Infeksi Jamur (Mikologi Kedokteran)
dan Terapi Antifungal Lanjut
Buku 4 dari 10 — Modul TI-4 Tahap Madya
KATA PENGANTAR
Buku ini disusun sebagai bagian keempat dari Seri 10 Buku Pendidikan Dokter Subspesialis Penyakit Dalam Konsultan Tropik dan Infeksi, mengacu pada Keputusan Konsil Kedokteran Indonesia Nomor 44/KKI/KEP/V/2023 tentang Standar Pendidikan Profesi Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Penyakit Tropik dan Infeksi.2 Buku ini secara khusus membahas Modul TI-4 Tahap Madya kurikulum, yaitu infeksi jamur invasif, infeksi jamur endemik, infeksi jamur lain, serta terapi antifungal lanjut beserta manajemen resistensinya.
Peningkatan populasi pasien dengan gangguan imun—akibat keganasan hematologik, transplantasi organ, terapi biologik, maupun infeksi HIV lanjut—telah mengubah lanskap epidemiologi penyakit dalam, menjadikan kompetensi mikologi kedokteran sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari praktik Subspesialis Penyakit Tropik dan Infeksi. Kami berharap buku ini dapat menjadi rujukan yang komprehensif, mutakhir, dan aplikatif bagi peserta didik program pendidikan subspesialis di seluruh Indonesia.
Penyusunan buku ini tidak lepas dari kontribusi Kolegium Ilmu Penyakit Dalam serta berbagai pedoman internasional yang menjadi acuan utama, termasuk Harrison's Principles of Internal Medicine, Manson's Tropical Diseases, serta rangkaian pedoman global "One World One Guideline" dari European Confederation of Medical Mycology (ECMM) bersama International Society for Human and Animal Mycology (ISHAM) dan American Society for Microbiology (ASM) untuk kandidiasis, kriptokokosis, mukormikosis, dan mikosis endemik. Semoga buku ini bermanfaat bagi kemajuan pendidikan kedokteran subspesialistik dan peningkatan mutu pelayanan kesehatan masyarakat Indonesia.
Malang, 2026
dr Norma Rahayu Najikhah, Sp.PD.
Penanggung Jawab Proyek Penulisan
BAB I
PENDAHULUAN MIKOLOGI KEDOKTERAN
Infeksi jamur invasif merupakan salah satu penyebab morbiditas dan mortalitas yang terus meningkat pada praktik penyakit dalam modern, terutama seiring bertambahnya populasi dengan gangguan imun akibat kemoterapi, transplantasi organ padat dan sel punca hematopoietik, terapi biologik, serta infeksi HIV lanjut.1 Buku ini merupakan Buku 4 dari Seri 10 Buku Pendidikan Dokter Subspesialis Penyakit Dalam Konsultan Tropik dan Infeksi, disusun mengacu pada Modul TI-4 Tahap Madya kurikulum Program Pendidikan Dokter Subspesialis Penyakit Dalam Pemimatan Penyakit Tropik dan Infeksi sebagaimana ditetapkan dalam Keputusan Konsil Kedokteran Indonesia Nomor 44/KKI/KEP/V/2023.2
1.1 Beban Global dan Signifikansi Klinis Penyakit Jamur
Estimasi terbaru menunjukkan bahwa penyakit jamur berat menyebabkan sekitar 6,5 juta kasus infeksi invasif dan lebih dari 3,8 juta kematian per tahun secara global, dengan proporsi kematian yang berkaitan langsung dengan infeksi jamur diperkirakan mencapai lebih dari 2,5 juta jiwa.1 Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pertama kali menerbitkan daftar patogen jamur prioritas (WHO Fungal Priority Pathogens List) pada tahun 2022 untuk mengarahkan riset, pengembangan diagnostik dan terapi, serta kebijakan kesehatan masyarakat terkait mikosis invasif, membagi patogen menjadi kelompok prioritas kritis, tinggi, dan sedang.3 Kelompok prioritas kritis mencakup Cryptococcus neoformans, Candida auris, Aspergillus fumigatus, dan Candida albicans, yang seluruhnya akan dibahas pada buku ini maupun buku-buku lain dalam seri.3
Meskipun beban penyakit jamur signifikan, penyakit ini tetap tergolong sebagai kelompok penyakit terabaikan (neglected diseases) dalam agenda riset dan pendanaan kesehatan global dibandingkan dengan penyakit menular lain seperti tuberkulosis, HIV, dan malaria.4 Kesenjangan ini berdampak pada keterlambatan diagnosis, terbatasnya akses terhadap antijamur baru, dan tingginya angka mortalitas terutama di negara berpenghasilan rendah dan menengah termasuk Indonesia.4
1.2 Klasifikasi Jamur Patogen pada Manusia
Secara garis besar, jamur patogen pada manusia dapat dikelompokkan berdasarkan morfologi menjadi kapang (mold) berfilamen seperti Aspergillus dan Mucorales, khamir (yeast) seperti Candida dan Cryptococcus, serta jamur dimorfik yang dapat tumbuh sebagai khamir pada suhu tubuh dan sebagai kapang pada suhu ruang, seperti Histoplasma capsulatum dan Coccidioides immitis/posadasii.5 Klasifikasi lain yang relevan secara klinis adalah berdasarkan sifat patogenisitas, yaitu jamur oportunistik yang hanya menimbulkan penyakit invasif pada pejamu dengan gangguan imun, dan jamur patogen primer/endemik yang dapat menginfeksi individu imunokompeten pada area geografis tertentu.6
Tata nama jamur medis mengalami revisi taksonomi yang cukup signifikan pada beberapa tahun terakhir seiring kemajuan analisis filogenomik. Candida auris, salah satu patogen prioritas kritis WHO, telah direklasifikasi ke dalam genus baru Candidozyma (Candidozyma auris) berdasarkan analisis filogenomik oleh Liu dan kawan-kawan tahun 2024, meskipun adopsi nama baru ini masih beragam di berbagai pedoman klinis dan sistem surveilans sehingga kedua nama masih dipakai berdampingan.7 Perubahan serupa juga terjadi pada Candida krusei yang secara taksonomi kini dikenal sebagai Pichia kudriavzevii. Buku ini tetap menggunakan nama Candida auris dan Candida krusei sebagai istilah utama mengikuti kelaziman pemakaian klinis saat ini, dengan menyebutkan nama baru sebagai penanda kesetaraan.
