–3 minggu
AlternatifDoksisiklin + rifampisin6 minggu
Keterlibatan fokal beratKombinasi tiga obatDiperpanjang hingga beberapa bulan
Poin Penting
  • Demam undulan berulang dengan keringat malam berbau khas mengarahkan kecurigaan bruselosis.
  • Kultur darah memerlukan inkubasi diperpanjang — informasikan laboratorium bila dicurigai bruselosis.
  • Terapi kombinasi jangka panjang wajib untuk mencegah relaps.

4.4 Penyakit Pes (Plague)

Tingkat Kompetensi: 4 — Mendiagnosis dan menatalaksana secara mandiri dan tuntas (mengacu Definisi Tingkat Kompetensi KKI 2019)

Definisi. Penyakit pes adalah infeksi zoonotik akut berat yang disebabkan oleh Yersinia pestis, bermanifestasi dalam bentuk bubonik, septikemik, dan pneumonik, ditularkan melalui gigitan pinjal tikus atau paparan droplet pada bentuk pneumonik.1,10

Epidemiologi. Pes tetap endemis fokal di beberapa wilayah dunia termasuk kantong endemis di Indonesia (dataran tinggi Boyolali-Jawa Tengah secara historis), dengan risiko wabah pada kondisi infestasi tikus dan pinjal yang tidak terkendali.10

Etiologi dan Patogenesis. Y. pestis yang masuk melalui gigitan pinjal bermigrasi ke kelenjar getah bening regional menimbulkan limfadenitis nekrotik-hemoragik (bubo) pada bentuk bubonik; penyebaran hematogen sekunder menimbulkan bentuk septikemik, sedangkan inhalasi droplet infeksius langsung menimbulkan pneumonia primer yang sangat kontagius antarmanusia.1,10

Manifestasi Klinis. Bentuk bubonik ditandai demam tinggi mendadak disertai limfadenopati regional yang sangat nyeri (bubo) di area inguinal, aksila, atau servikal; bentuk septikemik menimbulkan sepsis berat dengan koagulasi intravaskular diseminata dan nekrosis akral (menjadi asal istilah "black death"); bentuk pneumonik menimbulkan pneumonia fulminan dengan hemoptisis dan kegagalan napas cepat.1,10

Pendekatan Diagnostik. Diagnosis ditegakkan melalui pewarnaan Gram/Wayson pada aspirat bubo yang menunjukkan basil bipolar khas ("safety pin appearance"), dikonfirmasi kultur dan PCR; kecurigaan klinis pada area endemis dengan riwayat paparan tikus/pinjal harus segera memicu isolasi dan notifikasi kesehatan masyarakat.1,10

Tata Laksana. Streptomisin atau gentamisin intramuskular/intravena merupakan terapi lini pertama, dengan doksisiklin atau siprofloksasin sebagai alternatif; bentuk pneumonik memerlukan isolasi droplet ketat selama minimal 48 jam terapi antibiotik efektif mengingat penularan antarmanusia yang tinggi.1,10

Komplikasi. Syok septik, koagulasi intravaskular diseminata, gagal napas pada bentuk pneumonik, dan kematian cepat (dalam 24–48 jam) bila terapi tertunda menjadikan pes salah satu infeksi bakterial paling mematikan tanpa terapi.1,10

Pencegahan. Pengendalian populasi tikus dan pinjal, penggunaan insektisida pada wabah, profilaksis pasca-pajanan dengan doksisiklin pada kontak erat kasus pneumonik, serta notifikasi dan investigasi epidemiologis segera pada kasus terkonfirmasi.10

Tabel 4.4 Bentuk Klinis Pes dan Karakteristik Kunci
BentukTanda KunciPenularan Antarmanusia
BubonikLimfadenopati nyeri (bubo)Tidak langsung
SeptikemikSepsis berat, nekrosis akral, KIDTidak langsung
PneumonikPneumonia fulminan, hemoptisisTinggi (droplet)
Poin Penting
  • Bubo yang sangat nyeri pada area endemis dengan riwayat paparan tikus/pinjal adalah tanda alarm.
  • Bentuk pneumonik sangat kontagius antarmanusia — wajib isolasi droplet segera.
  • Notifikasi kesehatan masyarakat wajib segera pada kecurigaan kasus karena potensi wabah.
BAB V

INFEKSI BAKTERI SISTEMIK BERAT

Sepsis, syok septik, bakteremia, dan endokarditis infektif merupakan sindrom infeksi bakterial sistemik berat yang menuntut pengenalan cepat dan tata laksana time-sensitive karena berkorelasi langsung dengan mortalitas. Bab ini menyarikan pendekatan berbasis bukti terkini — termasuk kerangka Surviving Sepsis Campaign 2021 dan kriteria Duke termodifikasi untuk endokarditis infektif — sebagai kompetensi inti Tingkat 4 subspesialis Penyakit Tropik dan Infeksi.

5.1 Sepsis dan Syok Septik

Tingkat Kompetensi: 4 — Mendiagnosis dan menatalaksana secara mandiri dan tuntas (mengacu Definisi Tingkat Kompetensi KKI 2019)

Definisi. Sepsis didefinisikan sebagai disfungsi organ yang mengancam nyawa akibat respons tubuh yang tidak teregulasi terhadap infeksi (Sepsis-3), dinilai dengan peningkatan skor Sequential Organ Failure Assessment (SOFA) ≥2 poin; syok septik adalah subset sepsis dengan disfungsi sirkulasi dan seluler/metabolik yang cukup berat sehingga secara substansial meningkatkan mortalitas, ditandai kebutuhan vasopresor untuk mempertahankan tekanan arteri rerata ≥65 mmHg disertai laktat serum >2 mmol/L meski resusitasi cairan adekuat.1,12

Epidemiologi. Sepsis merupakan penyebab kematian terkait infeksi tersering di rumah sakit di seluruh dunia, dengan beban terbesar di negara berpenghasilan rendah-menengah, dan menjadi salah satu penyebab utama kematian yang berpotensi dicegah melalui deteksi dan tata laksana dini.12

Etiologi dan Patogenesis. Infeksi memicu pelepasan mediator inflamasi (sitokin proinflamasi dan antiinflamasi) yang tidak terkontrol, menyebabkan disfungsi endotel, koagulopati, vasodilatasi patologis, dan gangguan mikrosirkulasi yang berujung pada hipoperfusi jaringan dan disfungsi organ multipel meski sumber infeksi primer dapat berasal dari berbagai organ (paru, saluran kemih, abdomen, kulit, atau bakteremia primer).1,12

Manifestasi Klinis. Manifestasi bervariasi luas tergantung sumber infeksi primer, namun tanda umum meliputi demam atau hipotermia, takikardia, takipnea, perubahan status mental, oliguria, dan pada syok septik disertai hipotensi refrakter terhadap resusitasi cairan awal.1,12 Skrining cepat menggunakan quick SOFA (perubahan status mental, frekuensi napas ≥22/menit, tekanan darah sistolik ≤100 mmHg) membantu identifikasi pasien berisiko tinggi di luar unit perawatan intensif.

Pendekatan Diagnostik. Evaluasi mencakup identifikasi sumber infeksi (pemeriksaan fisik menyeluruh, pencitraan sesuai kecurigaan klinis), kultur darah dan kultur dari sumber dugaan sebelum inisiasi antibiotik bila tidak menunda terapi >45 menit, kadar laktat serum, dan penilaian fungsi organ (kreatinin, bilirubin, jumlah trombosit, koagulasi).1,12

Tata Laksana. Bundel resusitasi jam pertama (Hour-1 Bundle) menekankan pengukuran laktat, kultur darah sebelum antibiotik, pemberian antibiotik spektrum luas empiris dalam 1 jam, resusitasi cairan kristaloid 30 mL/kgBB pada hipotensi/laktat ≥4 mmol/L, dan inisiasi vasopresor (norepinefrin lini pertama) bila hipotensi menetap untuk mencapai target MAP ≥65 mmHg.12 Kontrol sumber infeksi (drainase abses, debridemen, pelepasan kateter terinfeksi) dilakukan sesegera mungkin secara medis dan logistik memungkinkan, sejalan dengan prinsip source control yang menjadi rekomendasi praktik terbaik.12

Komplikasi. Gagal organ multipel (ginjal, hati, koagulasi, respirasi), acute respiratory distress syndrome, koagulasi intravaskular diseminata, dan post-sepsis syndrome (gangguan kognitif dan fungsional jangka panjang pada penyintas) merupakan komplikasi utama yang memengaruhi luaran jangka pendek maupun panjang.12

Pencegahan. Pencegahan berfokus pada pengendalian infeksi nosokomial, vaksinasi terhadap patogen umum penyebab sepsis komunitas (pneumokokus, influenza), serta deteksi dan tata laksana dini infeksi lokal sebelum berkembang menjadi sepsis sistemik.12

Tabel 5.1 Ringkasan Hour-1 Bundle Surviving Sepsis Campaign 2021
KomponenTarget WaktuTindakan
Pengukuran laktatSegeraUlang bila awal >2 mmol/L
Kultur darahSebelum antibiotikTanpa menunda antibiotik >45 menit
Antibiotik empiris≤1 jamSpektrum luas sesuai sumber dugaan
Resusitasi cairanSegera30 mL/kgBB kristaloid bila hipotensi/laktat ≥4
VasopresorBila hipotensi menetapNorepinefrin, target MAP ≥65 mmHg
Poin Penting
  • Antibiotik empiris spektrum luas harus diberikan dalam 1 jam sejak kecurigaan sepsis/syok septik.
  • Norepinefrin adalah vasopresor lini pertama pada syok septik yang tidak respons resusitasi cairan.
  • Kontrol sumber infeksi sama pentingnya dengan antibiotik dan resusitasi cairan.

