Seri Pendidikan Dokter Subspesialis Penyakit Dalam — Konsultan Tropik dan Infeksi
BUKU 3 DARI 10 · BUKU TEMATIK 3

Infeksi Virus dan Terapi Antivirus Lanjut

Modul TI-3 — Tahap Madya
Penanggung Jawabdr Norma Rahayu Najikhah, Sp.PD.
Tahun2026
PENDAHULUAN

Kata Pengantar

Buku ini, "Infeksi Virus dan Terapi Antivirus Lanjut", merupakan Buku 3 dari rangkaian Seri 10 Buku Pendidikan Dokter Subspesialis Penyakit Dalam Konsultan Tropik dan Infeksi, disusun sebagai materi pembelajaran inti bagi peserta didik pada Modul TI-3 (Tahap Madya) sesuai kurikulum yang mengacu pada Keputusan Konsil Kedokteran Indonesia Nomor 44/KKI/KEP/V/2023 tentang Standar Pendidikan Profesi Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Penyakit Tropik dan Infeksi.

Infeksi virus merupakan salah satu kelompok penyakit tersering dan paling beragam yang dihadapi seorang Subspesialis Penyakit Tropik dan Infeksi di Indonesia, mulai dari infeksi arbovirus endemis seperti dengue, infeksi virus hepatotropik yang berdampak jangka panjang pada kesehatan hati, infeksi virus saluran napas yang berpotensi menimbulkan kedaruratan kesehatan masyarakat, hingga infeksi virus zoonotik yang jarang namun mematikan. Buku ini disusun dengan kerangka klinis yang konsisten — definisi, epidemiologi, etiologi dan patogenesis, manifestasi klinis, pendekatan diagnostik, tata laksana, komplikasi, dan pencegahan — pada setiap topik penyakit, agar peserta didik dapat membangun pola pikir klinis yang sistematis dan dapat diterapkan pada kasus kompleks di lapangan.

Materi disusun dengan merujuk pada sumber-sumber otoritatif internasional (Harrison's Principles of Internal Medicine, Manson's Tropical Diseases, pedoman World Health Organization dan Centers for Disease Control and Prevention) serta pedoman nasional (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia), dengan penekanan khusus pada tata laksana dengue, COVID-19, avian influenza, dan terapi antiretroviral HIV terkini sesuai perkembangan ilmu pengetahuan hingga tahun penyusunan buku ini.

Semoga buku ini bermanfaat bagi peserta didik Program Pendidikan Dokter Subspesialis Penyakit Dalam Pemimatan Penyakit Tropik dan Infeksi di seluruh Indonesia, dan berkontribusi pada peningkatan mutu pelayanan kesehatan subspesialistik bagi masyarakat.

dr Norma Rahayu Najikhah, Sp.PD.
Penanggung Jawab Seri

BAB I

Pendahuluan Virologi Klinis

Bab ini menguraikan landasan konseptual virologi klinis yang mendasari seluruh pembahasan penyakit virus spesifik pada bab-bab selanjutnya, mencakup klasifikasi virus, prinsip patogenesis, pendekatan diagnostik laboratorium, dan prinsip umum terapi antivirus yang relevan bagi praktik Subspesialis Penyakit Tropik dan Infeksi.

1.1 Klasifikasi dan Struktur Virus

Virus adalah agen infeksi aseluler obligat intraseluler yang terdiri atas materi genetik (DNA atau RNA, untai tunggal atau ganda) yang diselubungi kapsid protein, dan pada sebagian famili dilapisi selubung (envelope) lipid yang berasal dari membran sel pejamu.1 Klasifikasi virus modern menggunakan sistem Baltimore yang mengelompokkan virus berdasarkan jenis genom dan strategi replikasinya, di samping taksonomi konvensional berbasis famili dan genus (mis. Flaviviridae, Togaviridae, Herpesviridae, Orthomyxoviridae, Coronaviridae).1,2

Pemahaman struktur virus memiliki relevansi klinis langsung: virus berselubung (mis. Dengue, Influenza, HIV, SARS-CoV-2) umumnya lebih rentan terhadap desinfektan berbasis lipid dan pengeringan dibandingkan virus tanpa selubung (mis. Hepatitis A, Rotavirus), sementara genom RNA untai tunggal polaritas positif (mis. Flavivirus) dapat langsung ditranslasi oleh mesin sel pejamu tanpa memerlukan enzim polimerase virus untuk memulai infeksi.1

1.2 Patogenesis Infeksi Virus pada Manusia

Patogenesis infeksi virus melibatkan tahapan berurutan: perlekatan pada reseptor spesifik sel pejamu, penetrasi dan uncoating, replikasi genom dan sintesis protein virus, perakitan virion baru, serta pelepasan yang dapat bersifat litik (merusak sel) atau non-litik (budding).1 Kerusakan jaringan pada infeksi virus dapat terjadi melalui efek sitopatik langsung (mis. HAV, poliovirus) atau melalui respons imun pejamu yang berlebihan terhadap sel terinfeksi (mis. badai sitokin pada dengue berat dan COVID-19 berat), sehingga strategi terapi tidak selalu berfokus semata pada penekanan replikasi virus namun juga pada modulasi respons imun pada fase tertentu.1,3,11

Latensi virus — kemampuan virus tertentu (mis. Herpesviridae, HIV) untuk bertahan dalam bentuk tidak aktif secara klinis dan bereaktivasi saat imunitas pejamu menurun — merupakan konsep penting dalam subspesialisasi Penyakit Tropik dan Infeksi, karena menjelaskan pola penyakit rekuren dan menjadi dasar rasional terapi supresif jangka panjang pada beberapa infeksi virus kronik.1

1.3 Prinsip Diagnostik Laboratorium Virologi

Diagnostik virologi klinis modern mengandalkan tiga pendekatan utama: deteksi molekuler asam nukleat virus (RT-PCR/PCR, paling sensitif pada fase viremia/replikasi aktif), deteksi antigen virus (mis. NS1 dengue, antigen influenza/COVID-19, umumnya lebih cepat namun kurang sensitif dibanding molekuler), dan deteksi respons antibodi pejamu (serologi IgM/IgG, bermakna terutama setelah fase akut).1,3 Pemilihan modalitas diagnostik bergantung pada fase penyakit, kinetika virus, dan konteks klinis; interpretasi hasil negatif pada fase yang tidak sesuai jendela diagnostik suatu pemeriksaan dapat menyesatkan bila tidak dipahami dengan baik oleh klinisi subspesialis.1

Kewaspadaan terhadap reaksi silang serologis antarvirus dalam famili yang sama (mis. antarflavivirus: dengue, Zika, Japanese encephalitis, yellow fever) penting dipahami untuk menghindari kesalahan interpretasi diagnostik, terutama di wilayah dengan kosirkulasi berbagai flavivirus seperti Indonesia.2,3,7

1.4 Prinsip Umum Terapi Antivirus

Terapi antivirus modern ditujukan pada berbagai tahap siklus replikasi virus: penghambatan masuknya virus ke sel (mis. inhibitor fusi/entry pada HIV), penghambatan enzim polimerase asam nukleat virus (mis. analog nukleos(t)ida pada HBV, HIV, herpesvirus), penghambatan protease virus (mis. pada HIV dan SARS-CoV-2), serta penghambatan pelepasan virion (mis. inhibitor neuraminidase pada influenza).1 Prinsip umum yang berlaku lintas infeksi virus meliputi: pemberian sedini mungkin pada fase replikasi aktif untuk hasil optimal, pertimbangan kombinasi obat untuk mencegah resistensi pada infeksi kronik (mis. HIV, HBV), dan penyesuaian dosis berdasarkan fungsi ginjal/hati serta interaksi obat.1,20

Bab-bab substansi pada buku ini akan menguraikan aplikasi klinis prinsip-prinsip tersebut secara spesifik per kelompok virus, sementara Bab VIII membahas secara khusus farmakologi lanjut golongan antivirus serta pendekatan sistematis terhadap kasus resistensi antivirus yang menjadi tantangan subspesialistik penting dalam praktik Tropik dan Infeksi.

BAB II

Infeksi Arbovirus

Infeksi arbovirus (arthropod-borne virus) ditularkan melalui vektor artropoda, terutama nyamuk Aedes spp. di Indonesia, dan mencakup sebagian beban penyakit tropik dan infeksi tertinggi di negara ini. Bab ini membahas dengue dalam berbagai presentasi klinisnya, chikungunya, dan Zika secara komprehensif mengikuti kerangka klinis standar.

2.1 Demam Dengue dan Demam Berdarah Dengue

Tingkat Kompetensi 4

DefinisiDemam Dengue (DD) dan Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh virus Dengue (famili Flaviviridae), ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus, dengan spektrum klinis mulai dari demam ringan hingga kebocoran plasma yang mengancam jiwa.1,3

EpidemiologiIndonesia merupakan salah satu negara endemis dengue tertinggi di Asia Tenggara, dengan pola transmisi sepanjang tahun yang memuncak pada musim penghujan; keempat serotipe (DENV-1 sampai DENV-4) bersirkulasi secara bersamaan di banyak wilayah, meningkatkan risiko infeksi sekunder yang berkaitan dengan derajat keparahan penyakit.3,5

Etiologi dan PatogenesisSetelah inokulasi oleh nyamuk, virus bereplikasi di sel dendritik dan monosit/makrofag; pada infeksi sekunder heterotipik, fenomena antibody-dependent enhancement (ADE) diduga meningkatkan replikasi virus dan memicu badai sitokin yang mendasari kebocoran plasma pada DBD.1,3

Manifestasi KlinisFase febris berlangsung 2–7 hari dengan demam tinggi mendadak, nyeri kepala, mialgia, artralgia, ruam makulopapular, dan uji torniket positif; fase kritis (hari ke-3 sampai ke-7) ditandai penurunan suhu bersamaan dengan tanda kebocoran plasma (efusi pleura, asites, hemokonsentrasi); fase pemulihan ditandai reabsorpsi cairan dan perbaikan hemodinamik.1,3

Pendekatan DiagnostikDiagnosis ditegakkan berdasarkan kriteria klinis WHO ditunjang deteksi NS1 antigen pada hari 1–5 demam, serologi IgM/IgG anti-dengue, atau RT-PCR; pemantauan serial hematokrit dan trombosit esensial untuk mendeteksi fase kritis secara dini.3,4

Tata LaksanaTata laksana bersifat suportif: rehidrasi oral pada kasus tanpa tanda bahaya, dan terapi cairan kristaloid intravena (kristaloid isotonis 5–7 mL/kgBB/jam, dititrasi sesuai hematokrit dan produksi urin) pada kasus dengan tanda bahaya atau DBD derajat II ke atas mengikuti protokol WHO/Kemenkes; parasetamol digunakan untuk demam, dan NSAID/aspirin dihindari karena risiko perdarahan.3,5

KomplikasiKomplikasi meliputi syok hipovolemik, perdarahan masif, gagal organ multipel, ensefalopati dengue, dan overload cairan akibat resusitasi berlebihan pada fase pemulihan.1,3

PencegahanPencegahan primer meliputi pengendalian vektor (3M Plus), penggunaan kelambu dan repelen, serta vaksinasi dengue. Dua vaksin telah direkomendasikan WHO: CYD-TDV (Dengvaxia) untuk individu berusia 9–45 tahun dengan bukti laboratorium infeksi dengue sebelumnya (seropositif), dan TAK-003 (Qdenga) yang sejak posisi WHO Mei 2024 direkomendasikan untuk anak usia 6–16 tahun di wilayah transmisi tinggi tanpa memerlukan skrining status serologi terlebih dahulu; deteksi dini dan edukasi tanda bahaya tetap penting untuk mencegah keterlambatan penanganan.3,5,26

Poin Penting
  • Fase paling berbahaya adalah fase afebris/kritis, bukan fase demam tinggi.
  • NS1 antigen paling sensitif pada hari 1–5 demam; serologi IgM/IgG lebih bermakna setelah hari ke-5.
  • Pemantauan hematokrit serial adalah kunci deteksi dini kebocoran plasma.
  • Hindari NSAID dan aspirin pada seluruh spektrum penyakit dengue.
Derajat DBD (WHO)Karakteristik Klinis Utama
Derajat IDemam disertai gejala non-spesifik; uji torniket positif merupakan satu-satunya manifestasi perdarahan
Derajat IISeperti derajat I disertai perdarahan spontan (petekie, epistaksis, perdarahan gusi)
Derajat III (DSS)Kegagalan sirkulasi: nadi cepat lemah, tekanan nadi menyempit (≤20 mmHg) atau hipotensi, akral dingin, gelisah
Derajat IV (DSS)Syok berat: tekanan darah dan nadi tidak terukur