1.2.1 Faktor Risiko Pejamu (Host) terhadap Infeksi Jamur Invasif
Faktor risiko utama meliputi neutropenia berkepanjangan (hitung neutrofil absolut di bawah 500/µL selama lebih dari 10 hari), transplantasi sel punca hematopoietik alogenik, transplantasi organ padat, terapi kortikosteroid dosis tinggi dan berkepanjangan, penggunaan agen biologik penghambat sitokin, graft-versus-host disease, serta infeksi HIV dengan hitung CD4 rendah.5 Pada tatanan perawatan intensif, faktor risiko tambahan mencakup kateter vena sentral, nutrisi parenteral total, pembedahan abdominal mayor, dan penggunaan antibiotik spektrum luas berkepanjangan yang mengubah mikrobiota dan memudahkan translokasi Candida.8
1.3 Prinsip Umum Diagnosis Mikologi
Pendekatan diagnostik infeksi jamur invasif bersifat multimodal, meliputi pemeriksaan mikroskopis langsung (KOH mount, pewarnaan Gomori methenamine silver/GMS, pewarnaan India ink), kultur jamur konvensional, uji serologis dan deteksi antigen non-kultur (galaktomanan, beta-D-glukan, antigen kriptokokus), pencitraan radiologis (CT toraks resolusi tinggi, MRI), serta metode molekuler berbasis PCR.9 Diagnosis definitif seringkali membutuhkan bukti histopatologi invasi jaringan disertai kultur atau identifikasi molekuler organisme penyebab.9
1.4 Prinsip Umum Terapi Antijamur
Empat kelas utama antijamur sistemik yang secara historis digunakan dalam tata laksana mikosis invasif adalah golongan polyene (amfoterisin B), azole (flukonazol, itrakonazol, vorikonazol, posakonazol, isavukonazol), echinocandin (kaspofungin, mikafungin, anidulafungin), dan analog pirimidin (flusitosin), yang akan dibahas lebih rinci pada Bab V buku ini.10 Sejak awal dekade 2020-an, golongan echinocandin bertambah dengan rezafungin yang berwaktu paruh panjang, serta muncul kelas molekul baru seperti ibrexafungerp (triterpenoid) yang telah mendapat persetujuan regulasi, memperluas pilihan terapi di luar empat kelas klasik tersebut.11 Pemilihan agen mempertimbangkan spektrum aktivitas, farmakokinetik dan penetrasi jaringan (termasuk penetrasi ke susunan saraf pusat dan mata), profil interaksi obat, toksisitas organ, serta pola resistensi lokal.10
- Beban global penyakit jamur invasif terus meningkat seiring bertambahnya populasi imunokompromais, namun tetap tergolong penyakit terabaikan dalam kebijakan kesehatan global.
- WHO Fungal Priority Pathogens List 2022 mengelompokkan patogen jamur berdasarkan tingkat prioritas kesehatan masyarakat untuk mengarahkan riset dan kebijakan.
- Reklasifikasi taksonomi (Candida auris menjadi Candidozyma auris) mengingatkan pentingnya kewaspadaan istilah dalam membaca literatur dan pedoman terbaru.
- Diagnosis infeksi jamur invasif bersifat multimodal dan seringkali membutuhkan kombinasi mikroskopis, kultur, uji non-kultur, dan pencitraan.
1.5 Kompetensi Subspesialis Penyakit Tropik dan Infeksi dalam Mikologi Kedokteran
Sesuai Lampiran Keputusan KKI Nomor 44/KKI/KEP/V/2023, Dokter Subspesialis Penyakit Dalam Pemimatan Penyakit Tropik dan Infeksi dituntut memiliki kompetensi Tingkat 4 (mendiagnosis dan menatalaksana secara mandiri dan tuntas) untuk sebagian besar penyakit akibat jamur, termasuk aspergilosis, kriptokokosis, zigomikosis/mukormikosis, kandidiasis, histoplasmosis, dan coccidioidomycosis, sebagaimana akan diuraikan pada tiap subbab Bab II hingga Bab IV buku ini.2
BAB II
INFEKSI JAMUR INVASIF
Bab ini membahas tiga infeksi jamur invasif yang paling sering dijumpai pada pasien imunokompromais berat di rumah sakit rujukan tersier, yaitu aspergilosis, kandidiasis invasif, dan mukormikosis (black fungus). Ketiganya memiliki angka mortalitas tinggi apabila terlambat didiagnosis dan diterapi, sehingga kewaspadaan klinis serta akses cepat terhadap uji diagnostik non-kultur menjadi kunci keberhasilan tata laksana.1
2.1 Aspergilosis
Definisi
Aspergilosis adalah spektrum penyakit yang disebabkan oleh spesies Aspergillus, terutama Aspergillus fumigatus, mencakup bentuk saprofitik (aspergilloma), alergik (allergic bronchopulmonary aspergillosis), dan invasif (invasive pulmonary aspergillosis/IPA serta bentuk ekstrapulmonal).9,12 Tingkat kompetensi: Tingkat 4.
Epidemiologi
Aspergilosis invasif merupakan infeksi jamur invasif tersering kedua setelah kandidiasis pada pasien dengan keganasan hematologik dan penerima transplantasi sel punca hematopoietik alogenik, dengan angka mortalitas dilaporkan berkisar 30-50% meskipun telah mendapat terapi antijamur adekuat.9 Resistensi azole pada A. fumigatus akibat mutasi gen cyp51A semakin banyak dilaporkan di berbagai kawasan, termasuk Asia, dan berkorelasi dengan paparan fungisida azole di lingkungan pertanian.13
Etiologi dan Patogenesis
Aspergillus fumigatus menghasilkan konidia berukuran kecil (2-3 µm) yang mudah terhirup hingga ke alveolus. Pada pejamu dengan neutropenia atau disfungsi fagosit, konidia berkecambah menjadi hifa yang bersifat angioinvasif, menembus dinding pembuluh darah, menyebabkan trombosis, infark jaringan, dan diseminasi hematogen ke organ lain termasuk otak.5
Manifestasi Klinis
Manifestasi IPA klasik meliputi demam persisten yang tidak responsif terhadap antibiotik spektrum luas, nyeri dada pleuritik, batuk, hemoptisis, dan sesak napas pada pasien neutropenia atau imunosupresi berat. Aspergilosis dapat pula bermanifestasi sebagai sinusitis invasif, aspergilosis serebral, atau aspergilosis diseminata pada kasus lanjut.9
Pendekatan Diagnostik
CT toraks resolusi tinggi pada fase dini dapat menunjukkan halo sign (nodul dikelilingi ground-glass opacity), yang berkembang menjadi air-crescent sign pada fase pemulihan neutrofil. Deteksi galaktomanan pada serum atau cairan bilasan bronkoalveolar (BAL) memiliki sensitivitas dan spesifisitas tinggi untuk diagnosis pada pasien neutropenia, sedangkan uji beta-D-glukan bersifat kurang spesifik karena juga positif pada infeksi jamur lain. Kultur dan pemeriksaan histopatologi tetap menjadi baku emas untuk diagnosis definitif.9,12
Tata Laksana
Vorikonazol intravena atau oral (dosis muatan 6 mg/kgBB setiap 12 jam pada hari pertama, dilanjutkan dosis rumatan 4 mg/kgBB setiap 12 jam) merupakan terapi lini pertama untuk aspergilosis invasif berdasarkan pedoman IDSA 2016 dan sejalan dengan pedoman ESCMID-ECMM-ERS 2017, dengan pemantauan kadar obat (therapeutic drug monitoring) dianjurkan karena farmakokinetik nonlinear dan variabilitas metabolisme CYP2C19.9,12 Isavukonazol merupakan alternatif dengan profil interaksi dan toksisitas yang lebih menguntungkan. Amfoterisin B liposomal (3-5 mg/kgBB/hari) dipertimbangkan sebagai lini kedua atau pada kasus dicurigai resistensi azole ataupun area dengan prevalensi resistensi azole tinggi.9,13 Durasi terapi minimal 6-12 minggu, disesuaikan dengan respons klinis, radiologis, dan pemulihan status imun.