5.2 Bakteremia dan Endokarditis Infektif

Tingkat Kompetensi: 4 — Mendiagnosis dan menatalaksana secara mandiri dan tuntas (mengacu Definisi Tingkat Kompetensi KKI 2019)

Definisi. Bakteremia adalah keberadaan bakteri viabel dalam aliran darah yang dibuktikan kultur darah positif; endokarditis infektif (EI) adalah infeksi endokardium, tersering mengenai katup jantung (native atau prostetik), ditandai pembentukan vegetasi yang mengandung mikroorganisme, fibrin, dan sel inflamasi.1,13

Epidemiologi. EI lebih sering terjadi pada individu dengan kelainan katup struktural, katup prostetik, riwayat EI sebelumnya, penyakit jantung kongenital, atau pengguna napza suntik (predisposisi EI katup trikuspid); Staphylococcus aureus kini menjadi patogen tersering di negara maju, menggantikan streptokokus viridans yang dominan pada era pra-antibiotik.13

Etiologi dan Patogenesis. Bakteremia transien (dari prosedur gigi, infeksi kulit, atau kateter intravaskular) pada individu dengan endotel katup yang rusak/abnormal memungkinkan perlekatan bakteri pada trombus fibrin-platelet steril (nonbacterial thrombotic endocarditis), yang kemudian berkembang menjadi vegetasi infeksius aktif yang terus melepaskan bakteri ke sirkulasi sistemik dan berpotensi menimbulkan emboli septik ke organ jauh.1,13

Manifestasi Klinis. Gejala klasik meliputi demam persisten, murmur jantung baru atau berubah, serta manifestasi imunologis/embolik seperti Janeway lesions (makula eritematosa telapak tangan/kaki tak nyeri), Osler nodes (nodul subkutan nyeri di ujung jari), Roth spots (perdarahan retina dengan pusat pucat), dan splinter hemorrhages pada kuku.1,13

Pendekatan Diagnostik. Kriteria Duke termodifikasi mengintegrasikan kriteria mayor (kultur darah positif persisten dengan organisme tipikal EI, bukti keterlibatan endokardium pada ekokardiografi) dan minor (predisposisi, demam, fenomena vaskular/imunologis) untuk klasifikasi EI definitif, mungkin, atau disingkirkan; ekokardiografi transesofageal memiliki sensitivitas lebih tinggi dibanding transtorakal terutama pada katup prostetik.13

Tata Laksana. Terapi antibiotik bakterisidal intravena jangka panjang (4–6 minggu) disesuaikan organisme dan hasil kepekaan — regimen empiris awal umumnya mencakup vankomisin (untuk cakupan stafilokokus resisten metisilin) dikombinasi gentamisin dosis rendah pada kasus tertentu; indikasi bedah katup meliputi gagal jantung refrakter, infeksi tak terkendali meski antibiotik adekuat, vegetasi besar berisiko emboli tinggi, dan abses perianular.13

Komplikasi. Gagal jantung akut akibat kerusakan katup, emboli septik sistemik (stroke, infark limpa/ginjal), abses perianular/miokard, dan aneurisma mikotik merupakan komplikasi mayor yang memengaruhi keputusan bedah dan prognosis.13

Pencegahan. Profilaksis antibiotik sebelum prosedur gigi berisiko tinggi hanya direkomendasikan pada kelompok risiko tertinggi (katup prostetik, riwayat EI sebelumnya, penyakit jantung kongenital sianotik tak terkoreksi); higiene oral yang baik merupakan strategi pencegahan yang berlaku universal.13

Tabel 5.2 Ringkasan Kriteria Duke Termodifikasi untuk Endokarditis Infektif
KategoriKriteria MayorKriteria Minor
MikrobiologiKultur darah positif persisten organisme tipikal EIKultur darah positif tidak memenuhi kriteria mayor
Keterlibatan endokardiumVegetasi/abses pada ekokardiografi
KlinisPredisposisi, demam ≥38°C, fenomena vaskular, fenomena imunologis
Poin Penting
  • Kriteria Duke termodifikasi mengintegrasikan temuan mikrobiologis, ekokardiografi, dan klinis untuk diagnosis EI.
  • Staphylococcus aureus kini menjadi penyebab EI tersering, khususnya terkait kateter dan penggunaan napza suntik.
  • Indikasi bedah katup harus dievaluasi dini pada gagal jantung refrakter atau vegetasi besar berisiko emboli tinggi.
BAB VI

INFEKSI BAKTERI ORGAN SPESIFIK

Bab ini membahas tujuh sindrom infeksi bakterial yang mengenai organ atau sistem tubuh spesifik: sistem saraf pusat, paru, saluran kemih, kulit dan jaringan lunak, rongga intraabdomen, tulang-sendi, serta tiroid dan kelenjar ludah. Setiap subbab menyajikan kerangka pendekatan diagnostik-terapeutik yang berbeda menurut karakteristik organ terkena, namun tetap mengacu pada prinsip umum penggunaan antibiotik rasional dan kontrol sumber infeksi yang telah dibahas pada bab-bab sebelumnya.

6.1 Meningitis Bakterial

Tingkat Kompetensi: 4 — Mendiagnosis dan menatalaksana secara mandiri dan tuntas (mengacu Definisi Tingkat Kompetensi KKI 2019)

Definisi. Meningitis bakterial adalah infeksi bakterial pada selaput meningen (araknoid dan piamater) beserta cairan serebrospinal (LCS), merupakan kegawatdaruratan neurologis dengan mortalitas dan morbiditas neurologis tinggi bila tata laksana tertunda.1,14

Epidemiologi. Streptococcus pneumoniae dan Neisseria meningitidis merupakan penyebab tersering meningitis bakterial komunitas pada dewasa, sedangkan Listeria monocytogenes perlu dipertimbangkan pada usia lanjut, imunokompromais, dan kehamilan; meningitis nosokomial pasca-bedah saraf umumnya disebabkan basil Gram negatif dan stafilokokus.14

Etiologi dan Patogenesis. Kolonisasi nasofaring diikuti invasi mukosa dan bakteremia memungkinkan penetrasi sawar darah-otak (rute hematogen), atau penyebaran perkontinuitatum dari fokus infeksi berdekatan (sinusitis, otitis, fraktur basis kranii); respons inflamasi hebat pada ruang subaraknoid menimbulkan edema serebri, peningkatan tekanan intrakranial, dan gangguan aliran darah otak yang mendasari kerusakan neurologis.1,14

Manifestasi Klinis. Trias klasik demam, kaku kuduk, dan penurunan kesadaran hanya dijumpai pada sebagian kasus; tanda rangsang meningeal (Kernig, Brudzinski), fotofobia, nyeri kepala hebat, dan pada kasus meningokokus dapat disertai ruam petekie/purpura yang progresif cepat menandakan meningokoksemia fulminan.1,14

Pendekatan Diagnostik. Pungsi lumbal dengan analisis LCS (jumlah sel, glukosa, protein, pewarnaan Gram, dan kultur) merupakan pemeriksaan kunci, didahului CT-scan kepala bila terdapat tanda peningkatan tekanan intrakranial, defisit neurologis fokal, kejang, atau imunokompromais untuk menyingkirkan risiko herniasi; PCR LCS multipleks mempercepat identifikasi patogen pada fasilitas yang tersedia.14

Tata Laksana. Antibiotik empiris harus diberikan sesegera mungkin tanpa menunggu hasil pencitraan/pungsi lumbal bila terdapat kecurigaan klinis kuat — regimen empiris dewasa umumnya seftriakson/sefotaksim dosis tinggi dikombinasi vankomisin (cakupan pneumokokus resisten) ditambah ampisilin bila dicurigai Listeria (usia >50 tahun atau imunokompromais); deksametason adjuvan diberikan bersamaan atau sebelum dosis antibiotik pertama untuk mengurangi risiko gangguan pendengaran pada meningitis pneumokokus.14

Komplikasi. Gangguan pendengaran sensorineural, defisit neurologis fokal, hidrosefalus, kejang, dan sindrom inappropriate antidiuretic hormone (SIADH) merupakan komplikasi jangka pendek dan panjang yang dapat menetap meski pasien bertahan hidup.14

Pencegahan. Vaksinasi terhadap S. pneumoniae, N. meningitidis, dan Haemophilus influenzae tipe b merupakan strategi pencegahan primer, disertai kemoprofilaksis (rifampisin/siprofloksasin) pada kontak erat kasus meningitis meningokokus.14

Tabel 6.1 Regimen Antibiotik Empiris Meningitis Bakterial Dewasa
Kelompok Usia/Faktor RisikoPatogen DominanRegimen Empiris
Dewasa muda imunokompetenPneumokokus, meningokokusSeftriakson + vankomisin
Usia >50 tahun/imunokompromais+ Listeria monocytogenesSeftriakson + vankomisin + ampisilin
Pasca-bedah saraf/nosokomialGram negatif, stafilokokusMeropenem/sefepim + vankomisin
Poin Penting
  • Jangan menunda antibiotik empiris demi menunggu hasil CT-scan atau pungsi lumbal pada kecurigaan klinis kuat.
  • Deksametason diberikan bersamaan/sebelum dosis antibiotik pertama, bukan setelahnya.
  • Tambahkan ampisilin pada regimen empiris usia >50 tahun untuk cakupan Listeria.

6.2 Pneumonia Bakterial (CAP, HAP, VAP)

Tingkat Kompetensi: 4 — Mendiagnosis dan menatalaksana secara mandiri dan tuntas (mengacu Definisi Tingkat Kompetensi KKI 2019)

Definisi. Pneumonia bakterial adalah infeksi parenkim paru akut yang diklasifikasikan menjadi community-acquired pneumonia (CAP, terjadi di luar fasilitas kesehatan), hospital-acquired pneumonia (HAP, onset ≥48 jam setelah rawat inap), dan ventilator-associated pneumonia (VAP, terjadi ≥48 jam setelah intubasi), masing-masing dengan profil patogen dan pendekatan terapi berbeda.1,15,16

Epidemiologi. Streptococcus pneumoniae tetap menjadi penyebab tersering CAP secara global, sementara HAP/VAP didominasi patogen nosokomial termasuk Pseudomonas aeruginosa, Acinetobacter baumannii, dan Staphylococcus aureus resisten metisilin (MRSA), dengan risiko meningkat sesuai lama rawat dan paparan antibiotik sebelumnya.15,16

Etiologi dan Patogenesis. Aspirasi mikroorganisme dari orofaring atau inhalasi droplet infeksius menimbulkan kolonisasi dan invasi parenkim paru, memicu respons inflamasi alveolar (konsolidasi); pada VAP, selang endotrakeal mengganggu mekanisme pertahanan mukosiliar normal dan memfasilitasi biofilm bakteri yang sulit dieradikasi.1,16

Manifestasi Klinis. Demam, batuk produktif, sesak napas, nyeri dada pleuritik, dan pada auskultasi ditemukan ronki basah atau tanda konsolidasi; pasien usia lanjut dapat bermanifestasi atipikal berupa penurunan kesadaran atau perburukan status fungsional tanpa demam mencolok.1,15