2.2 Dengue Shock Syndrome

Tingkat Kompetensi 4

DefinisiDengue Shock Syndrome (DSS) adalah bentuk DBD derajat III–IV yang ditandai kegagalan sirkulasi akibat kebocoran plasma masif, dengan tekanan nadi menyempit (≤20 mmHg) atau hipotensi nyata.1,3

EpidemiologiDSS lebih sering terjadi pada infeksi sekunder dan pada anak-anak maupun dewasa dengan komorbid, dan merupakan penyebab utama mortalitas terkait dengue apabila resusitasi tertunda.3,4

Etiologi dan PatogenesisKebocoran plasma progresif yang tidak terkompensasi menyebabkan penurunan volume intravaskular efektif, aktivasi sistem koagulasi, dan pada kasus lanjut berujung pada disseminated intravascular coagulation (DIC) dan kegagalan organ.1,3

Manifestasi KlinisDitandai gelisah atau letargi, akral dingin, capillary refill time memanjang, nadi cepat dan lemah, tekanan nadi sempit, oliguria, serta pada syok dekompensasi disertai hipotensi nyata.3

Pendekatan DiagnostikDiagnosis klinis berdasarkan kriteria WHO untuk syok dengue, didukung hematokrit yang meningkat tajam sebelum syok kemudian dapat turun mendadak akibat perdarahan tersembunyi, serta pemantauan tekanan darah dan produksi urin ketat.3,4

Tata LaksanaResusitasi cairan kristaloid intravena cepat (10 mL/kgBB dalam 1 jam pertama, dititrasi sesuai respons hemodinamik) merupakan tata laksana lini pertama; koloid dipertimbangkan pada syok berulang; transfusi komponen darah diberikan atas indikasi perdarahan bermakna, dilakukan di fasilitas dengan kemampuan pemantauan intensif.3,5

KomplikasiSyok berkepanjangan dapat menyebabkan asidosis metabolik, DIC, gagal ginjal akut, gagal hati akut, dan ensefalopati; overload cairan iatrogenik merupakan komplikasi tata laksana yang harus diwaspadai.1,3

PencegahanDeteksi dini tanda bahaya dan triase cepat pada fase kritis merupakan strategi pencegahan utama progresi menjadi syok; edukasi keluarga tentang tanda bahaya dengue sangat penting.3,5

Poin Penting
  • Titrasi cairan berbasis respons hemodinamik, bukan volume tetap, adalah kunci tata laksana.
  • Waspadai overload cairan pada fase reabsorpsi (24–48 jam pasca syok teratasi).
  • Syok dengue berulang merupakan indikasi pertimbangan koloid dan evaluasi perdarahan tersembunyi.

2.3 Demam Berdarah Dengue pada Kehamilan

Tingkat Kompetensi 4

DefinisiDBD pada kehamilan adalah infeksi dengue yang terjadi pada ibu hamil, dengan tantangan diagnostik akibat tumpang tindih gejala dengan kondisi obstetrik dan perubahan fisiologis kehamilan yang memengaruhi interpretasi hematokrit dan trombosit.1,3

EpidemiologiInfeksi dengue pada kehamilan dikaitkan dengan peningkatan risiko persalinan prematur, berat badan lahir rendah, dan perdarahan peripartum, terutama bila infeksi terjadi mendekati waktu persalinan.3,5

Etiologi dan PatogenesisPatofisiologi dasar sama dengan DBD pada populasi umum, namun ekspansi volume plasma fisiologis kehamilan dapat menyamarkan hemokonsentrasi, sehingga nilai hematokrit basal trimester perlu dipertimbangkan dalam interpretasi.3

Manifestasi KlinisGejala klinis serupa DBD pada umumnya, namun dapat menyerupai preeklamsia (trombositopenia, peningkatan enzim hati) atau perdarahan antepartum sehingga memerlukan kewaspadaan diagnosis banding yang cermat.1,3

Pendekatan DiagnostikKonfirmasi laboratorium (NS1/serologi/RT-PCR) tetap menjadi standar, disertai pemantauan janin (kardiotokografi dan ultrasonografi) bersama tim obstetri untuk menilai kesejahteraan janin selama fase kritis ibu.3,5

Tata LaksanaPrinsip resusitasi cairan mengikuti protokol DBD dewasa dengan penyesuaian volume dan pemantauan lebih ketat mengingat perubahan hemodinamik kehamilan; persalinan pada fase kritis dihindari bila memungkinkan kecuali terdapat indikasi obstetrik mendesak, dan dilakukan secara kolaboratif multidisiplin.3,5

KomplikasiKomplikasi meliputi perdarahan peripartum akibat trombositopenia, persalinan prematur, gawat janin, dan transmisi vertikal pada infeksi perinatal yang jarang namun telah dilaporkan.1,3

PencegahanPencegahan gigitan nyamuk diintensifkan selama kehamilan; keputusan vaksinasi dengue pada kehamilan mengikuti kontraindikasi yang berlaku karena keterbatasan data keamanan pada populasi ini.3

Poin Penting
  • Trombositopenia pada kehamilan dengan dengue harus dibedakan dari sindrom HELLP/preeklamsia.
  • Persalinan idealnya ditunda melewati fase kritis apabila secara obstetrik memungkinkan.
  • Diperlukan tata kelola kolaboratif antara subspesialis Tropik-Infeksi dan Obstetri-Ginekologi.

2.4 Chikungunya dan Chronic Chikungunya Arthritis

Tingkat Kompetensi 4

DefinisiChikungunya adalah infeksi virus alfa (Togaviridae) yang ditularkan Aedes spp., ditandai demam tinggi mendadak dan artralgia berat yang khas menyerang sendi-sendi kecil secara simetris.1,6

EpidemiologiChikungunya bersifat endemis-epidemis di Indonesia dengan pola letupan kasus (outbreak) periodik, sering tumpang tindih secara geografis dan musiman dengan dengue sehingga diagnosis banding penting.2,6

Etiologi dan PatogenesisVirus chikungunya menyebabkan viremia tinggi pada fase akut dengan tropisme terhadap sinovium dan jaringan ikat, menjelaskan nyeri sendi yang menonjol dan berkepanjangan pada sebagian pasien.1,6

Manifestasi KlinisFase akut berlangsung 3–10 hari dengan demam, artralgia berat (terutama pergelangan tangan, jari, pergelangan kaki), ruam makulopapular, dan mialgia; pada sebagian pasien nyeri sendi menetap lebih dari 3 bulan (Chronic Chikungunya Arthritis) menyerupai gambaran artritis inflamasi.1,6

Pendekatan DiagnostikDiagnosis ditegakkan melalui RT-PCR pada fase viremia awal (hari 1–5) atau serologi IgM/IgG anti-chikungunya setelahnya; pada artritis kronik perlu disingkirkan artropati inflamasi lain seperti artritis reumatoid.6

Tata LaksanaTata laksana fase akut bersifat suportif dengan analgesik-antipiretik (parasetamol lini pertama; NSAID dipertimbangkan setelah dengue disingkirkan); pada Chronic Chikungunya Arthritis, pendekatan mengikuti prinsip tata laksana artritis inflamasi termasuk NSAID, dan pada kasus refrakter dipertimbangkan disease-modifying antirheumatic drugs (DMARD) seperti metotreksat oleh tim rheumatologi.1,6

KomplikasiKomplikasi meliputi artritis kronik yang mengganggu fungsi dan kualitas hidup, serta jarang manifestasi neurologis atau miokarditis pada kasus berat.1,6

PencegahanPencegahan mengandalkan pengendalian vektor Aedes yang sama dengan dengue. Sejak 2023–2025, dua vaksin chikungunya (termasuk vaksin virus hidup atenuasi berbasis IXCHIQ) telah memperoleh persetujuan regulatori di beberapa negara dan direkomendasikan WHO untuk populasi berisiko, namun ketersediaan dan penggunaannya di Indonesia pada pertengahan 2026 masih terbatas.6

Poin Penting
  • Nyeri sendi simetris pada tangan dan kaki merupakan ciri pembeda utama dengan dengue.
  • Diagnosis banding artritis kronik pascachikungunya dengan artritis reumatoid perlu evaluasi rheumatologi.
  • NSAID dihindari sampai dengue tersingkir karena risiko perdarahan.

2.5 Zika

Tingkat Kompetensi 4

DefinisiInfeksi virus Zika adalah penyakit flavivirus yang ditularkan Aedes spp. dan dapat pula ditularkan secara seksual serta dari ibu ke janin, dengan manifestasi umumnya ringan namun berisiko menyebabkan mikrosefali dan sindrom kongenital Zika pada janin.1,7

EpidemiologiKasus Zika di Indonesia bersifat sporadis dan sering tidak terlaporkan karena gejala ringan yang menyerupai dengue ringan; kewaspadaan meningkat pada ibu hamil dengan riwayat perjalanan ke daerah transmisi aktif.7

Etiologi dan PatogenesisVirus Zika bereplikasi dengan viremia relatif rendah dan singkat dibandingkan dengue, namun memiliki neurotropisme yang menjelaskan potensi kerusakan neurologis pada janin yang terinfeksi in utero.1,7

Manifestasi KlinisSebagian besar infeksi asimtomatik atau ringan berupa demam ringan, ruam makulopapular pruritik, konjungtivitis non-purulen, dan artralgia; pada janin dapat menyebabkan mikrosefali dan kelainan neurologis kongenital lain (sindrom Zika kongenital).1,7

Pendekatan DiagnostikDiagnosis menggunakan RT-PCR pada serum/urin fase akut (hingga 2 minggu) dan serologi dengan kewaspadaan reaksi silang terhadap flavivirus lain (termasuk dengue); pada kehamilan dipertimbangkan pemantauan ultrasonografi janin berkala.7

Tata LaksanaTata laksana suportif dengan parasetamol; NSAID/aspirin dihindari sampai dengue disingkirkan; pada kehamilan dilakukan pemantauan tumbuh kembang janin terintegrasi dengan tim obstetri-fetomaternal.1,7

KomplikasiKomplikasi utama adalah sindrom Zika kongenital pada janin serta sindrom Guillain-Barré yang jarang dilaporkan pasca-infeksi pada dewasa.1,7

PencegahanPencegahan meliputi perlindungan dari gigitan nyamuk terutama pada ibu hamil, serta praktik seks aman pada individu dengan riwayat paparan di daerah endemis; belum ada vaksin yang tersedia secara luas.7

Poin Penting
  • Zika dapat menular secara seksual, berbeda dengan dengue dan chikungunya.
  • Kewaspadaan utama adalah pada ibu hamil karena risiko mikrosefali janin.
  • Reaksi silang serologi dengan flavivirus lain membatasi spesifisitas uji antibodi.
Ringkasan Klinis Bab II
  • Dengue, chikungunya, dan Zika ditularkan vektor Aedes yang sama sehingga sering menimbulkan diagnosis banding klinis yang tumpang tindih.
  • Deteksi tanda bahaya dan pemantauan hematokrit serial adalah kunci mencegah progresi DBD menjadi syok.
  • Zika memerlukan kewaspadaan khusus pada kehamilan karena risiko sindrom kongenital pada janin.
Referensi Kunci Bab II
  • Harrison's Principles of Internal Medicine, 21st ed. — Bab Arbovirus dan Flavivirus.
  • Manson's Tropical Diseases, 24th ed. (2024) — Bab Dengue, Chikungunya, dan Flavivirus lain.
  • WHO Dengue Guidelines for Diagnosis, Treatment, Prevention and Control, 2009.
  • KMK RI Nomor HK.01.07/MENKES/9845/2020 — PNPK Tata Laksana Infeksi Dengue pada Dewasa.
  • WHO Position Paper on Dengue Vaccines, Mei 2024.
BAB III

Infeksi Virus Hepatotropik

Virus hepatotropik (HAV, HBV, HCV) menyebabkan spektrum penyakit hati dari infeksi akut swasirna hingga infeksi kronik dengan risiko sirosis dan karsinoma hepatoseluler. Pemahaman mendalam mengenai serologi, indikasi terapi, dan regimen antiviral merupakan kompetensi inti Subspesialis Penyakit Tropik dan Infeksi.