Komplikasi
Komplikasi meliputi hemoptisis masif akibat invasi vaskular, aspergilosis serebral dengan abses atau infark, empiema, serta breakthrough infection pada pasien yang sedang mendapat profilaksis antijamur.
Pencegahan
Profilaksis antijamur (posakonazol) direkomendasikan pada pasien risiko tinggi seperti leukemia mieloblastik akut fase induksi dan graft-versus-host disease berat pasca transplantasi sel punca alogenik. Penempatan pasien neutropenia di ruangan dengan filtrasi udara HEPA turut mengurangi risiko paparan konidia.9
- Halo sign pada CT toraks merupakan tanda radiologis dini IPA; galaktomanan serum/BAL adalah alat diagnostik non-kultur utama.
- Vorikonazol dengan pemantauan kadar obat adalah terapi lini pertama, konsisten antara pedoman IDSA 2016 dan ESCMID-ECMM-ERS 2017; resistensi azole pada A. fumigatus menjadi ancaman yang meningkat.
- Profilaksis posakonazol dipertimbangkan pada populasi risiko tinggi (AML fase induksi, GVHD berat).
2.2 Kandidiasis Invasif
Definisi
Kandidiasis invasif mencakup kandidemia (infeksi aliran darah oleh Candida spp.) dan kandidiasis invasif organ dalam seperti intra-abdominal candidiasis, endokarditis kandida, dan kandidiasis hepatolienal.8,14 Tingkat kompetensi: Tingkat 4.
Epidemiologi
Kandidiasis invasif merupakan infeksi jamur invasif yang paling sering ditemukan di unit perawatan intensif dan berkaitan dengan mortalitas atribut sebesar 25-40%. Pergeseran epidemiologi menunjukkan peningkatan spesies non-albicans (Candida glabrata, Candida tropicalis, Candida parapsilosis, dan Candida krusei yang kini juga dikenal sebagai Pichia kudriavzevii), dan sejak dekade terakhir muncul Candida auris—direklasifikasi tahun 2024 sebagai Candidozyma auris—sebagai patogen multiresisten yang menyebar secara nosokomial global dan tetap menjadi perhatian utama WHO.3,7,15
Etiologi dan Patogenesis
Candida merupakan flora komensal saluran cerna dan mukokutan yang dapat bertranslokasi ke aliran darah pada kondisi gangguan integritas mukosa (kemoterapi, pembedahan abdominal), kateter vena sentral yang terkolonisasi biofilm, dan disbiosis akibat antibiotik spektrum luas.14
Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis kandidemia tidak spesifik, berupa demam yang menetap meskipun mendapat antibiotik spektrum luas, dapat disertai syok sepsis pada kasus berat. Kandidiasis hepatolienal umumnya bermanifestasi sebagai demam persisten pasca pemulihan neutropenia pada pasien keganasan hematologik disertai lesi target multipel pada hati dan limpa.
Pendekatan Diagnostik
Kultur darah tetap menjadi baku emas meskipun sensitivitasnya terbatas (50-75%). Uji beta-D-glukan serum dapat digunakan sebagai penunjang skrining pada pasien risiko tinggi, dan identifikasi spesies beserta uji kepekaan antijamur penting dilakukan mengingat perbedaan pola resistensi antarspesies, khususnya pada Candida auris/Candidozyma auris dan C. glabrata.14,15
Tata Laksana
Echinocandin merupakan terapi empirik lini pertama pada kandidemia berdasarkan pedoman global ECMM/ISHAM/ASM 2025, terutama pada pasien dengan penyakit sedang-berat atau riwayat paparan azole sebelumnya, dengan pilihan meliputi kaspofungin (dosis muatan 70 mg dilanjutkan 50 mg/hari IV), mikafungin (100 mg/hari), anidulafungin (dosis muatan 200 mg dilanjutkan 100 mg/hari), maupun rezafungin—echinocandin generasi baru berwaktu paruh panjang yang disetujui FDA tahun 2023 dan kini juga direkomendasikan kuat, dengan keunggulan pemberian sekali seminggu yang memudahkan terapi rawat jalan.8 Step-down ke flukonazol oral (400 mg/hari) dapat dilakukan setelah perbaikan klinis dan hasil uji kepekaan menunjukkan spesies yang rentan. Kateter vena sentral yang dicurigai sebagai sumber infeksi harus dilepas sesegera mungkin. Durasi terapi minimal 14 hari sejak kultur darah negatif pertama dan resolusi gejala.8,14 Pada infeksi oleh Candida auris/Candidozyma auris, terapi empirik disesuaikan dengan kecenderungan resistensi terhadap flukonazol dan kadang amfoterisin B, sehingga echinocandin tetap menjadi pilihan awal sambil menunggu uji kepekaan.15
Komplikasi
Komplikasi meliputi endoftalmitis kandida (memerlukan pemeriksaan funduskopi rutin pada semua kasus kandidemia), endokarditis, osteomielitis vertebra, dan kandidiasis hepatolienal kronik.
Pencegahan
Pencegahan meliputi antifungal stewardship, perawatan kateter vena sentral yang optimal, serta pertimbangan profilaksis flukonazol pada populasi risiko tinggi tertentu seperti penerima transplantasi hati dengan faktor risiko tambahan.8
- Kultur darah tetap baku emas meski sensitivitas terbatas; identifikasi spesies dan uji kepekaan sangat penting.
- Echinocandin—termasuk rezafungin yang kini masuk rekomendasi kuat pedoman global 2025—adalah terapi empirik lini pertama; pelepasan kateter vena sentral sumber infeksi bersifat wajib bila memungkinkan.
- Candida auris (Candidozyma auris) merupakan ancaman global multiresisten yang memerlukan kewaspadaan pengendalian infeksi ketat.