Pendekatan Diagnostik. Foto toraks untuk konfirmasi infiltrat baru merupakan syarat diagnosis; skor keparahan seperti CURB-65 atau Pneumonia Severity Index membantu menentukan tempat perawatan (rawat jalan, rawat inap, ICU); kultur sputum/darah dan uji antigen urin (pneumokokus, Legionella) direkomendasikan pada kasus berat.15

Tata Laksana. Terapi empiris CAP rawat jalan tanpa komorbid menggunakan amoksisilin atau makrolid; CAP rawat inap non-ICU menggunakan beta-laktam dikombinasi makrolid atau fluorokuinolon respirasi tunggal; CAP berat/ICU memerlukan beta-laktam dikombinasi makrolid/fluorokuinolon ditambah cakupan MRSA/Pseudomonas bila terdapat faktor risiko.15 HAP/VAP memerlukan cakupan empiris luas terhadap Pseudomonas dan MRSA berdasarkan faktor risiko dan pola resistensi lokal, dengan de-eskalasi cepat setelah hasil kultur tersedia.16

Komplikasi. Efusi parapneumonik/empiema, abses paru, gagal napas, syok septik, dan acute respiratory distress syndrome merupakan komplikasi utama, dengan risiko lebih tinggi pada HAP/VAP akibat profil patogen yang lebih resisten.15,16

Pencegahan. Vaksinasi pneumokokus dan influenza, penghentian rokok, serta pada konteks nosokomial: elevasi kepala tempat tidur, higiene oral, dan protokol weaning ventilator dini untuk mengurangi risiko VAP.16

Tabel 6.2 Prinsip Terapi Empiris Pneumonia Bakterial Menurut Kategori
KategoriPatogen Utama DicakupRegimen Umum
CAP rawat jalanPneumokokus, atipikalAmoksisilin atau makrolid
CAP rawat inap non-ICU+ Gram negatif enterikBeta-laktam + makrolid/fluorokuinolon
CAP ICU/berat+ risiko MRSA/PseudomonasBeta-laktam + makrolid + cakupan tambahan bila risiko
HAP/VAPPseudomonas, Acinetobacter, MRSAKombinasi empiris luas, de-eskalasi cepat
Poin Penting
  • Skor CURB-65/PSI membantu triase tempat perawatan CAP secara objektif.
  • De-eskalasi terapi HAP/VAP secepat mungkin berdasarkan hasil kultur untuk mengurangi tekanan resistensi.
  • Curigai MRSA/Pseudomonas pada HAP/VAP dengan faktor risiko atau prevalensi lokal tinggi.

6.3 Infeksi Saluran Kemih Kompleks

Tingkat Kompetensi: 4 — Mendiagnosis dan menatalaksana secara mandiri dan tuntas (mengacu Definisi Tingkat Kompetensi KKI 2019)

Definisi. Infeksi saluran kemih (ISK) kompleks adalah ISK yang terjadi pada kondisi struktural, fungsional, atau metabolik abnormal saluran kemih (obstruksi, kateter menetap, batu, imunosupresi, kehamilan, diabetes) yang meningkatkan risiko kegagalan terapi standar dan komplikasi.1,17

Epidemiologi. ISK terkait kateter merupakan salah satu infeksi nosokomial tersering, sementara ISK kompleks komunitas lebih sering dijumpai pada pasien dengan urolitiasis, hipertrofi prostat, atau diabetes melitus tak terkontrol, dengan spektrum patogen yang lebih beragam dan cenderung resisten dibanding ISK sederhana.17

Etiologi dan Patogenesis. Faktor anatomis/fungsional yang mengganggu aliran urin normal (stasis, refluks, benda asing seperti kateter/batu) memfasilitasi kolonisasi dan pembentukan biofilm bakteri yang resisten terhadap mekanisme pertahanan pejamu dan penetrasi antibiotik, meningkatkan risiko infeksi berulang dan kegagalan terapi jangka pendek.1,17

Manifestasi Klinis. Gejala dapat bervariasi dari asimtomatik (bakteriuria) hingga sistitis kompleks (disuria, frekuensi, urgensi) dan pielonefritis kompleks (demam tinggi, nyeri pinggang, mual-muntah) yang berpotensi berkembang menjadi urosepsis pada obstruksi yang tidak diatasi.17

Pendekatan Diagnostik. Kultur urin dengan hitung koloni bermakna (≥10^5 CFU/mL pada spesimen porsi tengah, atau ≥10^3 CFU/mL pada kateter) wajib dilakukan pada seluruh ISK kompleks untuk memandu terapi definitif; pencitraan (USG atau CT) diindikasikan pada kecurigaan obstruksi, abses, atau kegagalan respons klinis dalam 48–72 jam.17

Tata Laksana. Terapi empiris awal mempertimbangkan pola resistensi lokal dan faktor risiko individual, umumnya menggunakan fluorokuinolon atau sefalosporin generasi ketiga pada kasus rawat inap, disesuaikan hasil kultur; kontrol sumber wajib dilakukan bersamaan — pelepasan/penggantian kateter terinfeksi, drainase obstruksi (stent ureter atau nefrostomi), dan pengangkatan batu bila menjadi fokus infeksi persisten.17,19

Komplikasi. Urosepsis, abses ginjal/perinefrik, pielonefritis emfisematosa (terutama pada diabetes tak terkontrol), dan gagal ginjal akut merupakan komplikasi serius yang memerlukan intervensi urologis segera.17

Pencegahan. Minimalisasi durasi pemasangan kateter urin, teknik aseptik pemasangan dan perawatan kateter, tata laksana adekuat batu saluran kemih dan obstruksi struktural, serta kontrol glikemik optimal pada pasien diabetes.17

Tabel 6.3 Faktor yang Mendefinisikan ISK sebagai "Kompleks"
Kategori FaktorContoh
StrukturalBatu, obstruksi, refluks vesikoureter, kateter menetap
FungsionalKandung kemih neurogenik
HostDiabetes tak terkontrol, imunosupresi, kehamilan, laki-laki
Poin Penting
  • Kontrol sumber (drainase obstruksi, pelepasan kateter) sama pentingnya dengan antibiotik pada ISK kompleks.
  • Kultur urin wajib pada seluruh ISK kompleks — jangan mengandalkan terapi empiris tanpa evaluasi mikrobiologis.
  • Waspadai pielonefritis emfisematosa pada pasien diabetes dengan perburukan klinis cepat.

6.4 Infeksi Kulit dan Jaringan Lunak Komplikata

Tingkat Kompetensi: 4 — Mendiagnosis dan menatalaksana secara mandiri dan tuntas (mengacu Definisi Tingkat Kompetensi KKI 2019)

Definisi. Infeksi kulit dan jaringan lunak komplikata (complicated skin and soft tissue infection/cSSTI) mencakup infeksi yang melibatkan lapisan lebih dalam (fasia, otot) atau memerlukan intervensi bedah signifikan, termasuk fasiitis nekrotikans, abses dalam, dan infeksi pada jaringan terganggu (luka diabetik, luka bakar, pasca-bedah).1,18

Epidemiologi. Staphylococcus aureus (termasuk MRSA komunitas) dan Streptococcus pyogenes merupakan patogen tersering, sedangkan fasiitis nekrotikans dapat bersifat monomikrobial (streptokokus grup A) atau polimikrobial (campuran aerob-anaerob), terutama pada pasien diabetes atau imunokompromais.18

Etiologi dan Patogenesis. Kerusakan barrier kulit (trauma, luka bedah, ulkus diabetik) memungkinkan invasi bakteri ke jaringan lebih dalam; pada fasiitis nekrotikans, toksin bakterial (eksotoksin streptokokus, alfa-toksin stafilokokus) memicu nekrosis fasia yang menyebar cepat sepanjang bidang fasia dengan trombosis pembuluh darah perforantes, menimbulkan iskemia dan nekrosis jaringan progresif.1,18

Manifestasi Klinis. Nyeri yang tidak proporsional terhadap temuan kulit awal merupakan tanda alarm fasiitis nekrotikans, diikuti edema tegang, bula hemoragik, krepitasi (bila terdapat gas), dan toksisitas sistemik berat yang berkembang cepat dalam hitungan jam; cSSTI lain menunjukkan eritema meluas, fluktuasi (abses), dan demam tinggi.1,18

Pendekatan Diagnostik. Diagnosis fasiitis nekrotikans terutama klinis dan tidak boleh menunggu konfirmasi pencitraan bila kecurigaan tinggi — eksplorasi bedah segera merupakan gold standard diagnostik sekaligus terapeutik; laboratorium (LRINEC score) dapat membantu namun tidak menggantikan penilaian klinis.18

Tata Laksana. Fasiitis nekrotikans memerlukan debridemen bedah emergensi dan agresif (sering berulang) sebagai tata laksana utama, dikombinasi antibiotik empiris spektrum luas mencakup Gram positif (termasuk MRSA), Gram negatif, dan anaerob (mis. vankomisin/linezolid + piperasilin-tazobaktam + klindamisin untuk efek antitoksin), sementara abses memerlukan insisi-drainase sebagai terapi utama dengan antibiotik sebagai tambahan.18

Komplikasi. Sepsis/syok septik, kehilangan jaringan/amputasi, sindrom syok toksik streptokokus, dan kematian (mortalitas fasiitis nekrotikans dapat mencapai 20–30% meski dengan tata laksana optimal) menjadikan pengenalan dini krusial.18

Pencegahan. Perawatan luka yang baik, kontrol glikemik pada diabetes, dan edukasi pasien mengenai tanda bahaya infeksi kulit yang memburuk cepat untuk mendorong pencarian pertolongan segera.18

Tabel 6.4 Diagnosis Banding Infeksi Kulit dan Jaringan Lunak Berdasarkan Kedalaman
JenisKedalamanTata Laksana Utama
Selulitis non-purulenDermis-subkutis superfisialAntibiotik oral/IV
AbsesKolokusi purulen fokalInsisi-drainase + antibiotik
Fasiitis nekrotikansFasia profunda ± ototDebridemen emergensi + antibiotik kombinasi
Poin Penting
  • Nyeri tak proporsional terhadap temuan kulit adalah tanda alarm fasiitis nekrotikans — jangan menunda konsultasi bedah.
  • Klindamisin ditambahkan pada regimen untuk efek supresi produksi toksin bakteri, bukan sekadar cakupan antibakteri.
  • Debridemen bedah adalah terapi utama fasiitis nekrotikans, bukan antibiotik semata.