3.1 Hepatitis A

Tingkat Kompetensi 4

DefinisiHepatitis A adalah infeksi hati akut akibat Hepatitis A Virus (HAV), suatu picornavirus yang ditularkan melalui jalur fekal-oral, umumnya bersifat self-limiting tanpa progresi menjadi kronik.1,10

EpidemiologiIndonesia tergolong wilayah endemisitas menengah-tinggi HAV, dengan letupan kasus terkait sanitasi dan sumber air yang tidak memadai serta paparan makanan/minuman terkontaminasi.2,10

Etiologi dan PatogenesisHAV bereplikasi di hepatosit dan menyebabkan kerusakan hati terutama melalui respons imun sel T sitotoksik terhadap sel terinfeksi, bukan efek sitopatik langsung virus.1

Manifestasi KlinisFase prodromal berupa demam, malaise, mual, dan anoreksia diikuti fase ikterik dengan urin gelap, tinja pucat, dan ikterus; pada dewasa gejala cenderung lebih berat dibanding anak.1,10

Pendekatan DiagnostikDiagnosis ditegakkan dengan IgM anti-HAV reaktif disertai peningkatan transaminase (ALT/AST) yang dapat mencapai ribuan U/L; IgG anti-HAV menandakan imunitas dari infeksi lampau atau vaksinasi.1,10

Tata LaksanaTata laksana bersifat suportif (istirahat, hidrasi, nutrisi adekuat, hindari obat hepatotoksik); rawat inap dipertimbangkan pada dehidrasi berat, koagulopati, atau tanda gagal hati akut.1,10

KomplikasiSebagian kecil kasus (terutama dewasa dan pasien penyakit hati kronik yang mendasari) dapat berkembang menjadi hepatitis fulminan dengan gagal hati akut yang mengancam jiwa.1,10

PencegahanPencegahan meliputi vaksinasi HAV, sanitasi dan higiene makanan-minuman, serta imunoglobulin pascapajanan pada kelompok berisiko sesuai indikasi.10

Poin Penting
  • Hepatitis A tidak menjadi kronik, berbeda dengan Hepatitis B dan C.
  • IgM anti-HAV adalah penanda infeksi akut yang menentukan diagnosis.
  • Waspadai hepatitis fulminan pada pasien dengan penyakit hati kronik yang mendasari.

3.2 Hepatitis B (termasuk Fulminan dan Koinfeksi HIV)

Tingkat Kompetensi 4

DefinisiHepatitis B adalah infeksi hati akibat Hepatitis B Virus (HBV), suatu hepadnavirus DNA yang dapat menyebabkan infeksi akut swasirna maupun infeksi kronik dengan risiko sirosis dan karsinoma hepatoseluler.1,8

EpidemiologiIndonesia termasuk wilayah endemisitas menengah HBV dengan prevalensi HBsAg populasi dewasa yang bermakna; transmisi perinatal dan horizontal pada usia dini merupakan jalur utama menuju infeksi kronik.2,8

Etiologi dan PatogenesisKronisitas HBV ditentukan oleh usia saat infeksi (risiko kronisitas tertinggi pada infeksi perinatal) dan interaksi kompleks antara replikasi virus dan respons imun pejamu yang mendasari fase-fase infeksi kronik (imunotoleran, imunoaktif, inaktif, reaktivasi).1,8

Manifestasi KlinisInfeksi akut dapat asimtomatik hingga ikterik menyerupai hepatitis virus lain; infeksi kronik sering asimtomatik selama bertahun-tahun hingga muncul tanda penyakit hati lanjut (asites, ikterus, ensefalopati) pada fase sirosis.1,8

Pendekatan DiagnostikSkrining menggunakan HBsAg; infeksi kronik dikonfirmasi bila HBsAg reaktif >6 bulan, dengan evaluasi lanjut HBeAg/anti-HBe, HBV DNA kuantitatif, dan penilaian fibrosis hati (elastografi/biopsi) untuk menentukan fase dan indikasi terapi.1,8

Tata LaksanaTerapi antiviral lini pertama untuk hepatitis B kronik adalah analog nukleos(t)ida barrier resistensi tinggi yaitu tenofovir disoproxil fumarate 300 mg/hari atau entecavir 0,5 mg/hari (disesuaikan fungsi ginjal), diberikan jangka panjang pada pasien dengan replikasi aktif dan kerusakan hati bermakna; pada koinfeksi HBV-HIV, tenofovir dipilih sebagai bagian regimen antiretroviral yang sekaligus aktif terhadap HBV.1,8,20

KomplikasiKomplikasi meliputi sirosis hati, karsinoma hepatoseluler, dan pada kasus jarang hepatitis B fulminan dengan gagal hati akut yang memerlukan pertimbangan transplantasi hati; reaktivasi HBV dapat terjadi pada imunosupresi termasuk kemoterapi.1,8

PencegahanPencegahan utama adalah vaksinasi HBV universal termasuk dosis lahir pada bayi, skrining ibu hamil dengan pemberian antiviral pada viral load tinggi untuk mencegah transmisi perinatal, serta imunoglobulin hepatitis B pada bayi dari ibu HBsAg reaktif.8

Poin Penting
  • Tenofovir dan entecavir adalah pilihan terapi lini pertama dengan barrier resistensi tinggi.
  • Pada koinfeksi HIV-HBV, regimen ARV harus mengandung tenofovir untuk mengendalikan kedua infeksi.
  • Skrining HBsAg ibu hamil dan profilaksis perinatal esensial mencegah transmisi vertikal.
Penanda SerologiInterpretasi Klinis
HBsAg reaktifInfeksi HBV sedang berlangsung (akut atau kronik)
Anti-HBs reaktifImunitas terhadap HBV (pascainfeksi sembuh atau pascavaksinasi)
IgM Anti-HBc reaktifInfeksi HBV akut atau eksaserbasi akut hepatitis B kronik
HBeAg reaktifReplikasi virus aktif dan infektivitas tinggi
HBV DNA kuantitatif tinggiIndikasi kuat pertimbangan terapi antiviral pada hepatitis B kronik

3.3 Hepatitis C

Tingkat Kompetensi 4

DefinisiHepatitis C adalah infeksi hati akibat Hepatitis C Virus (HCV), suatu flavivirus RNA yang cenderung menjadi kronik pada sebagian besar kasus infeksi akut dan kini dapat disembuhkan dengan terapi antiviral aksi langsung (DAA).1,9

EpidemiologiTransmisi HCV di Indonesia terutama terkait penggunaan jarum suntik tidak steril (termasuk pengguna napza suntik), transfusi darah sebelum skrining ketat, dan prosedur medis tidak aman; koinfeksi dengan HIV meningkatkan kecepatan progresi fibrosis hati.2,9

Etiologi dan PatogenesisHCV memiliki heterogenitas genotipe yang tinggi (genotipe 1–6) yang memengaruhi pemilihan regimen DAA; kegagalan klirens virus pada fase akut menyebabkan infeksi kronik pada sekitar 55–85% kasus.1,9

Manifestasi KlinisInfeksi akut umumnya asimtomatik; infeksi kronik dapat bermanifestasi manifestasi ekstrahepatik (krioglobulinemia, glomerulonefritis) sebelum akhirnya menimbulkan gejala sirosis pada fase lanjut.1,9

Pendekatan DiagnostikSkrining dengan anti-HCV diikuti konfirmasi HCV RNA kuantitatif bila reaktif untuk memastikan infeksi aktif; genotipe HCV diperiksa untuk memandu pemilihan regimen DAA di sebagian fasilitas.9

Tata LaksanaTerapi kuratif menggunakan kombinasi direct-acting antiviral pangenotipik seperti sofosbuvir/velpatasvir atau glecaprevir/pibrentasvir selama 8–12 minggu, dengan target respons virologi berkelanjutan (SVR12) sebagai indikator kesembuhan, mengikuti rekomendasi WHO.9

KomplikasiInfeksi kronik yang tidak diobati dapat berlanjut menjadi sirosis dan karsinoma hepatoseluler; manifestasi ekstrahepatik dapat menyebabkan morbiditas ginjal dan vaskulitis.1,9

PencegahanBelum tersedia vaksin HCV; pencegahan bertumpu pada skrining darah donor, praktik penyuntikan aman, program harm reduction bagi pengguna napza suntik, serta skrining populasi berisiko untuk terapi dini.9

Poin Penting
  • Terapi DAA modern menyembuhkan lebih dari 95% kasus hepatitis C dalam 8–12 minggu.
  • SVR12 (HCV RNA tidak terdeteksi 12 minggu pascaterapi) adalah definisi kesembuhan.
  • Skrining aktif populasi berisiko penting karena mayoritas kasus kronik asimtomatik.
Ringkasan Klinis Bab III
  • Hepatitis A tidak menjadi kronik; Hepatitis B dan C berisiko kronisitas dan progresi menjadi sirosis/karsinoma hepatoseluler.
  • Tenofovir/entecavir adalah terapi lini pertama Hepatitis B kronik; DAA pangenotipik menyembuhkan >95% kasus Hepatitis C.
  • Skrining serologi populasi berisiko penting karena mayoritas hepatitis kronik bersifat asimtomatik pada fase awal.
Referensi Kunci Bab III
  • Harrison's Principles of Internal Medicine, 21st ed. — Bab Hepatitis Virus.
  • Manson's Tropical Diseases, 24th ed. (2024) — Bab Hepatitis Virus.
  • WHO Guidelines for the Prevention, Care and Treatment of Persons with Chronic Hepatitis B Infection, 2015.
  • WHO Guidelines for the Care and Treatment of Persons Diagnosed with Chronic HCV Infection, 2022.
  • PAPDI/Kolegium Ilmu Penyakit Dalam — PPK Hepatitis Virus.
BAB IV

Infeksi Virus Saluran Napas

Infeksi virus saluran napas mencakup spektrum penyakit dari infeksi ringan hingga pandemi global, sebagaimana ditunjukkan oleh COVID-19. Bab ini membahas SARS/COVID-19, avian influenza, dan influenza musiman dengan penekanan pada tata laksana terkini berbasis pedoman WHO dan Kementerian Kesehatan RI.

4.1 SARS dan COVID-19

Tingkat Kompetensi 4

DefinisiSARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) dan COVID-19 adalah penyakit pernapasan akibat betacoronavirus (SARS-CoV dan SARS-CoV-2) yang dapat menyebabkan pneumonia berat dan sindrom distres pernapasan akut (ARDS).1,11

EpidemiologiCOVID-19 menyebabkan pandemi global sejak 2020 dengan gelombang varian yang bersirkulasi (Alpha hingga Omicron dan sublinnya); Indonesia mengalami beberapa gelombang besar dengan beban tertinggi pada populasi lanjut usia dan komorbid.11,12

Etiologi dan PatogenesisSARS-CoV-2 masuk sel pejamu melalui reseptor ACE2, dengan fase awal replikasi virus yang didominasi gejala respiratorik atas, diikuti pada sebagian kasus fase inflamasi lanjut (hari ke-7–10) yang mendasari pneumonia berat dan badai sitokin.1,11

Manifestasi KlinisSpektrum klinis luas dari asimtomatik, gejala ringan (demam, batuk, anosmia/ageusia), hingga pneumonia berat dengan hipoksemia, ARDS, syok septik, dan disfungsi multiorgan pada kasus kritis.1,11

Pendekatan DiagnostikKonfirmasi menggunakan RT-PCR usap nasofaring/orofaring atau rapid antigen test sesuai algoritma nasional; pencitraan toraks (CT-scan) menunjukkan gambaran ground-glass opacity bilateral pada kasus pneumonia; klasifikasi derajat keparahan (ringan/sedang/berat/kritis) memandu tata laksana.11,12

Tata LaksanaKasus ringan-sedang tanpa faktor risiko ditangani suportif rawat jalan; pada kasus dengan risiko progresi diberikan antiviral oral (nirmatrelvir/ritonavir atau molnupiravir) dini dalam 5 hari onset gejala; kasus berat-kritis memerlukan terapi oksigen, kortikosteroid (deksametason 6 mg/hari selama 10 hari) pada pasien yang membutuhkan suplementasi oksigen, serta remdesivir dan/atau imunomodulator (tocilizumab/baricitinib) pada indikasi tertentu sesuai pedoman WHO dan pedoman nasional.11,12