2.3 Mucormycosis (Black Fungus)
Definisi
Mukormikosis adalah infeksi jamur invasif yang jarang namun sangat agresif disebabkan oleh jamur ordo Mucorales (a.l. Rhizopus, Mucor, Lichtheimia), ditandai dengan angioinvasi cepat dan nekrosis jaringan luas.16 Tingkat kompetensi: Tingkat 4.
Epidemiologi
Insidens mukormikosis meningkat tajam terutama di kawasan Asia Selatan, dipicu oleh tingginya prevalensi diabetes melitus tidak terkontrol serta lonjakan kasus terkait pandemi COVID-19 akibat penggunaan kortikosteroid dosis tinggi dan ketoasidosis diabetik yang menyertainya.16 Mortalitas keseluruhan dilaporkan 40-80% tergantung lokasi anatomis dan kecepatan diagnosis serta debridement bedah.16
Etiologi dan Patogenesis
Mucorales bersifat nonseptat, tumbuh sangat cepat, dan memiliki afinitas tinggi terhadap lingkungan kaya glukosa dan besi bebas—kondisi yang ditemukan pada ketoasidosis diabetik. Spora yang terhirup berkecambah di mukosa sinus/paru dan menginvasi pembuluh darah secara agresif, menyebabkan trombosis dan nekrosis iskemik jaringan.16
Manifestasi Klinis
Bentuk rino-orbito-serebral (ROCM) adalah presentasi tersering, ditandai nyeri wajah, edema periorbita, ptosis, oftalmoplegia, dan discharge hidung kehitaman akibat nekrosis jaringan (eschar). Bentuk pulmonal bermanifestasi sebagai pneumonia progresif cepat yang tidak responsif antibiotik pada pasien neutropenia atau diabetes tidak terkontrol.16
Pendekatan Diagnostik
CT/MRI sinus-orbita-kranial penting untuk menilai luas invasi jaringan lunak dan tulang. Pada pencitraan toraks, reversed halo sign lebih sugestif mukormikosis dibandingkan aspergilosis. Diagnosis definitif memerlukan biopsi jaringan dengan visualisasi hifa nonseptat lebar bersudut lebar (pewarnaan GMS/KOH), karena kultur seringkali negatif akibat fragilitas hifa saat prosesing spesimen.16
Tata Laksana
Tata laksana bersifat multimodal dan time-critical, meliputi: (1) debridement bedah agresif dan dini terhadap jaringan nekrotik, (2) amfoterisin B liposomal dosis tinggi (5-10 mg/kgBB/hari) sebagai terapi lini pertama, dan (3) koreksi faktor predisposisi (kontrol glikemik ketat, penghentian/penurunan kortikosteroid).16 Isavukonazol atau posakonazol dipertimbangkan sebagai step-down therapy atau pada kasus intoleransi amfoterisin B. Keterlambatan debridement bedah berkaitan erat dengan peningkatan mortalitas.16
Komplikasi
Komplikasi meliputi kebutaan akibat invasi orbita, invasi intrakranial dengan trombosis sinus kavernosus, dan diseminata sistemik dengan prognosis sangat buruk.
Pencegahan
Pencegahan berfokus pada kontrol glikemik optimal, penggunaan kortikosteroid yang rasional dan sesuai indikasi, serta kewaspadaan tinggi terhadap gejala dini pada populasi risiko pasca infeksi COVID-19 berat.16
- Debridement bedah dini bersama amfoterisin B liposomal dosis tinggi adalah kunci keberhasilan tata laksana.
- Ketoasidosis diabetik dan kortikosteroid dosis tinggi adalah faktor predisposisi utama; koreksi faktor ini wajib dilakukan bersamaan.
- Reversed halo sign pada pencitraan toraks membantu membedakan dari aspergilosis invasif.
2.4 Ringkasan Farmakoterapi Bab II
| Penyakit | Terapi Lini Pertama | Dosis Dewasa | Durasi Umum |
|---|---|---|---|
| Aspergilosis invasif | Vorikonazol IV/oral | 6 mg/kg/12 jam (hari 1), lalu 4 mg/kg/12 jam | Minimal 6-12 minggu |
| Kandidemia | Echinocandin (kaspofungin/mikafungin/anidulafungin/rezafungin) | Kaspofungin: 70 mg (muatan), lalu 50 mg/hari IV | Min. 14 hari pasca kultur negatif |
| Mukormikosis | Amfoterisin B liposomal + debridement | 5-10 mg/kg/hari IV | Individual, hingga resolusi klinis-radiologis |
BAB III
INFEKSI JAMUR ENDEMIK
Jamur endemik bersifat dimorfik termal, mampu menginfeksi individu imunokompeten pada area geografis endemis tertentu melalui inhalasi spora dari tanah atau kotoran burung/kelelawar yang terkontaminasi. Bab ini membahas histoplasmosis dan coccidioidomycosis, dua mikosis endemik yang paling relevan pada perjalanan (travel medicine) dan migrasi penduduk.6,17
3.1 Histoplasmosis
Definisi
Histoplasmosis adalah infeksi jamur sistemik disebabkan oleh Histoplasma capsulatum, jamur dimorfik yang banyak ditemukan pada tanah yang terkontaminasi kotoran burung atau kelelawar di lembah sungai kawasan beriklim sedang dan tropis, termasuk sebagian Asia Tenggara.17 Tingkat kompetensi: Tingkat 4.
Epidemiologi
Histoplasmosis bersifat endemik di lembah sungai Ohio dan Mississippi (Amerika Serikat), sebagian Amerika Latin, Afrika, dan Asia. Bentuk diseminata progresif terutama terjadi pada individu dengan infeksi HIV lanjut (CD4 di bawah 150 sel/µL) dan pejamu imunokompromais lain, dengan mortalitas tinggi bila tidak diterapi.17,18
Etiologi dan Patogenesis
Inhalasi mikrokonidia H. capsulatum dari tanah terkontaminasi menyebabkan infeksi paru primer. Pada pejamu imunokompeten, respons imun seluler yang efektif membatasi infeksi menjadi granuloma kaseosa yang dapat mengalami kalsifikasi. Pada pejamu imunokompromais, jamur bertransformasi menjadi bentuk khamir intraseluler dalam makrofag dan menyebar secara hematogen ke sistem retikuloendotelial (histoplasmosis diseminata progresif).5,18
Manifestasi Klinis
Sebagian besar infeksi bersifat asimtomatik atau menyerupai influenza ringan pada pejamu imunokompeten. Histoplasmosis diseminata progresif bermanifestasi sebagai demam berkepanjangan, hepatosplenomegali, sitopenia, limfadenopati, ulkus mukokutan orofaring, dan pada kasus berat dapat menyebabkan koagulasi intravaskular diseminata serta sindrom mirip sepsis (hemophagocytic-like syndrome).18
Pendekatan Diagnostik
Deteksi antigen Histoplasma pada urine dan serum memiliki sensitivitas tinggi (>90%) pada histoplasmosis diseminata dan menjadi modalitas diagnostik utama yang cepat. Kultur jamur dari darah, sumsum tulang, atau jaringan tetap merupakan baku emas namun memerlukan waktu inkubasi lama (2-4 minggu). Serologi (imunodifusi, fiksasi komplemen) berguna pada infeksi subakut-kronik pada pejamu imunokompeten.17,18
Tata Laksana
Pada histoplasmosis diseminata progresif berat, amfoterisin B liposomal (3-5 mg/kgBB/hari) selama 1-2 minggu diikuti step-down ke itrakonazol oral (200 mg tiga kali sehari selama 3 hari, dilanjutkan 200 mg dua kali sehari) merupakan terapi standar, konsisten antara pedoman IDSA 2007 dan pedoman global ECMM/ISHAM 2021 untuk mikosis endemik, dengan total durasi terapi minimal 12 bulan pada kasus diseminata.17,18 Pemantauan kadar itrakonazol dianjurkan untuk memastikan konsentrasi terapeutik tercapai (target attainment) mengingat variabilitas absorpsi oral yang tinggi.