6.5 Infeksi Intraabdomen Kompleks

Tingkat Kompetensi: 4 — Mendiagnosis dan menatalaksana secara mandiri dan tuntas (mengacu Definisi Tingkat Kompetensi KKI 2019)

Definisi. Infeksi intraabdomen kompleks (complicated intra-abdominal infection) adalah infeksi yang meluas melampaui organ asal ke rongga peritoneum, menimbulkan peritonitis lokal (abses) atau difus, umumnya memerlukan kontrol sumber melalui intervensi bedah atau radiologi intervensi selain antibiotik.1,19

Epidemiologi. Penyebab tersering meliputi apendisitis perforasi, perforasi divertikular, perforasi ulkus peptikum, kolesistitis gangrenosa, dan kebocoran anastomosis pasca-bedah, dengan risiko meningkat pada keterlambatan diagnosis dan komorbiditas yang mengaburkan gejala klasik (usia lanjut, diabetes, imunosupresi).19

Etiologi dan Patogenesis. Kebocoran isi saluran cerna (mengandung flora polimikrobial: Enterobacteriaceae, anaerob seperti Bacteroides fragilis, dan enterokokus) ke rongga peritoneum steril memicu respons inflamasi lokal hebat, pembentukan abses terlokalisasi bila mekanisme pertahanan tubuh (omentum, adhesi) berhasil membatasi penyebaran, atau peritonitis difus dan sepsis abdominal bila tidak terbendung.1,19

Manifestasi Klinis. Nyeri abdomen progresif, defans muskular, nyeri lepas (rebound tenderness), demam, dan tanda ileus (distensi, penurunan bising usus); pada abses terlokalisasi dapat ditemukan massa teraba dengan demam yang lebih indolen dibanding peritonitis difus akut.19

Pendekatan Diagnostik. CT-scan abdomen dengan kontras merupakan modalitas pencitraan pilihan untuk mengidentifikasi sumber, lokasi, dan luas infeksi, memandu keputusan drainase perkutan versus intervensi bedah terbuka; kultur cairan intraabdomen saat intervensi membantu penyesuaian terapi definitif.19

Tata Laksana. Kontrol sumber (drainase perkutan abses terlokalisasi atau intervensi bedah pada peritonitis difus/perforasi) merupakan komponen tata laksana yang tidak dapat digantikan antibiotik semata; antibiotik empiris harus mencakup Gram negatif enterik dan anaerob (mis. piperasilin-tazobaktam tunggal, atau kombinasi seftriakson-metronidazol pada infeksi ringan-sedang komunitas), durasi umumnya 4–7 hari pasca-kontrol sumber adekuat.19

Komplikasi. Sepsis abdominal, fistula enterokutan, abses residual/rekuren, dan sindrom kompartemen abdomen merupakan komplikasi yang memerlukan pemantauan pascaoperasi ketat.19

Pencegahan. Diagnosis dan tata laksana dini penyakit predisposisi (apendisitis, divertikulitis, kolesistitis) sebelum terjadi perforasi, serta teknik bedah yang cermat untuk meminimalkan risiko kebocoran anastomosis.19

Tabel 6.5 Prinsip Kontrol Sumber pada Infeksi Intraabdomen Kompleks
TemuanStrategi Kontrol Sumber
Abses terlokalisasi (<4–5 cm, dapat diakses)Drainase perkutan dipandu pencitraan
Peritonitis difus/perforasiEksplorasi bedah + lavase peritoneal
Kebocoran anastomosisReoperasi, drainase, atau stoma diversi sesuai kondisi
Poin Penting
  • Kontrol sumber (drainase/bedah) adalah komponen tata laksana wajib, bukan pilihan tambahan.
  • Durasi antibiotik pasca-kontrol sumber adekuat umumnya cukup 4–7 hari, tidak perlu diperpanjang tanpa indikasi.
  • CT-scan kontras adalah modalitas pencitraan pilihan untuk memandu strategi intervensi.

6.6 Infeksi Tulang dan Sendi

Tingkat Kompetensi: 4 — Mendiagnosis dan menatalaksana secara mandiri dan tuntas (mengacu Definisi Tingkat Kompetensi KKI 2019)

Definisi. Infeksi tulang dan sendi mencakup osteomielitis (infeksi tulang) dan artritis septik (infeksi ruang sendi), dapat terjadi melalui penyebaran hematogen, perkontinuitatum dari infeksi jaringan lunak berdekatan, atau inokulasi langsung (trauma, pasca-bedah, implan ortopedi).1,20

Epidemiologi. Staphylococcus aureus merupakan penyebab tersering osteomielitis dan artritis septik pada seluruh kelompok usia; osteomielitis vertebra hematogen lebih sering pada usia lanjut dan pengguna napza suntik, sementara infeksi terkait implan ortopedi berkaitan dengan pembentukan biofilm pada permukaan logam/polietilen.20

Etiologi dan Patogenesis. Penyebaran hematogen bakteri ke tulang yang kaya vaskularisasi (metafisis pada anak, badan vertebra pada dewasa) atau ke sinovium sendi memicu respons inflamasi lokal yang dapat menimbulkan nekrosis tulang (sekuestrum) dan pembentukan biofilm resisten terhadap antibiotik dan sistem imun, terutama pada infeksi terkait implan.1,20

Manifestasi Klinis. Osteomielitis vertebra bermanifestasi nyeri punggung progresif disertai demam (dapat samar pada usia lanjut), sedangkan artritis septik menimbulkan sendi tunggal bengkak, nyeri hebat, hangat, dan keterbatasan gerak akut (umumnya monoartikular, tersering lutut pada dewasa).20

Pendekatan Diagnostik. MRI merupakan modalitas pencitraan paling sensitif untuk osteomielitis, terutama vertebra, mendeteksi perubahan sumsum tulang dan abses paraspinal sedini mungkin; aspirasi cairan sendi wajib dilakukan pada kecurigaan artritis septik untuk analisis sel, Gram, dan kultur sebelum inisiasi antibiotik bila memungkinkan, karena artritis septik merupakan kegawatdaruratan ortopedi yang dapat merusak kartilago permanen dalam hitungan jam.20

Tata Laksana. Osteomielitis memerlukan antibiotik bakterisidal jangka panjang (umumnya 6 minggu untuk kasus tanpa retensi implan), idealnya berdasarkan kultur biopsi tulang, disertai debridemen bedah pada kasus dengan nekrosis tulang luas atau abses; artritis septik memerlukan drainase segera (aspirasi berulang, artroskopi, atau artrotomi) dikombinasi antibiotik empiris awal mencakup S. aureus (termasuk MRSA bila prevalensi lokal tinggi) yang disesuaikan hasil kultur.20

Komplikasi. Osteomielitis kronik dengan sekuestrum, kerusakan kartilago permanen dan osteoartritis sekunder pada artritis septik yang terlambat ditangani, serta sepsis pada kasus dengan keterlambatan kontrol sumber.20

Pencegahan. Teknik aseptik ketat pada prosedur ortopedi/injeksi intraartikular, tata laksana adekuat infeksi kulit/jaringan lunak yang berdekatan dengan tulang atau sendi untuk mencegah penyebaran perkontinuitatum.20

Tabel 6.6 Durasi Terapi Antibiotik Infeksi Tulang dan Sendi
DiagnosisDurasi UmumCatatan
Osteomielitis tanpa implan6 mingguBerdasarkan kultur biopsi tulang bila memungkinkan
Osteomielitis dengan retensi implanDiperpanjang, sering seumur implan/supresiKombinasi dengan rifampisin bila stafilokokus
Artritis septik2–4 mingguDrainase adekuat adalah prasyarat keberhasilan
Poin Penting
  • Artritis septik adalah kegawatdaruratan ortopedi — drainase segera wajib untuk mencegah kerusakan kartilago permanen.
  • Aspirasi/biopsi untuk kultur idealnya dilakukan sebelum antibiotik bila kondisi klinis memungkinkan.
  • MRI adalah modalitas pilihan untuk osteomielitis vertebra karena sensitivitas tinggi mendeteksi keterlibatan dini.

6.7 Tiroiditis dan Sialadenitis Terinfeksi

Tingkat Kompetensi: 4 — Mendiagnosis dan menatalaksana secara mandiri dan tuntas (mengacu Definisi Tingkat Kompetensi KKI 2019)

Definisi. Tiroiditis supuratif akut adalah infeksi bakterial jarang pada kelenjar tiroid, sedangkan sialadenitis terinfeksi adalah infeksi bakterial akut kelenjar ludah (umumnya parotis atau submandibula), keduanya memerlukan kewaspadaan klinis karena dapat menyerupai kondisi non-infeksius yang lebih umum.1,2

Epidemiologi. Tiroiditis supuratif akut sangat jarang karena kapsul tiroid dan suplai darah/limfatik yang kaya memberikan proteksi alami, umumnya terjadi pada anak dengan kelainan kongenital sinus piriformis atau dewasa imunokompromais; sialadenitis bakterial lebih sering pada pasien dehidrasi, pascabedah, atau dengan sialolitiasis yang menyebabkan stasis saliva.1

Etiologi dan Patogenesis. Tiroiditis supuratif dapat terjadi melalui penyebaran hematogen, perkontinuitatum dari infeksi orofaring, atau melalui fistula sinus piriformis kongenital yang menghubungkan orofaring dengan lobus tiroid kiri; sialadenitis bakterial terjadi akibat stasis saliva (dehidrasi, obstruksi duktus oleh batu) yang memungkinkan migrasi retrograd flora oral (umumnya S. aureus) ke dalam kelenjar.1,2

Manifestasi Klinis. Tiroiditis supuratif menimbulkan nyeri leher anterior akut, demam tinggi, disfagia, dan pembengkakan tiroid unilateral yang nyeri tekan hebat, berbeda dari tiroiditis subakut yang lebih indolen; sialadenitis bakterial menimbulkan pembengkakan kelenjar ludah unilateral nyeri, eritema kulit overlying, dan sekret purulen dari duktus saat masase kelenjar.1,2

Pendekatan Diagnostik. USG leher membantu identifikasi abses tiroid atau kelenjar ludah dan memandu aspirasi diagnostik/terapeutik; kultur aspirat/pus wajib untuk memandu terapi definitif, sementara CT leher dipertimbangkan pada kecurigaan perluasan infeksi ke ruang leher dalam.1