KomplikasiKomplikasi meliputi ARDS, tromboemboli, badai sitokin, cedera ginjal akut, superinfeksi bakteri, dan sindrom pascacovid (long COVID) dengan gejala persisten multisistem.1,11

PencegahanPencegahan meliputi vaksinasi COVID-19 dan booster sesuai rekomendasi, penggunaan masker pada situasi risiko tinggi, ventilasi ruangan, dan kewaspadaan standar serta transmisi droplet/airborne pada fasilitas kesehatan.11,12

Poin Penting
  • Antiviral oral paling efektif bila diberikan dalam 5 hari pertama onset gejala pada pasien berisiko tinggi.
  • Kortikosteroid hanya bermanfaat pada pasien yang membutuhkan oksigen, tidak pada kasus ringan.
  • Klasifikasi derajat keparahan menentukan pilihan terapi dan tempat perawatan.
Derajat Keparahan COVID-19Kriteria Utama
RinganGejala tanpa pneumonia dan tanpa hipoksemia (SpO2 ≥95% udara ruangan)
SedangPneumonia klinis/radiologis tanpa tanda pneumonia berat, SpO2 ≥93%
BeratSpO2 <93%, frekuensi napas >30x/menit, atau distres napas berat
KritisARDS, sepsis, syok septik, atau kondisi yang memerlukan ventilasi mekanis

4.2 Avian Influenza (Flu Burung)

Tingkat Kompetensi 4

DefinisiAvian influenza adalah infeksi akibat virus influenza A subtipe unggas (misalnya H5N1, H5N6, H9N2) yang dapat menular secara zoonotik ke manusia melalui kontak erat dengan unggas terinfeksi, dengan potensi keparahan tinggi pada strain highly pathogenic.1,13

EpidemiologiKasus H5N1 pada manusia di Indonesia telah dilaporkan sejak pertengahan 2000-an dengan angka fatalitas kasus historis global sekitar 50%; sejak Maret 2024, klad 2.3.4.4b menimbulkan wabah luas pada ternak sapi perah dan unggas di Amerika Serikat disertai kasus sporadis pada pekerja peternakan yang sebagian besar bergejala ringan (terutama konjungtivitis), sehingga CDC menilai risiko kesehatan masyarakat umum saat ini rendah namun tetap memerlukan surveilans ketat mengingat potensi mutasi virus.13,14

Etiologi dan PatogenesisVirus avian influenza highly pathogenic menyebabkan replikasi luas pada saluran napas bawah dan dapat menimbulkan badai sitokin berat; adaptasi virus terhadap reseptor manusia yang terbatas menjadi dasar rendahnya transmisi antarmanusia saat ini, namun tetap dalam pengawasan ketat.1,13

Manifestasi KlinisGejala awal menyerupai influenza (demam tinggi, batuk, nyeri tenggorokan) yang progresif cepat menjadi pneumonia berat, ARDS, dan kegagalan multiorgan dalam beberapa hari, dengan angka fatalitas kasus yang jauh lebih tinggi dibanding influenza musiman.1,13

Pendekatan DiagnostikKonfirmasi melalui RT-PCR spesifik subtipe pada spesimen saluran napas di laboratorium rujukan, disertai riwayat epidemiologis kontak unggas/lingkungan berisiko yang esensial untuk kecurigaan klinis awal.13,14

Tata LaksanaOseltamivir dosis standar (75 mg dua kali sehari selama 5 hari) diberikan secara empiris sedini mungkin pada kasus dengan riwayat paparan relevan dan gejala sugestif, tanpa menunggu konfirmasi laboratorium, disertai tata laksana suportif intensif untuk gagal napas; dosis atau durasi lebih tinggi hanya dipertimbangkan pada kasus berat atas penilaian klinis individual. Data laboratorium terkini menunjukkan penurunan sensitivitas neuraminidase klad 2.3.4.4b terhadap oseltamivir dibanding virus influenza musiman, namun secara klinis virus ini dinilai tetap rentan sehingga rekomendasi oseltamivir belum berubah; isolasi ketat dan pelaporan segera ke otoritas kesehatan masyarakat wajib dilakukan.13,14

KomplikasiKomplikasi meliputi ARDS berat, syok, gagal ginjal akut, koagulasi intravaskular diseminata, dan kematian yang dilaporkan pada proporsi kasus yang signifikan.13

PencegahanPencegahan meliputi menghindari kontak dengan unggas sakit/mati dan lingkungan terkontaminasi, kebersihan tangan, alat pelindung diri bagi pekerja peternakan/laboratorium, serta surveilans dan pelaporan dini kasus pada manusia dan unggas.13,14

Poin Penting
  • Riwayat kontak unggas adalah kunci kecurigaan klinis avian influenza pada pasien dengan pneumonia berat.
  • Oseltamivir dosis tinggi diberikan sedini mungkin tanpa menunggu konfirmasi laboratorium pada kasus suspek berat.
  • Kasus suspek wajib segera dilaporkan ke otoritas kesehatan masyarakat karena potensi pandemi.

4.3 Influenza dan Parainfluenza

Tingkat Kompetensi 4

DefinisiInfluenza adalah infeksi saluran napas akut akibat virus influenza A/B musiman, sedangkan parainfluenza terutama menyebabkan infeksi saluran napas atas dan croup; keduanya dapat menimbulkan pneumonia pada populasi berisiko tinggi (lanjut usia, komorbid, imunokompromais).1,14

EpidemiologiInfluenza musiman di Indonesia bersirkulasi sepanjang tahun dengan pola yang kurang tegas dibanding negara empat musim; kelompok risiko tinggi komplikasi meliputi lanjut usia, ibu hamil, dan pasien dengan penyakit kronik.14

Etiologi dan PatogenesisVariasi antigenik (drift) tahunan virus influenza mendasari kebutuhan vaksinasi ulang setiap tahun; replikasi virus di epitel saluran napas dapat merusak barrier mukosa dan mempermudah superinfeksi bakteri sekunder.1,14

Manifestasi KlinisGejala klasik meliputi demam mendadak, mialgia, nyeri kepala, batuk, dan malaise; pada kasus berat dapat berkembang pneumonia viral primer atau pneumonia bakterial sekunder (tersering Streptococcus pneumoniae dan Staphylococcus aureus).1,14

Pendekatan DiagnostikDiagnosis klinis pada musim epidemi dapat dikonfirmasi dengan rapid antigen test atau RT-PCR multipleks panel respiratorik, terutama pada pasien risiko tinggi atau rawat inap untuk memandu tata laksana dan kewaspadaan isolasi.14

Tata LaksanaOseltamivir 75 mg dua kali sehari selama 5 hari diberikan pada kasus berat, berisiko tinggi komplikasi, atau dalam 48 jam onset gejala; kasus ringan pada populasi risiko rendah ditangani suportif; antibiotik hanya diberikan bila terdapat bukti superinfeksi bakteri.1,14

KomplikasiKomplikasi meliputi pneumonia viral atau bakterial sekunder, eksaserbasi penyakit kardiopulmoner kronik, miokarditis, dan ensefalopati pada kasus jarang.1,14

PencegahanVaksinasi influenza tahunan merupakan pencegahan utama terutama pada kelompok risiko tinggi; higiene respiratorik dan isolasi kasus simtomatik mengurangi transmisi nosokomial.14

Poin Penting
  • Oseltamivir paling bermanfaat bila diberikan dalam 48 jam onset gejala.
  • Superinfeksi bakteri sekunder harus dicurigai pada perburukan setelah perbaikan awal (pola bifasik).
  • Vaksinasi tahunan tetap diperlukan karena antigenic drift virus influenza.
Ringkasan Klinis Bab IV
  • Klasifikasi derajat keparahan menentukan pilihan terapi dan tempat perawatan pada infeksi virus saluran napas berat.
  • Riwayat epidemiologis (kontak unggas, riwayat perjalanan, status vaksinasi) esensial dalam evaluasi awal.
  • Antivirus spesifik (oseltamivir, nirmatrelvir/ritonavir) paling efektif bila diberikan dini pada fase awal penyakit.
Referensi Kunci Bab IV
  • WHO COVID-19 Clinical Management: Living Guidance, 2023.
  • Pedoman Tatalaksana COVID-19 Edisi 4 (PDPI/PERKI/PAPDI/PERDATIN/IDAI), 2022.
  • CDC Clinical Guidance for Evaluating Patients and Treatment of Influenza A(H5N1).
  • Harrison's Principles of Internal Medicine, 21st ed. — Bab Influenza dan Infeksi Virus Saluran Napas.
BAB V

Infeksi Virus Herpes dan Eksantematosa

Bab ini membahas infeksi virus herpes (Varisela-Zoster dan Herpes Simpleks) yang bersifat laten-rekuren, serta penyakit eksantematosa yang dapat dicegah dengan vaksin (morbili, rubella, mumps) yang tetap relevan diwaspadai Subspesialis Tropik dan Infeksi pada konteks letupan kasus dan populasi imunokompromais.

5.1 Varisela dan Herpes Zoster

Tingkat Kompetensi 4

DefinisiVarisela (cacar air) adalah infeksi primer Virus Varisela-Zoster (VZV), sedangkan Herpes Zoster (HZ) adalah reaktivasi VZV laten dari ganglion sensorik yang menimbulkan ruam vesikuler dermatomal disertai nyeri neuropatik.1,24

EpidemiologiVarisela lebih sering menyerang usia anak namun dapat lebih berat pada dewasa dan imunokompromais; HZ meningkat insidensinya seiring usia dan penurunan imunitas seluler, termasuk pada pasien HIV, keganasan, dan penerima imunosupresan.1,24

Etiologi dan PatogenesisSetelah infeksi primer, VZV menetap laten di ganglion radiks dorsalis; penurunan imunitas seluler spesifik VZV memungkinkan reaktivasi virus yang bermigrasi sepanjang saraf sensorik menimbulkan HZ dermatomal.1

Manifestasi KlinisVarisela ditandai ruam vesikuler generalisata dalam berbagai stadium (papul-vesikel-krusta) disertai demam; HZ menimbulkan nyeri prodromal diikuti erupsi vesikuler unilateral sesuai dermatom, dapat disertai neuralgia pascaherpetik yang menetap.1,24

Pendekatan DiagnostikDiagnosis umumnya klinis berdasarkan morfologi dan distribusi lesi; PCR cairan vesikel dapat digunakan pada kasus atipikal atau imunokompromais untuk konfirmasi dan diagnosis banding dengan infeksi HSV.1

Tata LaksanaAsiklovir oral 800 mg 5 kali sehari selama 7–10 hari (varisela dewasa) atau valasiklovir 1000 mg tiga kali sehari selama 7 hari (HZ) diberikan idealnya dalam 72 jam onset ruam; kasus berat/diseminata pada imunokompromais memerlukan asiklovir intravena 10 mg/kgBB setiap 8 jam; gabapentin/pregabalin dipertimbangkan untuk neuralgia pascaherpetik.1,24

KomplikasiKomplikasi meliputi pneumonia varisela pada dewasa, ensefalitis, HZ oftalmikus dengan risiko kebutaan, HZ diseminata pada imunokompromais, dan neuralgia pascaherpetik kronik.1,24

PencegahanVaksinasi varisela pada anak dan vaksin HZ (rekombinan) pada dewasa lanjut usia merupakan pencegahan utama; isolasi kontak pada varisela aktif mengurangi transmisi nosokomial.24

Poin Penting
  • Terapi antivirus paling efektif bila diberikan dalam 72 jam onset ruam.
  • HZ oftalmikus (melibatkan cabang nasosiliaris) memerlukan rujukan mata segera.
  • HZ diseminata pada imunokompromais memerlukan terapi intravena dan isolasi kontak-airborne.