Komplikasi
Komplikasi meliputi fibrosis mediastinum, perikarditis, histoplasmoma paru, serta pada kasus diseminata berat dapat terjadi gagal organ multipel dan sindrom aktivasi makrofag.
Pencegahan
Pencegahan meliputi penghindaran paparan terhadap kotoran burung/kelelawar terutama pada aktivitas pembersihan gua atau kandang unggas, serta pertimbangan profilaksis itrakonazol pada pasien HIV dengan CD4 sangat rendah di area hiperendemik.17
- Deteksi antigen urine/serum adalah alat diagnostik tercepat pada histoplasmosis diseminata progresif.
- Amfoterisin B liposomal diikuti itrakonazol oral adalah standar terapi kasus berat, dengan durasi total minimal 12 bulan pada bentuk diseminata.
- Populasi HIV dengan CD4 sangat rendah berisiko tinggi mengalami bentuk diseminata progresif yang mengancam jiwa.
3.2 Coccidioidomycosis
Definisi
Coccidioidomycosis ("valley fever") adalah infeksi jamur endemik disebabkan oleh Coccidioides immitis dan Coccidioides posadasii, jamur dimorfik yang hidup di tanah kering kawasan semi-arid.17 Tingkat kompetensi: Tingkat 4.
Epidemiologi
Penyakit ini endemik di barat daya Amerika Serikat (California, Arizona), sebagian Meksiko, dan Amerika Tengah/Selatan. Wisatawan yang melakukan perjalanan ke area endemik berisiko terpapar melalui inhalasi arthrokonidia yang terangkat debu, sehingga anamnesis riwayat perjalanan (travel history) menjadi kunci kecurigaan klinis pada pasien di luar area endemik.17,19
Etiologi dan Patogenesis
Arthrokonidia yang terhirup berubah bentuk menjadi sferula pada jaringan paru, yang kemudian pecah melepaskan endospora yang membentuk sferula baru, suatu siklus replikasi unik pada Coccidioides. Diseminasi ekstrapulmonal (kulit, tulang, sendi, meningen) terjadi pada sebagian kecil kasus, lebih sering pada individu imunokompromais, ras tertentu (keturunan Filipina dan Afrika), serta kehamilan trimester ketiga.5,19
Manifestasi Klinis
Sebagian besar infeksi (60%) bersifat asimtomatik. Infeksi simtomatik bermanifestasi sebagai pneumonia komunitas subakut dengan demam, batuk, nyeri dada pleuritik, dan kelelahan berkepanjangan, kadang disertai eritema nodosum atau eritema multiforme ("desert rheumatism"). Meningitis kokidioidal merupakan komplikasi diseminata paling berat dengan mortalitas tinggi tanpa terapi seumur hidup.19
Pendekatan Diagnostik
Serologi (imunodifusi IgM/IgG, fiksasi komplemen) merupakan modalitas diagnostik utama, dengan titer fiksasi komplemen yang tinggi berkorelasi dengan risiko diseminasi. Kultur dan histopatologi jaringan menunjukkan sferula khas yang bersifat diagnostik. Pemeriksaan cairan serebrospinal dengan serologi spesifik diperlukan bila dicurigai meningitis.17,19
Tata Laksana
Pada penyakit paru ringan-sedang pada pejamu imunokompeten, observasi klinis tanpa terapi antijamur dapat dipertimbangkan; namun pada pasien risiko tinggi diseminasi, penyakit paru difus, atau gejala berat, flukonazol oral (400 mg/hari) atau itrakonazol menjadi terapi lini pertama berdasarkan pedoman IDSA 2016 dan pedoman global mikosis endemik ECMM/ISHAM 2021.17,19 Meningitis kokidioidal memerlukan flukonazol dosis tinggi (400-800 mg/hari) seumur hidup karena tingginya angka relaps setelah penghentian terapi. Amfoterisin B dipertimbangkan pada penyakit diseminata berat atau kehamilan trimester pertama-kedua.19
Komplikasi
Komplikasi meliputi kavitas paru persisten, empiema, diseminasi kulit-tulang-sendi, dan meningitis kronik dengan risiko hidrosefalus komunikans.
Pencegahan
Pencegahan bersifat terbatas pada penghindaran paparan debu di area endemik terutama saat aktivitas konstruksi/pertanian, serta edukasi wisatawan/tenaga kerja migran mengenai risiko paparan.19
- Riwayat perjalanan ke area endemik (barat daya AS, Amerika Tengah/Selatan) adalah kunci kecurigaan klinis di luar area endemik.
- Meningitis kokidioidal memerlukan flukonazol dosis tinggi seumur hidup akibat tingginya risiko relaps.
- Diseminasi lebih sering terjadi pada kehamilan trimester ketiga, ras tertentu, dan pejamu imunokompromais.
3.3 Ringkasan Diagnostik Jamur Endemik
| Penyakit | Uji Diagnostik Utama | Karakteristik Khas |
|---|---|---|
| Histoplasmosis | Antigen urine/serum Histoplasma | Granuloma kaseosa, khamir intraseluler makrofag |
| Coccidioidomycosis | Serologi (imunodifusi, fiksasi komplemen) | Sferula berisi endospora pada histopatologi |
BAB IV
INFEKSI JAMUR LAIN
Bab ini membahas dua entitas mikosis lain yang penting secara klinis pada pelayanan subspesialistik tropik dan infeksi, yaitu kriptokokosis—terutama dalam kaitannya dengan infeksi HIV lanjut—dan zigomikosis sebagai istilah yang secara historis tumpang tindih dengan mukormikosis namun memiliki nuansa taksonomi tersendiri.20
4.1 Kriptokokosis
Definisi
Kriptokokosis adalah infeksi jamur sistemik disebabkan oleh Cryptococcus neoformans (predominan pada pejamu imunokompromais, terutama HIV) dan Cryptococcus gattii (dapat menginfeksi pejamu imunokompeten), dengan manifestasi tersering berupa meningoensefalitis.20 Tingkat kompetensi: Tingkat 4.