Tata Laksana. Antibiotik empiris mencakup S. aureus dan flora oral campuran (mis. ampisilin-sulbaktam atau klindamisin), dikombinasi drainase abses (aspirasi jarum atau insisi) bila terbentuk kolokusi purulen; tiroiditis supuratif dengan fistula sinus piriformis memerlukan evaluasi dan eksisi fistula elektif setelah infeksi akut teratasi untuk mencegah rekurensi.1,2

Komplikasi. Perluasan infeksi ke ruang leher dalam (dapat mengancam jalan napas), abses mediastinum (jarang), dan pada tiroiditis supuratif berpotensi menimbulkan hipotiroidisme atau hipertiroidisme transien akibat kerusakan jaringan tiroid.1

Pencegahan. Hidrasi adekuat dan higiene oral untuk mencegah sialadenitis, serta evaluasi dan eksisi elektif fistula sinus piriformis kongenital pada anak dengan riwayat tiroiditis supuratif berulang.1

Tabel 6.7 Diagnosis Banding Nyeri Leher Anterior Akut
DiagnosisCiri PembedaNyeri Tekan
Tiroiditis supuratif akutDemam tinggi, unilateral, riwayat ISPA/fistulaSangat nyeri
Tiroiditis subakut (De Quervain)Nyeri menjalar ke telinga, pasca-viralNyeri sedang
SialadenitisTerkait waktu makan, sekret purulen duktusNyeri, unilateral
Poin Penting
  • Curigai fistula sinus piriformis pada anak dengan tiroiditis supuratif berulang sisi kiri.
  • USG leher adalah modalitas awal untuk membedakan selulitis dari abses yang memerlukan drainase.
  • Waspadai perluasan ke ruang leher dalam yang dapat mengancam jalan napas.
BAB VII

SIFILIS SISTEMIK DAN INFEKSI MENULAR SEKSUAL BAKTERIAL

Infeksi menular seksual (IMS) bakterial tetap menjadi masalah kesehatan masyarakat penting yang memerlukan pengenalan stadium klinis akurat, terutama sifilis yang dikenal sebagai "peniru ulung" (the great imitator) karena manifestasinya yang beragam menyerupai banyak penyakit sistemik lain. Bab ini membahas sifilis sistemik secara mendalam sesuai tingkat kompetensi 4, disertai infeksi gonokokal, klamidia, dan limfogranuloma venereum sebagai kelompok IMS bakterial yang relevan bagi subspesialis Penyakit Tropik dan Infeksi.

7.1 Sifilis Sistemik

Tingkat Kompetensi: 4 — Mendiagnosis dan menatalaksana secara mandiri dan tuntas (mengacu Definisi Tingkat Kompetensi KKI 2019)

Definisi. Sifilis adalah infeksi sistemik kronik yang disebabkan oleh spirochaeta Treponema pallidum, ditularkan terutama melalui kontak seksual atau transmisi vertikal (sifilis kongenital), berkembang melalui stadium primer, sekunder, laten, dan tersier yang masing-masing memiliki manifestasi klinis khas.1,21

Epidemiologi. Insidensi sifilis meningkat kembali di berbagai negara termasuk Indonesia dalam dekade terakhir, terutama pada kelompok risiko tinggi (laki-laki berhubungan seks dengan laki-laki, pekerja seks, dan koinfeksi HIV), menjadikan skrining rutin pada populasi berisiko sebagai komponen penting pengendalian.21

Etiologi dan Patogenesis. T. pallidum masuk melalui mukosa atau kulit yang mengalami mikrolesi saat kontak seksual, bereplikasi lokal menimbulkan lesi primer (chancre), kemudian menyebar hematogen dan limfatik menimbulkan manifestasi sekunder sistemik; pada sebagian kasus tanpa terapi, organisme dapat bertahan dorman selama bertahun-tahun (fase laten) sebelum muncul kembali sebagai sifilis tersier dengan kerusakan organ ireversibel (kardiovaskular, neurologis, gumma).1,2

Manifestasi Klinis. Sifilis primer ditandai chancre (ulkus tunggal, tak nyeri, tepi indurasi) pada lokasi inokulasi; sifilis sekunder muncul 4–10 minggu kemudian berupa ruam makulopapular generalisata termasuk telapak tangan-kaki, limfadenopati generalisata, dan kondiloma lata; sifilis laten tanpa gejala terdeteksi hanya secara serologis; sifilis tersier (setelah bertahun-tahun tanpa terapi) dapat bermanifestasi gumma, aortitis sifilitik, atau neurosifilis (tabes dorsalis, general paresis).1,21

Pendekatan Diagnostik. Diagnosis menggunakan kombinasi uji nontreponemal (VDRL/RPR, untuk skrining dan pemantauan respons terapi) dan uji treponemal (TPHA, FTA-ABS, atau uji treponemal otomatis, untuk konfirmasi) mengingat tidak ada uji tunggal yang cukup sensitif dan spesifik; pemeriksaan LCS diperlukan pada kecurigaan neurosifilis (gejala neurologis/oftalmik, sifilis laten lanjut dengan titer nontreponemal tinggi, atau koinfeksi HIV dengan CD4 rendah).21

Tata Laksana. Penisilin G benzatin intramuskular tetap menjadi terapi lini pertama pada seluruh stadium — dosis tunggal 2,4 juta unit untuk sifilis primer/sekunder/laten dini, tiga dosis mingguan berturut-turut untuk sifilis laten lanjut/tidak diketahui durasinya; neurosifilis memerlukan penisilin G kristalin intravena dosis tinggi selama 10–14 hari mengingat penetrasi penisilin benzatin ke LCS yang tidak adekuat.21 Doksisiklin oral merupakan alternatif pada alergi penisilin non-hamil, sementara ibu hamil dengan alergi penisilin memerlukan desensitisasi karena penisilin merupakan satu-satunya terapi terbukti mencegah transmisi kongenital.21

Komplikasi. Neurosifilis, sifilis kardiovaskular (aneurisma aorta asendens), gumma destruktif pada tulang/kulit/organ visera, dan sifilis kongenital (bila terjadi transmisi vertikal tanpa terapi maternal adekuat) merupakan komplikasi jangka panjang sifilis tak terobati.1,21

Pencegahan. Skrining rutin pada kehamilan dan populasi risiko tinggi, penggunaan kondom, serta pelacakan dan terapi pasangan seksual (partner notification) merupakan komponen kunci pengendalian penyebaran sifilis di masyarakat.21

Tabel 7.1 Stadium Sifilis dan Regimen Terapi Standar
StadiumManifestasi KunciTerapi Standar
PrimerChancre tak nyeriPenisilin G benzatin 2,4 juta unit IM dosis tunggal
SekunderRuam generalisata, kondiloma lataPenisilin G benzatin 2,4 juta unit IM dosis tunggal
Laten lanjut/tak diketahuiAsimtomatik, serologi positifPenisilin G benzatin 2,4 juta unit IM, 3 dosis mingguan
NeurosifilisGejala neurologis/oftalmikPenisilin G kristalin IV 18–24 juta unit/hari, 10–14 hari
Poin Penting
  • Penisilin G benzatin tetap menjadi terapi standar emas di seluruh stadium sifilis — tidak tergantikan pada kehamilan meski terdapat alergi (perlu desensitisasi).
  • Reaksi Jarisch–Herxheimer (demam, mialgia transien pasca-dosis pertama) bukan alergi obat dan tidak memerlukan penghentian terapi.
  • Pemeriksaan LCS wajib pada gejala neurologis/oftalmik atau titer nontreponemal tinggi pada sifilis laten lanjut.

7.2 Infeksi Gonokokal dan Klamidia

Tingkat Kompetensi: 4 — Mendiagnosis dan menatalaksana secara mandiri dan tuntas (mengacu Definisi Tingkat Kompetensi KKI 2019)

Definisi. Infeksi gonokokal (Neisseria gonorrhoeae) dan klamidia (Chlamydia trachomatis) merupakan dua IMS bakterial tersering secara global, sering terjadi sebagai koinfeksi, dengan manifestasi mulai dari uretritis/servisitis tanpa komplikasi hingga penyakit radang panggul dan artritis reaktif/septik diseminata.1,21

Epidemiologi. N. gonorrhoeae telah menunjukkan tren resistensi antibiotik yang mengkhawatirkan secara global termasuk terhadap sefalosporin generasi ketiga, menjadikannya salah satu prioritas pengawasan resistensi antimikroba WHO; C. trachomatis sering asimtomatik terutama pada perempuan sehingga berperan besar dalam transmisi tak terdeteksi dan komplikasi infertilitas jangka panjang.21,23

Etiologi dan Patogenesis. Kedua patogen menginfeksi epitel kolumnar saluran genitourinaria (uretra, serviks, rektum, faring) menimbulkan reaksi inflamasi lokal; penyebaran asendens pada perempuan dapat menimbulkan penyakit radang panggul (salpingitis, tubo-ovarian abses) dengan risiko jangka panjang infertilitas dan kehamilan ektopik, sementara diseminasi hematogen gonokokal (jarang) menimbulkan artritis septik atau sindrom dermatitis-artritis.1,21

Manifestasi Klinis. Uretritis/servisitis bermanifestasi duh tubuh mukopurulen, disuria, dan pada laki-laki dapat asimtomatik hingga 10%; infeksi rektal dan faring sering asimtomatik pada kedua jenis kelamin; penyakit radang panggul menimbulkan nyeri perut bawah, nyeri goyang serviks, dan demam; diseminasi gonokokal menimbulkan trias artritis-dermatitis-tenosinovitis dengan lesi pustular akral khas.1,21

Pendekatan Diagnostik. Nucleic Acid Amplification Test (NAAT) merupakan baku diagnostik dengan sensitivitas tinggi untuk kedua patogen dari spesimen urin, swab genital, rektal, atau faring sesuai riwayat paparan seksual; kultur gonokokal dengan uji kepekaan tetap penting pada kecurigaan resistensi atau kegagalan terapi untuk memandu surveilans.21

Tata Laksana. Terapi gonore tanpa komplikasi menggunakan seftriakson injeksi dosis tunggal (dosis disesuaikan berat badan menurut pedoman terkini mengingat tren resistensi), sementara klamidia diterapi doksisiklin oral 7 hari atau azitromisin dosis tunggal pada situasi kepatuhan terbatas; mengingat tingginya koinfeksi, terapi empiris ganda terhadap gonore dan klamidia direkomendasikan bila uji diagnostik terpisah tidak tersedia segera.21 Penyakit radang panggul memerlukan terapi kombinasi spektrum luas mencakup gonokokus, klamidia, dan anaerob.21