5.2 Infeksi Virus Herpes Simpleks Tipe 1 dan 2

Tingkat Kompetensi 4

DefinisiInfeksi Virus Herpes Simpleks (HSV-1 dan HSV-2) menyebabkan lesi vesikuler rekuren pada mukokutan orolabial (predominan HSV-1) dan genital (predominan HSV-2), dengan kemampuan laten di ganglion sensorik dan reaktivasi berulang.1

EpidemiologiSeroprevalensi HSV-1 tinggi pada populasi umum akibat transmisi non-seksual sejak usia dini, sedangkan HSV-2 terutama ditularkan melalui kontak seksual dan berkorelasi dengan peningkatan risiko akuisisi/transmisi HIV.1,2

Etiologi dan PatogenesisInfeksi primer diikuti latensi ganglion trigeminal (HSV-1) atau sakral (HSV-2); reaktivasi dipicu oleh stres, paparan sinar ultraviolet, demam, atau imunosupresi, dengan shedding virus asimtomatik yang berkontribusi pada transmisi.1

Manifestasi KlinisLesi khas berupa vesikel berkelompok di atas dasar eritematosa yang pecah menjadi ulkus dangkal nyeri; episode primer sering lebih berat dan lama dibanding episode rekuren; pada imunokompromais dapat terjadi lesi kronik progresif atau diseminata.1

Pendekatan DiagnostikPCR cairan/kerokan lesi merupakan metode diagnostik pilihan dengan sensitivitas tinggi; kultur virus dan serologi tipe-spesifik digunakan pada indikasi tertentu.1

Tata LaksanaEpisode primer diobati dengan asiklovir 400 mg tiga kali sehari atau valasiklovir 1000 mg dua kali sehari selama 7–10 hari; terapi supresif harian (asiklovir 400 mg dua kali sehari atau valasiklovir 500 mg sekali sehari) dipertimbangkan pada rekurensi sering (>6 episode/tahun) atau untuk mengurangi transmisi pada pasangan.1

KomplikasiKomplikasi meliputi ensefalitis HSV (terutama HSV-1, kegawatdaruratan neurologis), herpes neonatal pada transmisi perinatal, dan keratitis herpetik yang dapat menyebabkan gangguan penglihatan.1

PencegahanEdukasi mengenai risiko penularan saat lesi aktif maupun shedding asimtomatik, penggunaan kondom, dan terapi supresif pada pasangan diskordan mengurangi risiko transmisi; skrining dan tata laksana pada kehamilan aterm mengurangi risiko herpes neonatal.1

Poin Penting
  • PCR adalah baku emas diagnostik dengan sensitivitas jauh lebih tinggi dibanding kultur.
  • Ensefalitis HSV merupakan kegawatdaruratan yang memerlukan asiklovir intravena empiris segera.
  • Terapi supresif harian efektif menurunkan frekuensi rekurensi dan risiko transmisi.

5.3 Morbili, Rubella, dan Mumps

Tingkat Kompetensi 4

DefinisiMorbili (campak), rubella, dan mumps (gondongan) adalah penyakit eksantematosa/infeksi virus yang dapat dicegah dengan vaksin (vaccine-preventable diseases), masing-masing disebabkan oleh Morbillivirus, Rubivirus, dan Rubulavirus.1,24

EpidemiologiLetupan kasus morbili masih terjadi di Indonesia pada kantong-kantong dengan cakupan imunisasi rendah; rubella penting diwaspadai pada wanita usia subur karena risiko Congenital Rubella Syndrome (CRS) bila terinfeksi pada kehamilan trimester pertama; mumps dapat menimbulkan letupan pada komunitas tertutup seperti asrama.1,24

Etiologi dan PatogenesisKetiga virus ditularkan melalui droplet respiratorik dengan masa inkubasi 12–18 hari (morbili), 14–21 hari (rubella), dan 16–18 hari (mumps); morbili sangat kontagius dengan reproductive number tertinggi di antara penyakit menular manusia.1,24

Manifestasi KlinisMorbili ditandai demam tinggi, batuk, koriza, konjungtivitis, bercak Koplik, diikuti ruam makulopapular kraniokaudal; rubella menimbulkan ruam ringan disertai limfadenopati suboksipital/retroaurikular; mumps ditandai parotitis unilateral/bilateral nyeri disertai demam.1,24

Pendekatan DiagnostikDiagnosis klinis pada kasus khas didukung serologi IgM spesifik atau RT-PCR pada spesimen usap tenggorok/urin sesuai jenis virus, terutama penting untuk konfirmasi kasus pada program surveilans eliminasi campak-rubella.1,24

Tata LaksanaTata laksana ketiganya bersifat suportif (antipiretik, hidrasi, nutrisi); pada morbili suplementasi vitamin A direkomendasikan WHO untuk mengurangi morbiditas dan mortalitas terutama pada anak dengan defisiensi vitamin A; tidak terdapat terapi antivirus spesifik untuk ketiga penyakit ini.1,24

KomplikasiMorbili dapat menyebabkan pneumonia, ensefalitis akut, dan subacute sclerosing panencephalitis (SSPE) beberapa tahun kemudian; rubella kongenital menyebabkan kelainan jantung, katarak, dan tuli sensorineural pada bayi; mumps dapat menyebabkan orkitis, meningitis aseptik, dan pankreatitis.1,24

PencegahanVaksinasi MR/MMR merupakan pencegahan utama dengan target cakupan tinggi untuk mencapai imunitas kelompok; investigasi dan respons cepat pada setiap kasus suspek morbili penting dalam konteks program eliminasi.24

Poin Penting
  • Bercak Koplik adalah tanda patognomonik morbili pada fase prodromal.
  • Rubella pada trimester pertama kehamilan berisiko tinggi menyebabkan sindrom rubella kongenital.
  • Tidak ada terapi antivirus spesifik; vaksinasi adalah strategi pengendalian utama ketiga penyakit ini.
PenyakitMasa InkubasiTanda Khas
Morbili12–18 hariBercak Koplik, ruam kraniokaudal
Rubella14–21 hariLimfadenopati suboksipital, ruam ringan
Mumps16–18 hariParotitis unilateral/bilateral
Ringkasan Klinis Bab V
  • Infeksi herpesvirus bersifat laten dan dapat bereaktivasi seumur hidup; terapi antivirus paling efektif diberikan dini.
  • Ensefalitis HSV dan HZ oftalmikus merupakan kegawatdaruratan yang memerlukan penanganan segera.
  • Morbili, rubella, dan mumps adalah penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin; vaksinasi tetap strategi pengendalian utama.
Referensi Kunci Bab V
  • Harrison's Principles of Internal Medicine, 21st ed. — Bab Herpesviridae dan Penyakit Eksantematosa Virus.
  • WHO Position Papers on Vaccines — Measles, Mumps, Rubella and Varicella-Zoster.
BAB VI

Infeksi Virus Zoonotik dan Emerging/Re-emerging

Infeksi virus zoonotik dan emerging/re-emerging memiliki angka fatalitas kasus yang tinggi dan berpotensi menimbulkan kedaruratan kesehatan masyarakat. Bab ini membahas rabies (endemis di sebagian wilayah Indonesia), yellow fever dan Ebola (relevan dalam konteks kesehatan wisata dan kesiapsiagaan importasi), serta hantavirus.

6.1 Rabies

Tingkat Kompetensi 4

DefinisiRabies adalah ensefalomielitis akut fatal akibat Lyssavirus yang ditularkan melalui gigitan atau cakaran hewan terinfeksi (terutama anjing di Indonesia), dengan case fatality rate mendekati 100% setelah gejala klinis muncul.1,15

EpidemiologiIndonesia memiliki wilayah endemis rabies (a.l. sebagian Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali, NTT) dengan anjing sebagai reservoir dan vektor utama penularan ke manusia.15,16

Etiologi dan PatogenesisVirus rabies menyebar secara retrograd sepanjang akson saraf perifer menuju sistem saraf pusat dengan kecepatan bergantung jarak luka terhadap otak, menjelaskan variabilitas masa inkubasi (rata-rata 1–3 bulan, dapat lebih pendek pada luka wajah/kepala).1,15

Manifestasi KlinisGejala prodromal berupa parestesia di lokasi gigitan, demam, dan malaise, diikuti fase neurologis akut berupa hidrofobia, aerofobia, agitasi (rabies furiosa) atau paralisis asendens (rabies paralitik), berujung koma dan kematian.1,15

Pendekatan DiagnostikDiagnosis antemortem sulit dan mengandalkan riwayat paparan serta gambaran klinis khas; konfirmasi laboratorium (RT-PCR saliva/CSF, deteksi antigen kulit tengkuk) tersedia di laboratorium rujukan namun tata laksana pascapajanan tidak boleh menunggu konfirmasi.15,16

Tata LaksanaSetelah gejala klinis muncul, rabies tidak memiliki terapi kuratif dan bersifat fatal; tata laksana berfokus pada perawatan paliatif; pencegahan pascapajanan (PEP) — cuci luka segera dengan sabun/air mengalir 15 menit, vaksinasi rabies sesuai regimen, dan pemberian imunoglobulin rabies pada paparan risiko tinggi — merupakan intervensi yang menyelamatkan nyawa bila diberikan sebelum gejala muncul.15,16

KomplikasiKomplikasi berupa disfungsi otonom berat, aritmia, dan kegagalan pernapasan yang berujung kematian; tidak ada kasus sintas dengan gejala klinis lengkap yang terdokumentasi baik tanpa protokol eksperimental intensif.1,15

PencegahanPencegahan meliputi vaksinasi massal hewan peliharaan (anjing), edukasi masyarakat tentang tata laksana luka gigitan, ketersediaan PEP di fasilitas kesehatan, dan vaksinasi pra-pajanan pada kelompok berisiko tinggi (dokter hewan, petugas laboratorium).15,16

Poin Penting
  • PEP harus dimulai segera setelah gigitan tersangka rabies tanpa menunggu observasi hewan bila hewan tidak dapat diobservasi.
  • Cuci luka segera adalah langkah pertama paling penting dan sering terabaikan.
  • Rabies yang telah bergejala klinis bersifat fatal; pencegahan adalah satu-satunya strategi efektif.

6.2 Yellow Fever

Tingkat Kompetensi 4

DefinisiYellow fever (demam kuning) adalah infeksi flavivirus yang ditularkan nyamuk Aedes/Haemagogus, endemis di Afrika sub-Sahara dan Amerika Selatan, relevan secara klinis di Indonesia terutama dalam konteks kesehatan wisata dan persyaratan vaksinasi internasional.1,17

EpidemiologiSecara global, WHO memperkirakan 67.000–173.000 infeksi berat dan 31.000–82.000 kematian yellow fever terjadi setiap tahun, dengan beban terbesar di 27 negara Afrika dan 13 negara Amerika Latin berisiko tinggi; Indonesia bukan wilayah endemis namun berisiko importasi dari pelancong yang kembali dari negara endemis, sehingga sertifikat vaksinasi internasional (International Certificate of Vaccination) diwajibkan bagi pelancong dari/ke negara endemis tertentu.17

Etiologi dan PatogenesisSetelah viremia awal, sebagian kecil kasus berlanjut ke fase toksik dengan kerusakan hepatoseluler dan ginjal luas serta koagulopati akibat replikasi virus sistemik dan respons inflamasi yang tidak terkendali.1,17

Manifestasi KlinisFase infeksi awal (3–4 hari) berupa demam, nyeri kepala, mialgia, dan mual; sebagian kasus mengalami remisi singkat lalu masuk fase toksik dengan ikterus, perdarahan, oliguria, dan disfungsi multiorgan yang berpotensi fatal.1,17

Pendekatan DiagnostikDiagnosis ditegakkan melalui RT-PCR pada fase viremia awal atau serologi (dengan kewaspadaan reaksi silang flavivirus), disertai riwayat perjalanan ke wilayah endemis sebagai kunci kecurigaan klinis.17

Tata LaksanaTidak terdapat terapi antivirus spesifik; tata laksana bersifat suportif intensif termasuk manajemen koagulopati, gangguan hemodinamik, dan cedera ginjal akut pada fase toksik.1,17

KomplikasiKomplikasi fase toksik meliputi gagal hati fulminan, gagal ginjal akut, koagulasi intravaskular diseminata, dan kematian pada sekitar 20–50% kasus yang mencapai fase toksik.17

PencegahanVaksinasi yellow fever (vaksin hidup atenuasi) sangat efektif dan diwajibkan bagi pelancong ke/dari wilayah endemis tertentu sesuai International Health Regulations; kontraindikasi vaksin perlu diperhatikan pada imunokompromais berat dan usia sangat lanjut.17

Poin Penting
  • Riwayat perjalanan ke Afrika sub-Sahara atau Amerika Selatan adalah kunci kecurigaan pada kasus demam ikterik.
  • Vaksin yellow fever memberikan proteksi jangka panjang dan diwajibkan secara internasional bagi pelancong tertentu.
  • Tidak ada terapi antivirus spesifik; tata laksana fase toksik bersifat suportif intensif.