Epidemiologi
Meningitis kriptokokus tetap menjadi salah satu penyebab kematian terkait AIDS tersering secara global, dengan estimasi ratusan ribu kasus dan puluhan ribu kematian tiap tahun, mayoritas terjadi di Afrika sub-Sahara dan Asia Tenggara pada populasi dengan akses terbatas terhadap terapi antiretroviral.20,21
Etiologi dan Patogenesis
Inhalasi basidiospora atau sel khamir terdesikasi dari lingkungan (tanah terkontaminasi kotoran burung merpati untuk C. neoformans; pohon eukaliptus untuk C. gattii) menyebabkan infeksi paru primer yang pada pejamu imunokompeten umumnya asimtomatik atau laten. Reaktivasi dan diseminasi hematogen ke susunan saraf pusat terjadi terutama pada imunosupresi seluler berat, difasilitasi oleh kapsul polisakarida kriptokokus yang bersifat antifagositik.20
Manifestasi Klinis
Meningitis kriptokokus bermanifestasi subakut dengan nyeri kepala, demam ringan, perubahan status mental, dan tanda peningkatan tekanan intrakranial (mual, muntah, gangguan penglihatan), seringkali tanpa kaku kuduk yang jelas karena respons inflamasi meningeal yang minimal pada pasien HIV lanjut.20
Pendekatan Diagnostik
Deteksi antigen kriptokokus (CrAg) pada serum dan cairan serebrospinal menggunakan lateral flow assay memiliki sensitivitas dan spesifisitas sangat tinggi (>99%) dan menjadi standar diagnostik cepat. Pengukuran tekanan pembukaan (opening pressure) lumbal pungsi wajib dilakukan pada setiap kasus karena peningkatan tekanan intrakranial berkaitan erat dengan mortalitas. Pewarnaan India ink pada cairan serebrospinal dapat memvisualisasikan kapsul kriptokokus secara langsung.20,21
Tata Laksana
Terapi induksi meningitis kriptokokus terdiri atas amfoterisin B liposomal (3-4 mg/kgBB/hari) dikombinasikan flusitosin oral (25 mg/kgBB empat kali sehari) selama minimal 2 minggu, dilanjutkan fase konsolidasi flukonazol dosis tinggi (400-800 mg/hari) selama 8 minggu, dan fase rumatan flukonazol 200 mg/hari hingga terjadi pemulihan imun yang adekuat (CD4 di atas 100 sel/µL selama minimal 3 bulan pada terapi antiretroviral), sebagaimana ditegaskan pada pedoman global ECMM/ISHAM/ASM 2024 yang memperbarui pedoman IDSA 2010 sebelumnya.20,22 Tata laksana tekanan intrakranial tinggi melalui lumbal pungsi berulang atau pemasangan drain lumbal merupakan komponen krusial yang menurunkan mortalitas secara bermakna. Inisiasi terapi antiretroviral sebaiknya ditunda 4-6 minggu setelah mulai terapi antijamur untuk mengurangi risiko sindrom inflamasi pemulihan imun (IRIS).21
Komplikasi
Komplikasi meliputi hidrosefalus, kebutaan akibat peningkatan tekanan intrakranial kronik, kriptokokoma serebral, dan IRIS paradoksal pasca inisiasi terapi antiretroviral.
Pencegahan
Skrining antigen kriptokokus serum pada pasien HIV dengan CD4 di bawah 100 sel/µL sebelum inisiasi terapi antiretroviral, diikuti terapi preemptif flukonazol pada hasil positif, direkomendasikan WHO untuk mencegah perkembangan menjadi meningitis simtomatik.21
- Pengukuran dan tata laksana tekanan pembukaan lumbal pungsi adalah komponen krusial yang menurunkan mortalitas meningitis kriptokokus.
- Terapi induksi standar: amfoterisin B liposomal + flusitosin, dilanjutkan konsolidasi dan rumatan flukonazol, kini mengacu pada pedoman global ECMM/ISHAM/ASM 2024.
- Inisiasi ART ditunda 4-6 minggu setelah terapi antijamur untuk mengurangi risiko IRIS.
4.2 Zigomikosis
Definisi
Zigomikosis merupakan istilah taksonomi yang lebih luas mencakup infeksi oleh jamur filum Zygomycota, di mana ordo Mucorales (penyebab mukormikosis, dibahas rinci pada Subbab 2.3) merupakan penyebab mayoritas kasus klinis pada manusia; sebagian kecil kasus disebabkan ordo Entomophthorales yang cenderung menimbulkan infeksi subkutan kronik pada individu imunokompeten di area tropis.6 Tingkat kompetensi: Tingkat 4.
Epidemiologi
Infeksi Entomophthorales (basidiobolomikosis, konidiobolomikosis) bersifat endemik di Afrika, Asia Tenggara, dan Amerika Latin, umumnya menyerang individu imunokompeten dengan perjalanan penyakit indolen selama bulan hingga tahun, berbeda dengan mukormikosis oleh Mucorales yang bersifat akut dan fulminan pada pejamu imunokompromais.6
Etiologi dan Patogenesis
Basidiobolomikosis subkutan umumnya mengenai ekstremitas dan bokong, bermula dari inokulasi jamur melalui trauma minor kulit, membentuk massa subkutan indolen tanpa invasi vaskular signifikan—kontras dengan sifat angioinvasif agresif Mucorales.6
Manifestasi Klinis
Basidiobolomikosis bermanifestasi sebagai massa subkutan keras, tidak nyeri, dapat membesar secara progresif pada ekstremitas, sedangkan konidiobolomikosis khas mengenai wajah (hidung, sinus paranasal) menyebabkan deformitas wajah progresif tanpa invasi tulang atau intrakranial pada sebagian besar kasus.6
Pendekatan Diagnostik
Diagnosis ditegakkan melalui biopsi jaringan yang menunjukkan hifa lebar nonseptat dikelilingi fenomena Splendore-Hoeppli (materi eosinofilik di sekitar hifa), disertai kultur jamur untuk identifikasi spesies.
Tata Laksana
Itrakonazol oral (200-400 mg/hari) selama beberapa bulan hingga satu tahun merupakan terapi lini pertama pada basidiobolomikosis dan konidiobolomikosis, dengan eksisi bedah dipertimbangkan pada lesi terbatas atau respons medikamentosa yang tidak adekuat.6
Komplikasi
Komplikasi meliputi deformitas kosmetik progresif, obstruksi jalan napas atas pada konidiobolomikosis lanjut, dan jarang terjadi diseminasi sistemik.