Komplikasi. Infertilitas, kehamilan ektopik, dan nyeri panggul kronik pada perempuan dengan penyakit radang panggul berulang; oftalmia neonatorum dan pneumonia klamidia pada bayi yang lahir dari ibu terinfeksi tanpa terapi.21

Pencegahan. Skrining rutin pada populasi aktif seksual berisiko tinggi (termasuk skrining tahunan pada perempuan aktif seksual usia <25 tahun), penggunaan kondom, dan terapi pasangan seksual (expedited partner therapy) untuk memutus rantai transmisi.21

Tabel 7.2 Regimen Terapi Standar Gonore dan Klamidia Tanpa Komplikasi
InfeksiTerapi Standar
Gonore urogenital/rektal/faringSeftriakson injeksi dosis tunggal (disesuaikan berat badan)
KlamidiaDoksisiklin oral 100 mg 2×/hari, 7 hari, atau azitromisin 1 g dosis tunggal
Koinfeksi/tidak dapat dibedakanTerapi ganda seftriakson + doksisiklin
Poin Penting
  • Terapi ganda gonore-klamidia empiris dipertimbangkan mengingat tingginya koinfeksi bila diagnostik terpisah tidak segera tersedia.
  • Resistensi gonokokal terhadap sefalosporin merupakan ancaman global — pantau kegagalan terapi dan laporkan ke surveilans.
  • Skrining rutin penting karena mayoritas infeksi klamidia perempuan bersifat asimtomatik.

7.3 Limfogranuloma Venereum dan IMS Bakterial Lain

Tingkat Kompetensi: 4 — Mendiagnosis dan menatalaksana secara mandiri dan tuntas (mengacu Definisi Tingkat Kompetensi KKI 2019)

Definisi. Limfogranuloma venereum (LGV) adalah infeksi invasif oleh serovar L1–L3 Chlamydia trachomatis yang menyerang sistem limfatik, sedangkan kelompok IMS bakterial lain yang relevan meliputi chancroid (Haemophilus ducreyi) dan granuloma inguinale (Klebsiella granulomatis), keduanya jarang namun penting sebagai diagnosis banding ulkus genital.1,2

Epidemiologi. LGV terkonsentrasi pada kelompok laki-laki berhubungan seks dengan laki-laki di banyak negara, sering bermanifestasi sebagai proktitis; chancroid dan granuloma inguinale lebih endemis di kawasan tropis tertentu dan kini relatif jarang dibanding sifilis atau herpes genital sebagai penyebab ulkus genital global.2,21

Etiologi dan Patogenesis. LGV menginvasi sistem limfatik regional setelah inokulasi mukosa genital/rektal, menimbulkan limfangitis dan limfadenitis supuratif yang khas; chancroid menimbulkan ulkus nekrotik nyeri dengan limfadenopati inguinal supuratif (bubo); granuloma inguinale menimbulkan lesi granulomatosa progresif tanpa nyeri yang mudah berdarah.1,2

Manifestasi Klinis. LGV stadium awal berupa papul/ulkus genital transien tak nyeri yang sering tak disadari, diikuti stadium limfatik (bubo inguinal unilateral nyeri, "groove sign" akibat pembesaran kelenjar di atas dan bawah ligamen inguinal) atau sindrom anorektal (proktitis, tenesmus, duh rektal berdarah) pada praktik seks reseptif anal; chancroid menimbulkan ulkus multipel nyeri dengan dasar kotor; granuloma inguinale menimbulkan lesi ulseratif "beefy red" progresif tanpa nyeri.1,2

Pendekatan Diagnostik. Diagnosis LGV memerlukan NAAT C. trachomatis dengan genotyping serovar bila tersedia, atau ditegakkan secara presumtif berdasarkan gambaran klinis khas pada populasi berisiko; kultur H. ducreyi sulit dan sering memerlukan diagnosis klinis presumtif untuk chancroid; granuloma inguinale didiagnosis melalui identifikasi badan Donovan pada sediaan apus jaringan.2,21

Tata Laksana. LGV diterapi doksisiklin oral 100 mg dua kali sehari selama 21 hari (lebih panjang dibanding klamidia urogenital biasa) mengingat sifat invasifnya; chancroid diterapi azitromisin dosis tunggal atau seftriakson dosis tunggal; granuloma inguinale memerlukan terapi diperpanjang (azitromisin mingguan atau doksisiklin harian) minimal 3 minggu atau hingga lesi sembuh sempurna.21

Komplikasi. LGV tak terobati dapat menimbulkan striktur/fistula anorektal kronik dan elefantiasis genital (akibat obstruksi limfatik kronik); chancroid dan granuloma inguinale yang tak terobati meningkatkan risiko transmisi HIV akibat kerusakan barrier mukokutan.2

Pencegahan. Skrining proktitis pada populasi berisiko dengan indeks kecurigaan LGV tinggi, penggunaan kondom, dan edukasi mengenai diagnosis banding ulkus genital untuk mendorong evaluasi dini.21

Tabel 7.3 Diagnosis Banding Ulkus Genital
PenyebabNyeri UlkusLimfadenopati
Sifilis primerTidak nyeriTak nyeri, kenyal
ChancroidSangat nyeriNyeri, supuratif (bubo)
LGVSering tak disadariNyeri, unilateral ("groove sign")
Granuloma inguinaleTidak nyeriJarang, pseudobubo
Poin Penting
  • Curigai LGV pada proktitis dengan tenesmus pada kelompok risiko tinggi, bukan hanya gejala genital klasik.
  • Durasi terapi doksisiklin LGV (21 hari) jauh lebih panjang dibanding infeksi klamidia urogenital biasa (7 hari).
  • Ulkus genital nyeri dengan bubo supuratif mengarahkan kecurigaan chancroid dibanding sifilis (tak nyeri).
BAB VIII

TERAPI ANTIBIOTIK LANJUT

Bab penutup ini mensintesis prinsip penggunaan antibiotik rasional, farmakokinetik-farmakodinamik (PK-PD) lanjut, dan manajemen infeksi bakteri resisten multi-obat sebagai kompetensi transversal yang mendasari seluruh tata laksana penyakit yang dibahas pada bab-bab sebelumnya. Penguasaan bab ini menjadi prasyarat bagi subspesialis Penyakit Tropik dan Infeksi untuk berperan aktif dalam Program Pengendalian Resistensi Antimikroba (PPRA) di institusinya, sesuai amanat Standar Kompetensi Prosedur Klinis Lampiran Keputusan KKI No. 44/KKI/KEP/V/2023.

8.1 Prinsip Penggunaan Antibiotik Rasional

Tingkat Kompetensi: 4 — Mendiagnosis dan menatalaksana secara mandiri dan tuntas (mengacu Definisi Tingkat Kompetensi KKI 2019)

Definisi dan Landasan Konsep

Penggunaan antibiotik rasional (antimicrobial stewardship) adalah pendekatan terkoordinasi untuk mengoptimalkan pemilihan, dosis, rute, dan durasi terapi antimikroba guna mencapai luaran klinis terbaik dengan toksisitas minimal dan dampak sekunder minimal terhadap perkembangan resistensi.22,30

Komponen Utama Program Stewardship

Program stewardship institusional yang efektif memerlukan dukungan kepemimpinan, tim multidisipliner (dokter spesialis infeksi, apoteker klinis, mikrobiologis), serta strategi inti berupa preauthorization (persetujuan sebelum peresepan antibiotik cadangan), prospective audit and feedback (audit retrospektif-prospektif disertai umpan balik), dan panduan terapi empiris berbasis pola kuman lokal (antibiogram).22,30

Prinsip "lima tepat" — tepat indikasi, tepat obat, tepat dosis, tepat rute, dan tepat durasi — menjadi kerangka praktis harian yang dapat diterapkan pada setiap keputusan peresepan antibiotik, didukung oleh dokumentasi indikasi yang jelas pada rekam medis untuk memudahkan audit dan evaluasi.24,30

De-eskalasi dan Durasi Terapi

De-eskalasi terapi — penyempitan spektrum antibiotik empiris menjadi terapi definitif bertarget begitu hasil kultur dan kepekaan tersedia — merupakan strategi stewardship paling berdampak namun paling sering terlewat dalam praktik klinis sehari-hari.22 Durasi terapi hendaknya mengikuti bukti berbasis penelitian terkini yang cenderung mendukung durasi lebih pendek pada banyak indikasi (mis. CAP tanpa komplikasi 5 hari, ISK tanpa komplikasi 3–5 hari) dibanding kebiasaan lama yang cenderung berlebihan.15,17

Tabel 8.1 Prinsip "Lima Tepat" Penggunaan Antibiotik Rasional
PrinsipPertanyaan Kunci
Tepat indikasiApakah benar terdapat infeksi bakterial yang memerlukan antibiotik?
Tepat obatApakah spektrum sesuai patogen dugaan/terkonfirmasi dan pola resistensi lokal?
Tepat dosisApakah dosis sesuai fungsi ginjal/hati dan target PK-PD?
Tepat ruteApakah kondisi klinis memungkinkan switch IV ke oral?
Tepat durasiApakah durasi sesuai bukti terkini, tidak berlebihan?
Poin Penting
  • Prinsip "lima tepat" adalah kerangka praktis harian penggunaan antibiotik rasional.
  • De-eskalasi begitu hasil kultur tersedia adalah tindakan stewardship yang paling sering terlewat namun paling berdampak.
  • Durasi terapi yang lebih pendek terbukti non-inferior pada banyak indikasi infeksi umum.