6.3 Ebola

Tingkat Kompetensi 4

DefinisiPenyakit Ebola (Ebola Disease, sebelumnya disebut Ebola Virus Disease) adalah demam berdarah virus akibat genus Orthoebolavirus (famili Filoviridae, mencakup spesies Zaire, Sudan, Bundibugyo, Reston, dan Taï Forest) dengan case fatality rate tinggi, relevan bagi subspesialis Tropik-Infeksi Indonesia terutama dalam konteks kesiapsiagaan kesehatan wisata dan skrining pelancong dari wilayah letupan.1,18

EpidemiologiLetupan Ebola terjadi terutama di Afrika Tengah dan Barat; pada 15 Mei 2026, Kementerian Kesehatan Republik Demokratik Kongo (RDK) secara resmi mengumumkan wabah ke-17 penyakit Ebola di negara tersebut akibat virus Bundibugyo, dengan kasus terkait yang juga dikonfirmasi di Uganda, dan WHO menetapkan status kedaruratan regional pada 17 Mei 2026 — menegaskan bahwa Ebola tetap menjadi ancaman kesehatan masyarakat aktif hingga pertengahan 2026. Indonesia belum pernah melaporkan kasus asli namun tetap memerlukan kesiapsiagaan skrining pelancong dan protokol isolasi ketat bagi kasus suspek importasi.18,28

Etiologi dan PatogenesisVirus Ebola menyebabkan kerusakan endotel luas dan disregulasi koagulasi melalui infeksi sel dendritik dan makrofag yang memicu badai sitokin masif, mendasari kebocoran vaskular dan diatesis perdarahan.1,18

Manifestasi KlinisGejala awal menyerupai penyakit demam akut non-spesifik (demam, kelemahan, mialgia, sakit kepala, nyeri tenggorokan) yang progresif menjadi muntah, diare berat, ruam, dan pada sebagian kasus manifestasi perdarahan serta kegagalan multiorgan.1,18

Pendekatan DiagnostikKonfirmasi memerlukan RT-PCR di laboratorium biosafety level tinggi; penanganan spesimen dan pasien suspek memerlukan protokol keamanan hayati dan alat pelindung diri lengkap sesuai pedoman WHO.18

Tata LaksanaTata laksana suportif intensif (resusitasi cairan-elektrolit, koreksi koagulopati) tetap menjadi dasar untuk seluruh spesies Ebola; antibodi monoklonal (Inmazeb dan Ebanga) telah disetujui FDA namun secara spesifik hanya untuk infeksi spesies Zaire (Orthoebolavirus zairense) — pada wabah spesies lain seperti Bundibugyo yang terjadi di RDK dan Uganda tahun 2026, belum tersedia vaksin atau terapi spesifik yang disetujui, sehingga perawatan suportif dini menjadi penentu utama kelangsungan hidup pasien.18,28

KomplikasiKomplikasi meliputi syok hipovolemik, koagulasi intravaskular diseminata, gagal multiorgan, dan sekuel pascasembuh (uveitis, artralgia, kelelahan kronik) pada penyintas.1,18

PencegahanPencegahan meliputi kewaspadaan isolasi ketat, penggunaan alat pelindung diri lengkap bagi tenaga kesehatan, dan pelacakan kontak; vaksin rVSV-ZEBOV (Ervebo) telah disetujui FDA dan direkomendasikan untuk populasi berisiko namun hanya efektif terhadap spesies Zaire, sehingga tidak memberikan proteksi pada wabah akibat spesies lain seperti Bundibugyo.18,28

Poin Penting
  • Per pertengahan 2026 terdapat wabah aktif penyakit Ebola (virus Bundibugyo) di RDK dan Uganda; riwayat perjalanan ke wilayah letupan aktif wajib ditanyakan pada setiap kasus demam berat yang datang dari Afrika Tengah.
  • Vaksin dan antibodi monoklonal yang tersedia saat ini hanya terbukti efektif untuk spesies Zaire, tidak untuk spesies Bundibugyo atau Sudan.
  • Kewaspadaan isolasi ketat harus diterapkan segera pada kasus suspek sebelum konfirmasi laboratorium.
  • Notifikasi otoritas kesehatan masyarakat dan koordinasi internasional wajib dilakukan segera pada kasus suspek.

6.4 Hantavirus

Tingkat Kompetensi 4

DefinisiInfeksi hantavirus adalah zoonosis yang ditularkan melalui inhalasi aerosol ekskreta rodensia terinfeksi, dapat bermanifestasi sebagai Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) atau Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) tergantung spesies virus.1,19

EpidemiologiKasus hantavirus pada manusia jarang dilaporkan di Indonesia namun paparan terhadap rodensia di lingkungan pertanian/gudang tetap menjadi faktor risiko yang perlu diwaspadai subspesialis Tropik-Infeksi terutama pada kasus demam dengan gagal ginjal atau gagal napas akut yang tidak jelas etiologinya. Relevansi topik ini meningkat sejak Mei 2026, ketika CDC dan WHO melaporkan wabah Andes virus (hantavirus Dunia Baru asal Amerika Selatan) pada sebuah kapal pesiar, yang menjadi perhatian global karena Andes virus adalah satu-satunya jenis hantavirus yang diketahui dapat menular antarmanusia melalui kontak erat dan cairan tubuh — berbeda dengan hantavirus lain yang hanya ditularkan rodensia ke manusia.19,29

Etiologi dan PatogenesisVirus bereplikasi di endotel vaskular paru (HPS) atau ginjal (HFRS) menyebabkan peningkatan permeabilitas kapiler yang mendasari edema paru non-kardiogenik atau gagal ginjal akut, tanpa kerusakan sitopatik endotel yang nyata. Andes virus merupakan pengecualian penting karena, selain ditularkan rodensia, juga dapat menular dari manusia ke manusia melalui kontak fisik erat dan berkepanjangan dengan pasien simtomatik.1,19,29

Manifestasi KlinisHPS diawali gejala prodromal mirip influenza yang progresif cepat (dalam 24–48 jam) menjadi edema paru dan gagal napas berat; HFRS ditandai demam, nyeri pinggang, proteinuria, dan gagal ginjal akut yang dapat disertai manifestasi hemoragik.1,19

Pendekatan DiagnostikDiagnosis ditegakkan melalui serologi IgM/IgG spesifik hantavirus atau RT-PCR pada laboratorium rujukan, didukung riwayat paparan rodensia/lingkungan berisiko.19

Tata LaksanaTidak terdapat terapi antivirus spesifik yang terbukti secara luas; tata laksana bersifat suportif intensif meliputi ventilasi mekanis dan dukungan sirkulasi pada HPS, serta terapi pengganti ginjal pada HFRS berat.1,19

KomplikasiKomplikasi meliputi gagal napas refrakter pada HPS dengan mortalitas tinggi, dan gagal ginjal akut berat pada HFRS yang dapat memerlukan dialisis.19

PencegahanPencegahan meliputi pengendalian populasi rodensia, ventilasi area berisiko sebelum dimasuki (gudang, kandang), dan penggunaan alat pelindung diri saat membersihkan area terkontaminasi ekskreta rodensia.19

Poin Penting
  • Riwayat paparan rodensia penting ditelusuri pada kasus demam dengan gagal napas atau gagal ginjal akut yang tidak jelas.
  • Andes virus adalah pengecualian satu-satunya hantavirus yang terbukti menular antarmanusia — riwayat kontak erat dengan pasien terkonfirmasi (termasuk riwayat perjalanan terkait wabah kapal pesiar 2026) perlu ditelusuri.
  • HPS dapat memburuk sangat cepat dalam 24–48 jam sehingga observasi ketat diperlukan.
  • Tata laksana bersifat suportif karena belum ada antivirus spesifik yang mapan.
PenyakitCase Fatality Rate (bergejala)Vaksin Tersedia
Rabies~100% setelah gejala munculYa (pra- dan pascapajanan)
Yellow Fever20–50% pada fase toksikYa (hidup atenuasi)
EbolaBervariasi menurut spesies/wabah, dapat tinggiYa, tapi hanya utk spesies Zaire (Ervebo)
Hantavirus (HPS)Tinggi pada HPS, bervariasi pada HFRSTidak tersedia luas
Ringkasan Klinis Bab VI
  • Riwayat epidemiologis (gigitan hewan, riwayat perjalanan, paparan rodensia) adalah kunci kecurigaan klinis pada kelompok penyakit ini.
  • Rabies bergejala klinis bersifat fatal — pencegahan pascapajanan segera adalah intervensi yang menyelamatkan nyawa.
  • Kewaspadaan isolasi ketat dan notifikasi otoritas kesehatan masyarakat wajib pada kasus suspek Ebola.
Referensi Kunci Bab VI
  • CDC Clinical Overview of Rabies.
  • WHO Position Paper on Rabies Vaccines, April 2018 (Wkly Epidemiol Rec. 2018;93(16):201-220).
  • WHO Yellow Fever Fact Sheet (2025) dan Ebola Virus Disease Fact Sheet.
  • WHO Disease Outbreak News — Ebola (Bundibugyo), RDK & Uganda, Mei 2026.
  • CDC About Hantavirus; CDC HAN Update — Wabah Andes Virus 2026.
BAB VII

Human Immunodeficiency Virus (HIV)

HIV merupakan salah satu fokus kompetensi terpenting Subspesialis Penyakit Tropik dan Infeksi, mencakup diagnosis, inisiasi dan pemantauan terapi antiretroviral jangka panjang, tata laksana infeksi oportunistik, serta strategi pencegahan komprehensif. Bab ini menguraikan aspek klinis HIV secara menyeluruh sesuai kerangka kompetensi Tingkat 4.

7.1 Definisi dan Epidemiologi

Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah retrovirus yang menginfeksi dan secara progresif menghancurkan limfosit T CD4+, menyebabkan defisiensi imun seluler yang pada tahap lanjut (Acquired Immunodeficiency Syndrome/AIDS) memungkinkan terjadinya infeksi oportunistik dan keganasan terkait AIDS.1,21 Epidemi HIV di Indonesia terkonsentrasi pada populasi kunci (pengguna napza suntik, pekerja seks dan pelanggannya, lelaki seks lelaki, waria) namun terus meluas ke populasi umum, dengan tantangan besar pada keterlambatan diagnosis (late presenter) yang meningkatkan risiko infeksi oportunistik berat saat pertama kali terdiagnosis.22,23

7.2 Patogenesis

HIV masuk sel CD4+ melalui reseptor CD4 dan koreseptor CCR5/CXCR4, kemudian menyisipkan DNA proviral ke genom pejamu melalui enzim reverse transcriptase dan integrase, menjadikan infeksi HIV tidak dapat dieradikasi sepenuhnya dengan terapi yang tersedia saat ini (persistensi reservoir laten).1,21 Penurunan CD4 progresif terjadi melalui destruksi langsung sel terinfeksi, apoptosis sel bystander, dan disfungsi imun kronik akibat aktivasi imun persisten, yang mendasari stratifikasi risiko infeksi oportunistik berdasarkan nilai CD4.1

7.3 Manifestasi Klinis dan Stadium

Infeksi akut HIV dapat bermanifestasi sebagai sindrom retroviral akut (demam, faringitis, limfadenopati, ruam, menyerupai mononukleosis) 2–4 minggu pascapajanan, diikuti fase laten klinis yang dapat berlangsung bertahun-tahun tanpa terapi, dan akhirnya fase AIDS yang ditandai infeksi oportunistik dan/atau keganasan terkait AIDS.1,21 Stadium klinis WHO (stadium 1–4) digunakan untuk menilai keparahan penyakit berdasarkan manifestasi klinis, sementara hitung CD4 dan viral load HIV RNA digunakan untuk stratifikasi risiko dan pemantauan respons terapi.21,22

7.4 Diagnosis

Diagnosis HIV mengikuti algoritma tes serial menggunakan rapid diagnostic test (RDT) atau enzyme immunoassay generasi keempat (deteksi antigen p24 dan antibodi) sesuai strategi nasional, dengan konfirmasi menggunakan kombinasi reagen berbeda; NAT (HIV RNA/DNA) digunakan untuk diagnosis pada bayi <18 bulan karena keterbatasan interpretasi antibodi maternal yang ditransfer pasif.21,22 Pemeriksaan CD4 dan viral load HIV RNA baseline dilakukan segera setelah diagnosis untuk menentukan stadium imunologis dan merencanakan tata laksana, termasuk skrining infeksi oportunistik laten yang relevan (tuberkulosis, kriptokokosis pada CD4 rendah).21,22