Pencegahan
Pencegahan berfokus pada perawatan luka yang adekuat pasca trauma minor di area endemik dan diagnosis dini untuk mencegah progresi deformitas.
- Zigomikosis mencakup Mucorales (mukormikosis, akut-fulminan pada imunokompromais) dan Entomophthorales (indolen, imunokompeten).
- Fenomena Splendore-Hoeppli pada histopatologi membantu membedakan Entomophthorales dari Mucorales.
- Itrakonazol jangka panjang adalah terapi lini pertama basidiobolomikosis/konidiobolomikosis.
BAB V
TERAPI ANTIFUNGAL LANJUT DAN RESISTENSI
Pemahaman mendalam mengenai farmakologi klinis antijamur sistemik dan mekanisme resistensi merupakan kompetensi inti Dokter Subspesialis Penyakit Dalam Pemimatan Penyakit Tropik dan Infeksi, mengingat semakin kompleksnya kasus infeksi jamur invasif dan meningkatnya laporan resistensi antijamur secara global.10
5.1 Golongan Azole
Golongan azole bekerja menghambat enzim lanosterol 14α-demetilase (produk gen ERG11/CYP51) pada jalur biosintesis ergosterol, sehingga mengganggu integritas membran sel jamur.10 Triazole generasi kedua dan ketiga (vorikonazol, posakonazol, isavukonazol) memiliki spektrum lebih luas mencakup Aspergillus spp. dibandingkan flukonazol generasi pertama yang hanya aktif terhadap sebagian besar Candida spp. dan tidak aktif terhadap kapang.9
5.1.1 Farmakokinetik dan Pertimbangan Klinis
Vorikonazol memiliki farmakokinetik nonlinear akibat metabolisme melalui CYP2C19 yang polimorfik, menyebabkan variabilitas kadar plasma antarindividu yang bermakna sehingga pemantauan kadar obat (target konsentrasi palung 1-5,5 µg/mL) dianjurkan terutama pada kasus refrakter atau kecurigaan toksisitas.9 Posakonazol tersedia dalam formulasi tablet lepas-tunda dengan absorpsi yang lebih konsisten dibandingkan suspensi oral generasi awal. Isavukonazol memiliki profil interaksi obat dan efek samping QTc yang lebih menguntungkan, dengan farmakokinetik yang lebih dapat diprediksi.10
5.1.2 Mekanisme Resistensi Azole
Mekanisme resistensi utama pada Aspergillus fumigatus meliputi mutasi gen cyp51A (terutama TR34/L98H dan TR46/Y121F/T289A) yang sering berasal dari paparan fungisida azole di lingkungan pertanian, menyebabkan resistensi silang terhadap seluruh golongan azole medis.13 Pada Candida, resistensi azole dapat terjadi melalui overekspresi pompa efluks (CDR1/CDR2, MDR1), mutasi ERG11, dan upregulasi jalur biosintesis ergosterol alternatif.10
- Patterson TF, et al. IDSA Practice Guidelines for Aspergillosis 2016 dan Ullmann AJ, et al. ESCMID-ECMM-ERS 2017 — dasar rekomendasi vorikonazol sebagai lini pertama IPA yang konsisten antara kedua pedoman.
- Chowdhary A, et al. J Infect Dis 2017 — tinjauan komprehensif epidemiologi dan mekanisme molekuler resistensi azole pada Aspergillus.
5.2 Golongan Echinocandin dan Polyene
Echinocandin (kaspofungin, mikafungin, anidulafungin, dan rezafungin yang lebih baru) bekerja menghambat enzim 1,3-β-D-glukan sintase yang mengkatalisis sintesis komponen struktural utama dinding sel jamur, sehingga memiliki profil keamanan yang sangat baik karena tidak terdapat pada sel mamalia.8,10 Golongan ini merupakan terapi empirik lini pertama pada kandidemia berdasarkan pedoman global ECMM/ISHAM/ASM 2025 namun memiliki aktivitas terbatas terhadap Mucorales, Cryptococcus, dan jamur endemik dimorfik.8
5.2.1 Amfoterisin B: Formulasi dan Toksisitas
Amfoterisin B berikatan dengan ergosterol membran sel jamur membentuk pori yang menyebabkan kebocoran ion dan kematian sel. Formulasi liposomal (L-AmB) secara bermakna mengurangi nefrotoksisitas dan reaksi infus dibandingkan formulasi deoksikolat konvensional, sehingga menjadi pilihan utama pada kasus yang memerlukan dosis tinggi berkepanjangan seperti mukormikosis dan histoplasmosis diseminata berat.5,16 Pemantauan fungsi ginjal, elektrolit (kalium, magnesium), dan hitung darah lengkap secara berkala wajib dilakukan selama terapi.10
5.2.2 Flusitosin
Flusitosin bekerja sebagai antimetabolit setelah dikonversi menjadi 5-fluorourasil intraseluler oleh jamur, digunakan terutama dalam kombinasi dengan amfoterisin B pada terapi induksi meningitis kriptokokus untuk mempercepat sterilisasi cairan serebrospinal, dengan pemantauan kadar obat dianjurkan untuk mencegah toksisitas sumsum tulang pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal.20
| Kelas Antijamur | Target Kerja | Spektrum Utama | Toksisitas Utama |
|---|---|---|---|
| Azole (vorikonazol dkk.) | Lanosterol 14α-demetilase (ERG11/CYP51) | Aspergillus, Candida, jamur dimorfik | Hepatotoksisitas, gangguan visual, QTc |
| Echinocandin (termasuk rezafungin) | 1,3-β-D-glukan sintase | Candida spp. (termasuk C. auris/Candidozyma auris) | Umumnya baik ditoleransi; flebitis |
| Polyene (amfoterisin B) | Ergosterol membran sel | Spektrum sangat luas termasuk Mucorales | Nefrotoksisitas, hipokalemia |
| Flusitosin | Sintesis asam nukleat (antimetabolit) | Cryptococcus (kombinasi) | Supresi sumsum tulang |
5.3 Manajemen Kasus Resistensi Antifungal
Peningkatan kasus resistensi antijamur—baik intrinsik (Candida krusei/Pichia kudriavzevii terhadap flukonazol) maupun didapat (resistensi azole pada A. fumigatus, resistensi multiobat pada Candida auris/Candidozyma auris)—menuntut pendekatan sistematis dalam manajemen klinis.10,13,15 Prinsip manajemen meliputi identifikasi spesies dan uji kepekaan antijamur baku sebelum atau selekas mungkin setelah inisiasi terapi empirik, penggunaan kombinasi antijamur pada kasus terpilih (a.l. amfoterisin B dengan flusitosin pada kriptokokosis berat), serta pertimbangan debridement sumber infeksi (pelepasan kateter, debridement bedah jaringan nekrotik) sebagai komponen tata laksana yang tidak tergantikan oleh farmakoterapi semata.8,16