8.2 Farmakokinetik-Farmakodinamik Antibiotik

Tingkat Kompetensi: 4 — Mendiagnosis dan menatalaksana secara mandiri dan tuntas (mengacu Definisi Tingkat Kompetensi KKI 2019)

Klasifikasi Pola Bunuh Antibiotik

Antibiotik diklasifikasikan berdasarkan pola aktivitas bakterisidal terhadap parameter farmakokinetik menjadi tiga kelompok: time-dependent killing (efektivitas bergantung lama waktu kadar obat di atas MIC, mis. beta-laktam), concentration-dependent killing (efektivitas bergantung rasio puncak kadar terhadap MIC, mis. aminoglikosida dan fluorokuinolon), dan kelompok dengan efek gabungan bergantung area under the curve/MIC (mis. vankomisin, azitromisin).1

Implikasi Klinis pada Strategi Dosis

Prinsip time-dependent killing mendasari strategi pemberian infus perpanjangan atau kontinu beta-laktam (mis. piperasilin-tazobaktam, meropenem) pada pasien sepsis berat/kritis untuk memaksimalkan waktu di atas MIC, terutama pada patogen dengan MIC mendekati breakpoint resistensi.1 Sebaliknya, aminoglikosida diberikan dosis tunggal harian tinggi (extended-interval dosing) untuk memaksimalkan rasio puncak/MIC sekaligus meminimalkan nefrotoksisitas kumulatif melalui periode bebas obat yang memungkinkan regenerasi sel tubulus ginjal.1

Penyesuaian pada Populasi Khusus

Pasien obesitas, luka bakar luas, dan sepsis dengan augmented renal clearance memerlukan penyesuaian dosis lebih tinggi dari standar akibat perubahan volume distribusi dan klirens obat; sebaliknya gangguan fungsi ginjal/hati memerlukan penyesuaian dosis atau interval pemberian untuk menghindari akumulasi dan toksisitas, dengan pemantauan kadar obat terapeutik (therapeutic drug monitoring) direkomendasikan untuk antibiotik dengan jendela terapeutik sempit seperti vankomisin dan aminoglikosida.1

Tabel 8.2 Klasifikasi Pola Farmakodinamik Antibiotik dan Strategi Dosis
Kelas AntibiotikPola AktivitasStrategi Dosis Optimal
Beta-laktam (penisilin, sefalosporin, karbapenem)Time-dependentInfus perpanjangan/kontinu, interval sering
AminoglikosidaConcentration-dependentDosis tunggal harian tinggi
FluorokuinolonConcentration-dependent (AUC/MIC)Dosis tinggi interval lebih jarang
VankomisinAUC/MIC-dependentTarget AUC24 400–600, TDM rutin
Poin Penting
  • Beta-laktam bekerja time-dependent — infus perpanjangan/kontinu memaksimalkan efikasi pada infeksi berat.
  • Aminoglikosida bekerja concentration-dependent — dosis tunggal harian tinggi mengoptimalkan efikasi sekaligus mengurangi nefrotoksisitas.
  • Therapeutic drug monitoring direkomendasikan untuk vankomisin dan aminoglikosida, terutama pada gangguan fungsi ginjal.

8.3 Manajemen Infeksi Bakteri Resisten Multi-obat

Tingkat Kompetensi: 4 — Mendiagnosis dan menatalaksana secara mandiri dan tuntas (mengacu Definisi Tingkat Kompetensi KKI 2019)

Klasifikasi Organisme Resisten Prioritas

Pembaruan WHO Bacterial Priority Pathogens List (BPPL) 2024 mengelompokkan Enterobacterales penghasil karbapenemase/resisten sefalosporin generasi ketiga, Acinetobacter baumannii resisten karbapenem, dan Mycobacterium tuberculosis resisten rifampisin dalam kategori prioritas kritis. Kategori prioritas tinggi mencakup Pseudomonas aeruginosa resisten karbapenem (turun dari kritis pada pembaruan ini), Salmonella Typhi dan Shigella spp. resisten fluorokuinolon, Neisseria gonorrhoeae resisten sefalosporin/fluorokuinolon, Enterococcus faecium resisten vankomisin (VRE), dan Staphylococcus aureus resisten metisilin (MRSA).23

Prinsip Terapi Organisme Resisten

Terapi infeksi Gram negatif resisten karbapenem umumnya memerlukan agen generasi baru (mis. seftazidim-avibaktam, meropenem-vaborbaktam) atau kombinasi polimiksin dengan agen lain berdasarkan hasil uji kepekaan dan mekanisme resistensi spesifik (produksi karbapenemase tipe KPC, NDM, atau OXA-48 memerlukan pilihan terapi berbeda).23,29 Infeksi MRSA invasif diterapi vankomisin atau linezolid, sedangkan VRE invasif memerlukan linezolid atau daptomisin karena resistensi intrinsik terhadap glikopeptida.1

Strategi Institusional Pengendalian Penyebaran

Pengendalian penyebaran organisme resisten memerlukan kombinasi kewaspadaan standar dan kontak, skrining aktif pada pasien berisiko tinggi (riwayat rawat inap luar negeri, transfer dari fasilitas dengan prevalensi tinggi), kohorting pasien terkolonisasi/terinfeksi, serta kepatuhan ketat kebersihan tangan sebagai intervensi tunggal paling berdampak biaya-efektif dalam mencegah transmisi silang di lingkungan rumah sakit.27,29

Tabel 8.3 Pilihan Terapi Berdasarkan Kategori Organisme Resisten Prioritas WHO
OrganismeKategori Prioritas WHOPilihan Terapi Umum
Enterobacterales penghasil karbapenemaseKritisSeftazidim-avibaktam, meropenem-vaborbaktam sesuai mekanisme
Acinetobacter baumannii resisten karbapenemKritisKombinasi polimiksin + sulbaktam dosis tinggi
Pseudomonas aeruginosa resisten karbapenemTinggiSeftolozan-tazobaktam, seftazidim-avibaktam, atau polimiksin kombinasi
Salmonella Typhi resisten fluorokuinolonTinggiSeftriakson atau azitromisin (lihat Bab 2.3)
MRSA invasifTinggiVankomisin atau linezolid
VRE invasifTinggiLinezolid atau daptomisin
Poin Penting
  • Identifikasi mekanisme karbapenemase spesifik (KPC/NDM/OXA-48) menentukan pilihan terapi definitif yang berbeda.
  • Kebersihan tangan tetap menjadi intervensi tunggal paling cost-effective dalam mencegah transmisi organisme resisten.
  • Skrining aktif pada pasien berisiko tinggi mendukung deteksi dini dan kohorting yang efektif.
Referensi

Daftar Referensi

  1. 1. Loscalzo J, Fauci AS, Kasper DL, Hauser SL, Longo DL, Jameson JL, editors. Harrison's Principles of Internal Medicine. 21st ed. New York: McGraw Hill; 2022.
  2. 2. Farrar J, Hotez PJ, Junghanss T, Kang G, Lalloo D, White NJ, editors. Manson's Tropical Diseases. 24th ed. London: Elsevier/Saunders; 2024.
  3. 3. World Health Organization. Typhoid. Tersedia dari: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/typhoid
  4. 4. Hancuh M, Walldorf J, Minta AA, Tevi-Benissan C, Christian KA, Nedelec Y, et al. Typhoid Fever Surveillance, Incidence Estimates, and Progress Toward Typhoid Conjugate Vaccine Introduction — Worldwide, 2018–2022. MMWR Morb Mortal Wkly Rep. 2023;72(7):171–176. Tersedia dari: https://www.cdc.gov/mmwr/volumes/72/wr/mm7207a2.htm
  5. 5. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Pengendalian Demam Tifoid. Jakarta: Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kemenkes RI.
  6. 6. World Health Organization. Cholera. Tersedia dari: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/cholera
  7. 7. Bower WA, Yu Y, Person MK, Parker CM, Kennedy JL, Sue D, et al. CDC Guidelines for the Prevention and Treatment of Anthrax, 2023. MMWR Recomm Rep. 2023;72(No. RR-6):1–47. Tersedia dari: https://www.cdc.gov/mmwr/volumes/72/rr/rr7206a1.htm
  8. 8. World Health Organization. Tetanus. Tersedia dari: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/tetanus
  9. 9. Centers for Disease Control and Prevention. About Botulism. Tersedia dari: https://www.cdc.gov/botulism/about/index.html
  10. 10. World Health Organization. Plague. Tersedia dari: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/plague
  11. 11. Centers for Disease Control and Prevention. Clinical Overview of Brucellosis. Tersedia dari: https://www.cdc.gov/brucellosis/hcp/clinical-overview/index.html
  12. 12. Evans L, Rhodes A, Alhazzani W, Antonelli M, Coopersmith CM, French C, et al. Surviving Sepsis Campaign: International Guidelines for Management of Sepsis and Septic Shock 2021. Crit Care Med. 2021;49(11):e1063–e1143. Tersedia dari: https://doi.org/10.1097/CCM.0000000000005337
  13. 13. Baddour LM, Wilson WR, Bayer AS, Fowler VG, Tleyjeh IM, Rybak MJ, et al. Infective Endocarditis in Adults: Diagnosis, Antimicrobial Therapy, and Management of Complications: A Scientific Statement for Healthcare Professionals from the American Heart Association. Circulation. 2015;132(15):1435–1486. Tersedia dari: https://doi.org/10.1161/CIR.0000000000000296
  14. 14. Tunkel AR, Hartman BJ, Kaplan SL, Kaufman BA, Roos KL, Scheld WM, et al. Practice Guidelines for the Management of Bacterial Meningitis. Clin Infect Dis. 2004;39(9):1267–1284.
  15. 15. Metlay JP, Waterer GW, Long AC, Anzueto A, Brozek J, Crothers K, et al. Diagnosis and Treatment of Adults with Community-acquired Pneumonia: An Official Clinical Practice Guideline of the American Thoracic Society and Infectious Diseases Society of America. Am J Respir Crit Care Med. 2019;200(7):e45–e67. Tersedia dari: https://doi.org/10.1164/rccm.201908-1581ST
  16. 16. Kalil AC, Metersky ML, Klompas M, Muscedere J, Sweeney DA, Palmer LB, et al. Management of Adults With Hospital-acquired and Ventilator-associated Pneumonia: 2016 Clinical Practice Guidelines by the Infectious Diseases Society of America and the American Thoracic Society. Clin Infect Dis. 2016;63(5):e61–e111.
  17. 17. Gupta K, Hooton TM, Naber KG, Wullt B, Colgan R, Miller LG, et al. International Clinical Practice Guidelines for the Treatment of Acute Uncomplicated Cystitis and Pyelonephritis in Women. Clin Infect Dis. 2011;52(5):e103–e120.
  18. 18. Stevens DL, Bisno AL, Chambers HF, Dellinger EP, Goldstein EJ, Gorbach SL, et al. Practice Guidelines for the Diagnosis and Management of Skin and Soft Tissue Infections: 2014 Update by the Infectious Diseases Society of America. Clin Infect Dis. 2014;59(2):e10–e52.
  19. 19. Solomkin JS, Mazuski JE, Bradley JS, Rodvold KA, Goldstein EJ, Baron EJ, et al. Diagnosis and Management of Complicated Intra-abdominal Infection in Adults and Children: Guidelines by the Surgical Infection Society and the Infectious Diseases Society of America. Clin Infect Dis. 2010;50(2):133–164.
  20. 20. Berbari EF, Kanj SS, Kowalski TJ, Darouiche RO, Widmer AF, Schmitt SK, et al. Diagnosis and Management of Native Vertebral Osteomyelitis: 2015 Clinical Practice Guidelines by the Infectious Diseases Society of America. Clin Infect Dis. 2015;61(6):e26–e46.
  21. 21. Workowski KA, Bachmann LH, Chan PA, Johnston CM, Muzny CA, Park I, et al. Sexually Transmitted Infections Treatment Guidelines, 2021. MMWR Recomm Rep. 2021;70(4):1–187.
  22. 22. Dellit TH, Owens RC, McGowan JE, Gerding DN, Weinstein RA, Burke JP, et al. Infectious Diseases Society of America and the Society for Healthcare Epidemiology of America Guidelines for Developing an Institutional Program to Enhance Antimicrobial Stewardship. Clin Infect Dis. 2007;44(2):159–177.
  23. 23. WHO Bacterial Priority Pathogens List Advisory Group, Sati H, Carrara E, Savoldi A, Hansen P, Garlasco J, et al. The WHO Bacterial Priority Pathogens List 2024: A Prioritisation Study to Guide Research, Development, and Public Health Strategies Against Antimicrobial Resistance. Lancet Infect Dis. 2025;25(9):1033–1043. Tersedia dari: https://doi.org/10.1016/S1473-3099(25)00118-5
  24. 24. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Peraturan Menteri Kesehatan tentang Pedoman Penggunaan Antibiotik. Jakarta: Kemenkes RI.
  25. 25. Konsil Kedokteran Indonesia. Keputusan Konsil Kedokteran Indonesia Nomor 44/KKI/KEP/V/2023 tentang Standar Pendidikan Profesi Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Penyakit Tropik dan Infeksi. Jakarta: KKI; 2023.
  26. 26. Konsil Kedokteran Indonesia. Definisi Tingkat Kompetensi Penyakit dan Keterampilan Klinis. Jakarta: KKI; 2019.
  27. 27. Centers for Disease Control and Prevention. Healthcare-associated Infections (HAI) — Clinical Guidance. Atlanta: CDC.
  28. 28. World Health Organization. Global Action Plan on Antimicrobial Resistance. Geneva: WHO; 2015.
  29. 29. Kollef MH, Shorr AF, Bergman ML, Chastre J, Restrepo MI. Multidrug-resistant Organisms: Epidemiology and Prevention. Semin Respir Crit Care Med. 2017;38(3):228–241.
  30. 30. Barlam TF, Cosgrove SE, Abbo LM, MacDougall C, Schuetz AN, Septimus EJ, et al. Implementing an Antibiotic Stewardship Program: Guidelines by the Infectious Diseases Society of America and the Society for Healthcare Epidemiology of America. Clin Infect Dis. 2016;62(10):e51–e77.
Referensi Istilah