7.5 Terapi Antiretroviral

Terapi antiretroviral (ART) direkomendasikan bagi seluruh ODHIV segera setelah diagnosis tanpa memandang nilai CD4 (strategi "test and treat"), dengan regimen lini pertama yang direkomendasikan WHO dan Kemenkes RI berupa kombinasi dua inhibitor reverse transcriptase nukleos(t)ida (umumnya tenofovir disoproxil fumarate + lamivudine atau emtricitabine) dikombinasikan dengan inhibitor integrase dolutegravir sebagai backbone utama karena potensi tinggi, barrier resistensi tinggi, dan profil efek samping yang baik.20,21,22 Pemantauan viral load HIV RNA dilakukan pada bulan ke-6 dan ke-12 setelah inisiasi ART kemudian setiap 6–12 bulan untuk memastikan supresi virologis (<50 kopi/mL), dengan evaluasi kepatuhan sebagai langkah pertama bila terjadi kegagalan virologis sebelum beralih ke regimen lini kedua.20,21

Pada koinfeksi HIV-TB, ART diinisiasi dalam 2–8 minggu setelah mulai terapi tuberkulosis (lebih awal pada CD4 sangat rendah) dengan kewaspadaan terhadap Immune Reconstitution Inflammatory Syndrome (IRIS) dan interaksi obat antara rifampisin dan beberapa golongan ARV.20,22

7.6 Infeksi Oportunistik pada HIV

Tingkat Kompetensi: 4 — HIV dengan infeksi oportunistik dan komorbid/komplikasi.^KKI Risiko infeksi oportunistik berkorelasi kuat dengan nilai CD4: kandidiasis orofaring dan tuberkulosis dapat terjadi pada CD4 relatif tinggi, sedangkan Pneumocystis jirovecii pneumonia (CD4 <200/µL), toksoplasmosis serebral dan kriptokokosis meningeal (CD4 <100/µL), serta infeksi Mycobacterium avium complex dan retinitis CMV (CD4 <50/µL) menandakan imunosupresi berat.1,21 Profilaksis primer kotrimoksazol direkomendasikan pada CD4 <200/µL untuk mencegah PCP dan toksoplasmosis, sementara profilaksis flukonazol dipertimbangkan pada wilayah beban kriptokokosis tinggi dengan CD4 sangat rendah sesuai kebijakan program nasional.21,22

7.7 Pemantauan Jangka Panjang Terapi Antiretroviral

Tingkat Kompetensi: 4 — Monitoring terapi antiretroviral HIV jangka panjang. Pemantauan jangka panjang ODHIV pada ART mencakup evaluasi kepatuhan berkala, pemantauan efek samping metabolik (dislipidemia, resistensi insulin terkait beberapa golongan ARV), fungsi ginjal (khususnya pada penggunaan tenofovir disoproxil fumarate jangka panjang), densitas tulang, serta skrining komorbiditas kardiovaskular yang meningkat pada populasi ODHIV usia lanjut akibat inflamasi kronik residual.20,21 Evaluasi virologi dan imunologi berkala serta konseling kepatuhan berkelanjutan merupakan pilar keberhasilan terapi jangka panjang dan pencegahan resistensi.20,22

7.8 Pencegahan

Strategi pencegahan HIV komprehensif mencakup beberapa pilihan profilaksis pra-pajanan (PrEP): PrEP oral harian berbasis tenofovir, cincin vagina dapivirin, injeksi cabotegravir kerja panjang (CAB-LA) setiap dua bulan, dan sejak rekomendasi WHO pada 14 Juli 2025, injeksi lenacapavir dua kali setahun sebagai opsi PrEP jangka paling panjang yang tersedia saat ini — sebuah kemajuan penting yang berpotensi mengatasi tantangan kepatuhan PrEP oral harian. Selain PrEP, strategi pencegahan lain meliputi profilaksis pascapajanan (PEP) dalam 72 jam setelah pajanan berisiko, program pencegahan penularan dari ibu ke anak (PPIA) dengan ART pada seluruh ibu hamil ODHIV, program layanan jarum suntik steril bagi pengguna napza suntik, serta prinsip Undetectable = Untransmittable (U=U) sebagai dasar edukasi bahwa ODHIV dengan viral load tersupresi stabil secara virologis tidak menularkan HIV secara seksual.21,22,23,27

Nilai CD4 (sel/µL)Risiko Infeksi Oportunistik Utama
<200Pneumocystis jirovecii pneumonia, kandidiasis esofagus
<100Toksoplasmosis serebral, kriptokokosis meningeal
<50Infeksi Mycobacterium avium complex, retinitis CMV
Ringkasan Klinis Bab VII
  • ART direkomendasikan segera setelah diagnosis pada seluruh ODHIV tanpa memandang nilai CD4.
  • Regimen lini pertama berbasis dolutegravir memberikan potensi supresi virologis tinggi dengan barrier resistensi tinggi.
  • Lenacapavir injeksi dua kali setahun (WHO, Juli 2025) adalah opsi PrEP kerja-paling-panjang yang tersedia saat ini.
  • Prinsip U=U mendasari edukasi bahwa ODHIV dengan viral load tersupresi tidak menularkan HIV secara seksual.
Referensi Kunci Bab VII
  • HHS Guidelines for the Use of Antiretroviral Agents in Adults and Adolescents with HIV (clinicalinfo.hiv.gov, living guideline).
  • WHO Consolidated Guidelines on HIV Prevention, Testing, Treatment, Service Delivery and Monitoring, 3rd ed, 2021.
  • KMK RI Nomor HK.01.07/MENKES/90/2019 — PNPK Tata Laksana HIV.
  • WHO News Release — Rekomendasi Lenacapavir Injeksi untuk PrEP HIV, 14 Juli 2025.
BAB VIII

Terapi Antivirus Lanjut dan Manajemen Resistensi

Bab penutup ini mengintegrasikan prinsip farmakologi antivirus lanjut dan pendekatan sistematis terhadap kasus resistensi antivirus, kompetensi subspesialistik yang membedakan Subspesialis Penyakit Tropik dan Infeksi dari dokter spesialis penyakit dalam umum dalam menangani kasus kompleks lintas kelompok virus.

8.1 Golongan Obat Antivirus dan Mekanisme Kerja

Golongan antivirus dapat dikelompokkan berdasarkan target mekanistik: (1) inhibitor polimerase asam nukleat — analog nukleos(t)ida (asiklovir/valasiklovir untuk herpesvirus, tenofovir/entecavir untuk HBV, sofosbuvir untuk HCV) dan analog non-nukleosida; (2) inhibitor protease virus (nirmatrelvir untuk SARS-CoV-2, kombinasi inhibitor protease HIV, glecaprevir/velpatasvir untuk HCV); (3) inhibitor neuraminidase (oseltamivir, zanamivir) untuk influenza; (4) inhibitor entry/fusi dan inhibitor integrase pada HIV; (5) inhibitor kapsid — golongan terbaru yang mencakup lenacapavir, disetujui FDA Juni 2025 dan direkomendasikan WHO Juli 2025 sebagai PrEP HIV injeksi dua kali setahun; serta (6) antibodi monoklonal target virus spesifik yang penggunaannya masih terbatas pada indikasi tertentu.1,20,27

Pemahaman mekanisme kerja penting secara klinis karena menentukan waktu pemberian optimal (paling efektif pada fase replikasi aktif), potensi interaksi obat, dan pola resistensi yang mungkin timbul terhadap masing-masing golongan.1

8.2 Farmakokinetik dan Interaksi Obat Antivirus

Banyak antivirus memerlukan penyesuaian dosis pada gangguan fungsi ginjal (mis. asiklovir, oseltamivir, tenofovir) karena ekskresi renal yang dominan, sementara beberapa golongan lain memerlukan kewaspadaan hepatotoksisitas (mis. beberapa direct-acting antiviral HCV pada sirosis dekompensata).1,9,20 Interaksi obat-obat penting yang harus diwaspadai subspesialis Tropik-Infeksi antara lain interaksi rifampisin dengan inhibitor protease/beberapa ARV pada koinfeksi HIV-TB, interaksi tenofovir dengan obat nefrotoksik lain, dan interaksi DAA hepatitis C dengan penginduksi/penghambat CYP3A4 dan P-glikoprotein.9,20

8.3 Resistensi Antivirus: Mekanisme dan Deteksi

Tingkat Kompetensi: 4 — Manajemen kasus resistensi antiviral. Resistensi antivirus umumnya timbul melalui mutasi genom virus pada situs target obat, dipercepat oleh kepatuhan terapi yang buruk, dosis subterapeutik, atau monoterapi pada infeksi kronik replikasi tinggi (HIV, HBV).1,20 Deteksi resistensi menggunakan uji genotipik (sekuensing gen target, mis. gen reverse transcriptase/protease/integrase pada HIV, gen polimerase pada HBV) yang mengidentifikasi mutasi spesifik terkait resistensi, sementara uji fenotipik menilai secara langsung sensitivitas virus terhadap obat pada kultur — pendekatan yang lebih jarang tersedia secara rutin di layanan klinis.1,20

8.4 Prinsip Tata Laksana Kasus Resistensi

Prinsip umum tata laksana resistensi antivirus meliputi: konfirmasi kepatuhan terapi sebagai penyebab tersering kegagalan sebelum menyimpulkan resistensi sejati, penggunaan uji resistensi genotipik untuk memandu pemilihan regimen alternatif, penggantian ke golongan obat dengan barrier genetik resistensi lebih tinggi atau mekanisme kerja berbeda (mis. beralih dari lamivudine ke tenofovir pada HBV resisten, atau ke regimen lini kedua/ketiga berbasis inhibitor protease/integrase baru pada HIV), serta pertimbangan terapi kombinasi untuk mencegah resistensi berulang.1,20,21 Pada influenza, kewaspadaan resistensi oseltamivir dipantau melalui surveilans nasional/global dan memandu pemilihan alternatif seperti baloxavir pada kasus tertentu.14

8.5 Antivirus pada Populasi Khusus

Pemberian antivirus pada kehamilan memerlukan pertimbangan keamanan janin (mis. tenofovir dan beberapa ARV dinilai aman digunakan sepanjang kehamilan sebagai bagian PPIA; asiklovir dinilai aman untuk infeksi HSV/VZV berat pada kehamilan), pada populasi geriatri memerlukan penyesuaian dosis berdasarkan fungsi ginjal yang menurun fisiologis, dan pada pasien immunocompromised (transplantasi organ, keganasan, ODHIV dengan CD4 sangat rendah) sering memerlukan dosis dan durasi lebih tinggi/lama serta pemantauan lebih ketat terhadap kegagalan terapi dan resistensi.1,8,20,21

Golongan AntivirusContoh ObatTarget Utama
Analog nukleos(t)idaAsiklovir, Tenofovir, EntecavirPolimerase asam nukleat virus
Inhibitor proteaseNirmatrelvir, Lopinavir/ritonavir, GlecaprevirProtease virus
Inhibitor neuraminidaseOseltamivir, ZanamivirPelepasan virion influenza
Inhibitor integraseDolutegravirIntegrase HIV
Inhibitor kapsidLenacapavir (PrEP injeksi 2x/tahun, WHO 2025)Kapsid HIV-1
Ringkasan Klinis Bab VIII
  • Kepatuhan terapi yang buruk adalah penyebab tersering kegagalan virologis, harus disingkirkan sebelum menyimpulkan resistensi sejati.
  • Uji resistensi genotipik memandu pemilihan regimen alternatif pada kegagalan terapi.
  • Populasi khusus (kehamilan, geriatri, imunokompromais) memerlukan penyesuaian dosis dan pemantauan lebih ketat.
Referensi Kunci Bab VIII
  • Harrison's Principles of Internal Medicine, 21st ed. — Bab Farmakologi Antivirus.
  • DHHS Guidelines for the Use of Antiretroviral Agents in Adults and Adolescents with HIV.
  • WHO Guidelines for the Care and Treatment of Persons Diagnosed with Chronic HCV Infection, 2022.
LAMPIRAN

Daftar Referensi

  1. Loscalzo J, Fauci A, Kasper D, Hauser S, Longo D, Jameson JL, eds. Harrison's Principles of Internal Medicine. 21st ed. New York: McGraw Hill; 2022.
  2. Farrar J, Hotez PJ, Junghanss T, Kang G, Lalloo D, White NJ, Garcia PJ, eds. Manson's Tropical Diseases. 24th ed. Edinburgh: Elsevier; 2024.
  3. World Health Organization. Dengue: Guidelines for Diagnosis, Treatment, Prevention and Control. Geneva: WHO; 2009.
  4. World Health Organization Regional Office for South-East Asia. Comprehensive Guideline for Prevention and Control of Dengue and Dengue Haemorrhagic Fever. Revised and expanded ed. New Delhi: WHO-SEARO; 2011.
  5. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/9845/2020 tentang Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Infeksi Dengue pada Dewasa. Jakarta: Kemenkes RI; 2020.
  6. World Health Organization. Chikungunya. Fact sheet, updated 14 April 2025. Geneva: WHO. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/chikungunya
  7. World Health Organization. Zika virus. Fact sheet. Geneva: WHO. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/zika-virus
  8. World Health Organization. Guidelines for the Prevention, Care and Treatment of Persons with Chronic Hepatitis B Infection. Geneva: WHO; 2015 (updated).
  9. World Health Organization. Guidelines for the Care and Treatment of Persons Diagnosed with Chronic Hepatitis C Virus Infection. Geneva: WHO; 2022.
  10. Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) / Kolegium Ilmu Penyakit Dalam. Panduan Praktik Klinis Ilmu Penyakit Dalam: Hepatitis Virus. [Referensi umum organisasi profesi; nomor dan tahun terbitan spesifik belum dapat diverifikasi penulis — mohon konfirmasi dokumen resmi bila tersedia.]
  11. World Health Organization. COVID-19 Clinical Management: Living Guidance. Geneva: WHO; 2023 (dokumen bersifat living guideline yang terus diperbarui).
  12. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia, Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia, Perhimpunan Dokter Anestesiologi dan Terapi Intensif Indonesia, Ikatan Dokter Anak Indonesia. Pedoman Tatalaksana COVID-19. Edisi 4. Jakarta; 2022.
  13. Centers for Disease Control and Prevention. Clinical Guidance for Evaluating Patients and Treatment and Post-exposure Prophylaxis (PEP) of Influenza A(H5N1) Virus Infection. Atlanta: CDC. https://www.cdc.gov/bird-flu/hcp/clinicians-evaluating-patients/clinical-guidance-treatment.html
  14. World Health Organization. Influenza (Seasonal). Fact sheet and clinical management guidance. Geneva: WHO.
  15. Centers for Disease Control and Prevention. Clinical Overview of Rabies. Atlanta: CDC. https://www.cdc.gov/rabies/hcp/clinical-overview/
  16. World Health Organization. Rabies vaccines: WHO position paper, April 2018. Wkly Epidemiol Rec. 2018;93(16):201-220. https://www.who.int/publications/i/item/who-wer9316
  17. World Health Organization. Yellow Fever. Fact sheet, updated 2025. Geneva: WHO. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/yellow-fever
  18. World Health Organization. Ebola Virus Disease. Fact sheet. Geneva: WHO. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/ebola-virus-disease
  19. Centers for Disease Control and Prevention. About Hantavirus. Atlanta: CDC. https://www.cdc.gov/hantavirus/about/index.html
  20. HHS Panel on Antiretroviral Guidelines for Adults and Adolescents with HIV. Guidelines for the Use of Antiretroviral Agents in Adults and Adolescents with HIV. Rockville: U.S. Department of Health and Human Services (living guideline, terus diperbarui). https://clinicalinfo.hiv.gov/en/guidelines
  21. World Health Organization. Consolidated Guidelines on HIV Prevention, Testing, Treatment, Service Delivery and Monitoring: Recommendations for a Public Health Approach. 3rd ed. Geneva: WHO; 2021.
  22. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/90/2019 tentang Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana HIV. Jakarta: Kemenkes RI; 2019. https://yankes.kemkes.go.id/view_unduhan/46/kmk-no-hk0107menkes902019
  23. Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI). Konsensus dan Panduan Praktik Klinis Penyakit Tropik dan Infeksi. [Referensi umum organisasi profesi; judul dan tahun dokumen spesifik belum dapat diverifikasi penulis — mohon konfirmasi dokumen resmi bila tersedia.]
  24. World Health Organization. Position Papers on Vaccines (Measles, Mumps, Rubella; Varicella-Zoster). Wkly Epidemiol Rec. Geneva: WHO. [Rujukan payung beberapa position paper WHO yang diterbitkan terpisah per antigen; nomor terbitan spesifik per antigen belum dicantumkan — mohon konfirmasi bila diperlukan sitasi presisi per vaksin.]
  25. Konsil Kedokteran Indonesia. Keputusan Konsil Kedokteran Indonesia Nomor 44/KKI/KEP/V/2023 tentang Standar Pendidikan Profesi Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Penyakit Tropik dan Infeksi. Jakarta: KKI; 2023.
  26. World Health Organization. WHO position paper on dengue vaccines, May 2024. Wkly Epidemiol Rec. Geneva: WHO; 2024. https://www.who.int/teams/immunization-vaccines-and-biologicals/policies/position-papers/dengue
  27. World Health Organization. WHO Recommends Injectable Lenacapavir for HIV Prevention. News release, 14 July 2025. Geneva: WHO. https://www.who.int/news/item/14-07-2025-who-recommends-injectable-lenacapavir-for-hiv-prevention
  28. World Health Organization. Disease Outbreak News: Ebola Disease Caused by Bundibugyo Virus — Democratic Republic of the Congo and Uganda. Geneva: WHO; 17 May 2026. https://www.who.int/emergencies/disease-outbreak-news/item/2026-DON602
  29. Centers for Disease Control and Prevention. 2026 Hantavirus Outbreak: Testing for Potential Infection (Health Alert Network Update, CDCHAN-00529). Atlanta: CDC; 2026. https://www.cdc.gov/han/php/notices/han00529.html
LAMPIRAN

Glosarium

Antibody-Dependent Enhancement (ADE)
Fenomena peningkatan replikasi virus akibat antibodi non-netralisasi yang terbentuk pada infeksi heterotipik sebelumnya, diduga berperan pada patogenesis DBD berat.
ARDS (Acute Respiratory Distress Syndrome)
Sindrom gagal napas akut akibat kerusakan alveolar difus yang menyebabkan hipoksemia berat, dapat terjadi pada pneumonia virus berat seperti COVID-19 dan avian influenza.
Badai Sitokin (Cytokine Storm)
Respons inflamasi sistemik berlebihan akibat pelepasan sitokin proinflamasi masif yang mendasari kerusakan jaringan pada beberapa infeksi virus berat.
Barrier Genetik Resistensi
Jumlah mutasi yang diperlukan suatu virus untuk menjadi resisten terhadap obat tertentu; barrier tinggi berarti resistensi lebih sulit terbentuk.
Direct-Acting Antiviral (DAA)
Golongan obat antivirus yang bekerja langsung menghambat protein virus spesifik, digunakan terutama pada terapi kuratif hepatitis C.
Fase Kritis
Periode 24–48 jam pada demam berdarah dengue, biasanya bertepatan dengan penurunan suhu, yang ditandai risiko tertinggi kebocoran plasma dan syok.
Hemokonsentrasi
Peningkatan nilai hematokrit akibat kebocoran plasma dari ruang intravaskular, digunakan sebagai penanda laboratorium fase kritis dengue.
Imunokompromais
Kondisi penurunan fungsi sistem imun, baik akibat penyakit (mis. HIV lanjut) maupun terapi (mis. kemoterapi, imunosupresan), yang meningkatkan risiko infeksi oportunistik.
Infeksi Oportunistik
Infeksi yang jarang menimbulkan penyakit berat pada individu imunokompeten namun menjadi berat pada individu dengan gangguan sistem imun, khas pada HIV stadium lanjut.
Latensi Virus
Kondisi virus bertahan dalam sel pejamu tanpa replikasi aktif atau gejala klinis, dengan potensi reaktivasi di kemudian hari (mis. herpesvirus, HIV).
Neuralgia Pascaherpetik
Nyeri neuropatik menetap pada area dermatom yang terkena herpes zoster, dapat berlangsung berbulan-bulan setelah lesi kulit sembuh.
NS1 (Non-Structural Protein 1)
Protein non-struktural virus dengue yang dapat dideteksi dalam darah pada fase awal demam, digunakan sebagai penanda diagnostik cepat.
Post-Exposure Prophylaxis (PEP)
Intervensi medis (vaksin/imunoglobulin/obat) yang diberikan setelah pajanan terhadap patogen untuk mencegah timbulnya infeksi, mis. pada rabies dan HIV.
Pre-Exposure Prophylaxis (PrEP)
Pemberian obat antiretroviral pada individu HIV-negatif berisiko tinggi sebelum pajanan untuk mencegah akuisisi HIV.
Reservoir Laten HIV
Populasi sel (terutama limfosit T CD4+ memori) yang menyimpan DNA proviral HIV secara laten dan tidak dapat dieliminasi oleh terapi antiretroviral standar.
Resistensi Antivirus
Berkurang atau hilangnya sensitivitas virus terhadap obat antivirus akibat mutasi genom virus pada situs target obat.
RT-PCR (Reverse Transcription Polymerase Chain Reaction)
Metode deteksi molekuler yang mengubah RNA virus menjadi cDNA sebelum diamplifikasi, digunakan luas untuk diagnosis infeksi virus RNA.
Serokonversi
Perubahan status serologi dari negatif menjadi positif terhadap antibodi tertentu, menandakan infeksi baru atau respons imun terhadap vaksinasi.
Shedding Virus Asimtomatik
Pelepasan partikel virus infeksius dari tubuh individu terinfeksi tanpa adanya gejala klinis yang tampak, relevan pada penularan HSV.
Sindrom Retroviral Akut
Kumpulan gejala menyerupai mononukleosis yang timbul 2–4 minggu setelah infeksi HIV primer, akibat viremia tinggi awal.
Sustained Virologic Response (SVR)
Tidak terdeteksinya RNA virus hepatitis C dalam darah pada 12 minggu setelah terapi selesai, digunakan sebagai definisi kesembuhan hepatitis C.
Tanda Bahaya (Warning Signs) Dengue
Kumpulan tanda klinis (nyeri perut hebat, muntah persisten, akumulasi cairan, perdarahan mukosa, letargi, pembesaran hati, peningkatan hematokrit dengan penurunan trombosit cepat) yang menandakan risiko progresi ke DBD berat.
U=U (Undetectable = Untransmittable)
Prinsip bahwa ODHIV dengan viral load HIV yang tersupresi stabil (tidak terdeteksi) secara virologis tidak menularkan HIV melalui hubungan seksual.
Viral Load
Jumlah kopi partikel virus (biasanya RNA) per mililiter darah, digunakan untuk memantau aktivitas replikasi virus dan respons terhadap terapi.
Viremia
Keberadaan partikel virus yang bersirkulasi dalam aliran darah, menandai fase infeksi aktif pada banyak penyakit virus sistemik.
Zoonosis
Penyakit infeksi yang secara alami dapat ditularkan dari hewan vertebrata kepada manusia, mencakup rabies, avian influenza, hantavirus, dan Ebola.
LAMPIRAN

Tentang Buku Ini

Buku "Infeksi Virus dan Terapi Antivirus Lanjut" adalah Buku 3 dari Seri 10 Buku Pendidikan Dokter Subspesialis Penyakit Dalam Konsultan Tropik dan Infeksi, membahas secara mendalam Modul TI-3 (Tahap Madya) yang berfokus pada infeksi arbovirus, virus hepatotropik, virus saluran napas, virus herpes dan eksantematosa, virus zoonotik/emerging, HIV, serta farmakologi antivirus lanjut. Buku ini melengkapi Buku 2 (Infeksi Bakteri dan Antibiotik Lanjut, Modul TI-2) yang membahas prinsip penggunaan antimikroba rasional yang relevan pula bagi tata laksana koinfeksi bakteri pada kasus virus berat, serta menjadi prasyarat konseptual bagi Buku 4 (Infeksi Jamur dan Antijamur Lanjut, Modul TI-4) dan Buku 5 (Infeksi Parasit dan Antiparasit Lanjut, Modul TI-5) yang menggunakan kerangka klinis serupa untuk kelompok patogen berbeda. Pembahasan HIV pada Bab VII buku ini juga berkaitan erat dengan Buku 6 (Health-care Associated Infection, Modul TI-6) mengingat tingginya risiko infeksi terkait layanan kesehatan pada populasi imunokompromais.