Glosarium

Antibiogram
Ringkasan statistik pola kepekaan antibiotik dari isolat mikroorganisme di suatu institusi pada periode tertentu, digunakan untuk memandu pemilihan terapi empiris lokal.
Antimicrobial Stewardship
Program terkoordinasi untuk mengoptimalkan penggunaan antimikroba guna mencapai luaran klinis terbaik dengan meminimalkan toksisitas dan perkembangan resistensi.
Bakteremia
Keberadaan bakteri viabel dalam aliran darah yang dibuktikan melalui kultur darah positif.
Biofilm
Lapisan komunitas mikroorganisme yang melekat pada permukaan (jaringan atau benda asing) dan terlindungi matriks ekstraseluler, sulit dieradikasi antibiotik maupun sistem imun.
Bubo
Pembesaran kelenjar getah bening yang nyeri dan meradang, khas dijumpai pada penyakit pes bubonik, chancroid, dan limfogranuloma venereum.
De-eskalasi
Strategi penyempitan spektrum antibiotik empiris menjadi terapi definitif bertarget setelah hasil kultur dan uji kepekaan tersedia.
Endokarditis Infektif
Infeksi endokardium, tersering mengenai katup jantung, ditandai pembentukan vegetasi yang mengandung mikroorganisme, fibrin, dan sel inflamasi.
Eskar
Jaringan nekrotik kering berwarna gelap/hitam yang terbentuk pada kulit akibat kerusakan jaringan, khas dijumpai pada antraks kutan.
Fasiitis Nekrotikans
Infeksi jaringan lunak yang mengenai fasia profunda, ditandai nekrosis progresif cepat dan toksisitas sistemik berat, memerlukan debridemen bedah emergensi.
Kontrol Sumber (Source Control)
Tindakan fisik untuk mengeliminasi fokus infeksi (drainase abses, debridemen, pelepasan benda asing terinfeksi) sebagai komponen tata laksana yang tidak dapat digantikan antibiotik semata.
Kriteria Duke Termodifikasi
Sistem klasifikasi diagnostik untuk endokarditis infektif yang mengintegrasikan kriteria mikrobiologis, ekokardiografi, dan klinis mayor-minor.
MIC (Minimum Inhibitory Concentration)
Kadar hambat minimum, yaitu konsentrasi terendah suatu antibiotik yang menghambat pertumbuhan visible suatu isolat bakteri secara in vitro.
MRSA (Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus)
Galur Staphylococcus aureus yang resisten terhadap seluruh golongan beta-laktam melalui perubahan protein pengikat penisilin (PBP2a).
PPRA
Program Pengendalian Resistensi Antimikroba, program wajib rumah sakit untuk mengawal penggunaan antibiotik rasional dan surveilans pola resistensi lokal.
Quick SOFA (qSOFA)
Skor skrining cepat sepsis di luar unit intensif berdasarkan tiga parameter: perubahan status mental, frekuensi napas ≥22/menit, dan tekanan darah sistolik ≤100 mmHg.
Reaksi Jarisch–Herxheimer
Reaksi sistemik akut (demam, mialgia) yang timbul beberapa jam setelah dosis pertama antibiotik pada infeksi spirochaeta seperti sifilis, akibat pelepasan mendadak produk lisis bakteri.
Sepsis
Disfungsi organ yang mengancam nyawa akibat respons tubuh yang tidak teregulasi terhadap infeksi, dinilai dengan peningkatan skor SOFA ≥2 poin.
Sialadenitis
Peradangan/infeksi akut kelenjar ludah, umumnya parotis atau submandibula, akibat stasis saliva dan migrasi retrograd bakteri.
Sindrom Hemolitik-Uremik
Komplikasi sistemik infeksi bakteri toksigenik (mis. Shigella penghasil toksin Shiga) berupa anemia hemolitik mikroangiopatik, trombositopenia, dan gagal ginjal akut.
Spora Bakteri
Bentuk dorman bakteri tertentu (mis. Clostridium, Bacillus) yang sangat resisten terhadap kondisi lingkungan ekstrem dan dapat berkecambah kembali menjadi bentuk vegetatif patogenik.
Syok Septik
Subset sepsis dengan disfungsi sirkulasi dan metabolik berat, ditandai kebutuhan vasopresor untuk mempertahankan MAP ≥65 mmHg disertai laktat serum >2 mmol/L meski resusitasi cairan adekuat.
Tenesmus
Sensasi ingin buang air besar yang persisten dan menyakitkan meski rektum telah kosong, khas pada disentri basiler dan proktitis (mis. limfogranuloma venereum).
Terapi Empiris
Pemberian antibiotik berdasarkan dugaan patogen tersering sesuai sindrom klinis dan pola resistensi lokal, sebelum hasil kultur definitif tersedia.
Tetanospasmin
Eksotoksin yang diproduksi Clostridium tetani, bekerja menghambat pelepasan neurotransmiter inhibitorik GABA dan glisin di sistem saraf pusat, menimbulkan rigiditas dan spasme otot.
Therapeutic Drug Monitoring (TDM)
Pemantauan kadar obat dalam darah untuk memandu penyesuaian dosis pada antibiotik dengan jendela terapeutik sempit seperti vankomisin dan aminoglikosida.
Toksin Shiga
Eksotoksin yang diproduksi galur Shigella dan Escherichia coli tertentu, dapat menimbulkan kerusakan endotel vaskular dan sindrom hemolitik-uremik.
Uji Nontreponemal
Uji serologis skrining sifilis (mis. VDRL, RPR) yang mendeteksi antibodi terhadap kardiolipin, digunakan untuk skrining dan pemantauan respons terapi.
Uji Treponemal
Uji serologis konfirmasi sifilis (mis. TPHA, FTA-ABS) yang mendeteksi antibodi spesifik terhadap Treponema pallidum, umumnya tetap reaktif seumur hidup meski telah diterapi.
Urosepsis
Sepsis yang bersumber dari infeksi saluran kemih, sering terkait obstruksi atau instrumentasi urologis yang tidak segera diatasi.
VRE (Vancomycin-Resistant Enterococcus)
Galur Enterococcus (umumnya E. faecium) yang resisten terhadap glikopeptida (vankomisin) melalui perubahan target ikatan gen van.
XDR (Extensively Drug-Resistant)
Kategori resistensi ekstensif suatu organisme terhadap hampir seluruh kelas antibiotik lini utama, menyisakan sangat sedikit pilihan terapi efektif.
Kolofon

Tentang Buku Ini

Buku ini merupakan Buku 2 dari 10 dalam Seri Pendidikan Dokter Subspesialis Penyakit Dalam Konsultan Tropik dan Infeksi dan berkorespondensi dengan Modul TI-2 (Tahap Madya) pada struktur kurikulum inti. Pembaca yang memerlukan dasar diagnostik penyakit tropik dan infeksi secara umum sebaiknya membaca lebih dahulu Buku 1 (Modul TI-1: Diagnostik Penyakit Tropik dan Infeksi), sedangkan pembahasan infeksi virus dan terapi antivirus lanjut, infeksi jamur dan terapi antijamur, infeksi parasit dan antiparasit, health-care associated infection, serta modul-modul Tahap Mandiri (intervensi, penyakit khusus lain, dan modul unggulan) dibahas secara berturut-turut pada Buku 3 hingga Buku 9 dalam seri ini. Buku 10 memuat modul metodologi penelitian, karya akhir, dan publikasi ilmiah internasional yang menutup keseluruhan seri.