5.3.1 Program Antifungal Stewardship
Program antifungal stewardship di rumah sakit rujukan tersier bertujuan mengoptimalkan pemilihan, dosis, dan durasi terapi antijamur melalui audit penggunaan, umpan balik klinis prospektif, serta integrasi hasil uji kepekaan cepat ke dalam keputusan klinis, sehingga dapat menekan tekanan seleksi terhadap galur resisten sekaligus memperbaiki luaran klinis pasien.10
5.3.2 Tantangan dan Arah Pengembangan Antijamur Baru
Pengembangan antijamur baru menghadapi tantangan besar akibat kesamaan biologi sel eukariotik antara jamur dan manusia yang membatasi target obat selektif, sehingga selama dua dekade jumlah kelas antijamur sistemik baru yang disetujui jauh lebih sedikit dibandingkan antibiotik.23 Sejak awal dekade 2020-an, situasi ini mulai membaik: ibrexafungerp (triterpenoid penghambat glukan sintase pertama di kelasnya) disetujui FDA pada Juni 2021, oteseconazole (tetrazol oral generasi baru untuk kandidiasis vulvovaginalis rekuren) disetujui FDA pada April 2022, dan rezafungin (echinocandin berwaktu paruh panjang untuk pemberian sekali seminggu) disetujui FDA pada Maret 2023 serta kini masuk rekomendasi kuat pedoman global candidiasis 2025.8,11 Dua kandidat lain dengan mekanisme kerja benar-benar baru, yaitu olorofim (penghambat dihidroorotat dehidrogenase jamur) dan fosmanogepix (penghambat enzim Gwt1 yang berperan pada sintesis dinding sel), masih berada pada tahap uji klinis fase lanjut dan belum memperoleh persetujuan regulasi hingga pertengahan tahun 2026, sehingga peran klinisnya masih perlu dipantau perkembangannya.11
- Identifikasi spesies dan uji kepekaan antijamur adalah dasar utama manajemen kasus resistensi, bukan eskalasi empirik semata.
- Debridement sumber infeksi tetap menjadi komponen tata laksana yang tidak tergantikan oleh farmakoterapi.
- Antijamur baru (ibrexafungerp, oteseconazole, rezafungin) telah disetujui regulator sejak 2021-2023; olorofim dan fosmanogepix masih dalam uji klinis fase lanjut per pertengahan 2026.
- Program antifungal stewardship penting untuk menekan tekanan seleksi resistensi di tingkat rumah sakit.
DAFTAR REFERENSI
- 1. Denning DW. Global incidence and mortality of severe fungal disease. Lancet Infect Dis. 2024;24(7):e428-e438.
- 2. Konsil Kedokteran Indonesia. Keputusan Konsil Kedokteran Indonesia Nomor 44/KKI/KEP/V/2023 tentang Standar Pendidikan Profesi Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Penyakit Tropik dan Infeksi. Jakarta: KKI; 2023.
- 3. World Health Organization. WHO Fungal Priority Pathogens List to Guide Research, Development and Public Health Action. Geneva: WHO; 2022. Available from: https://www.who.int/publications/i/item/9789240060241
- 4. Rodrigues ML, Nosanchuk JD. Fungal diseases as neglected pathogens: A wake-up call. PLoS Negl Trop Dis. 2020;14(2):e0007964.
- 5. Loscalzo J, Fauci AS, Kasper DL, Hauser SL, Longo DL, Jameson JL, editors. Harrison's Principles of Internal Medicine. 21st ed. New York: McGraw Hill; 2022.
- 6. Farrar J, Hotez PJ, Junghanss T, Kang G, Lalloo D, White NJ, Garcia PJ, editors. Manson's Tropical Diseases. 24th ed. Edinburgh: Elsevier; 2023.
- 7. Liu F, Hu Z-D, Zhao X-M, et al. Phylogenomic analysis of the Candida auris-Candida haemuli clade and related taxa in the Metschnikowiaceae, and proposal of thirteen new genera, fifty-five new combinations and nine new species. Persoonia. 2024;52:22-43.
- 8. Cornely OA, Sprute R, Bassetti M, et al. Global guideline for the diagnosis and management of candidiasis: an initiative of the ECMM in cooperation with ISHAM and ASM. Lancet Infect Dis. 2025;25(5):e280-e293.
- 9. Patterson TF, Thompson GR 3rd, Denning DW, et al. Practice Guidelines for the Diagnosis and Management of Aspergillosis: 2016 Update by the Infectious Diseases Society of America. Clin Infect Dis. 2016;63(4):e1-e60.
- 10. Cowen LE, Sanglard D, Howard SJ, Rogers PD, Perlin DS. Mechanisms of Antifungal Drug Resistance. Cold Spring Harb Perspect Med. 2015;5(7):a019752.
- 11. Hoenigl M, Sprute R, Egger M, et al. The Antifungal Pipeline: Fosmanogepix, Ibrexafungerp, Olorofim, Opelconazole, and Rezafungin. Drugs. 2021;81(15):1703-1729.
- 12. Ullmann AJ, Aguado JM, Arikan-Akdagli S, et al. Diagnosis and management of Aspergillus diseases: executive summary of the 2017 ESCMID-ECMM-ERS guideline. Clin Microbiol Infect. 2018;24(Suppl 1):e1-e38.
- 13. Chowdhary A, Sharma C, Meis JF. Azole-Resistant Aspergillosis: Epidemiology, Molecular Mechanisms, and Treatment. J Infect Dis. 2017;216(suppl_3):S436-S444.
- 14. Pappas PG, Kauffman CA, Andes DR, et al. Clinical Practice Guideline for the Management of Candidiasis: 2016 Update by the Infectious Diseases Society of America. Clin Infect Dis. 2016;62(4):e1-e50.
- 15. Lockhart SR, Etienne KA, Vallabhaneni S, et al. Simultaneous Emergence of Multidrug-Resistant Candida auris on 3 Continents Confirmed by Whole-Genome Sequencing and Epidemiological Analyses. Clin Infect Dis. 2017;64(2):134-140.
- 16. Cornely OA, Alastruey-Izquierdo A, Arenz D, et al. Global guideline for the diagnosis and management of mucormycosis: an initiative of the European Confederation of Medical Mycology in cooperation with the Mycoses Study Group Education and Research Consortium. Lancet Infect Dis. 2019;19(12):e405-e421.
- 17. Thompson GR 3rd, Le T, Chindamporn A, et al. Global guideline for the diagnosis and management of the endemic mycoses: an initiative of the European Confederation of Medical Mycology in cooperation with the International Society for Human and Animal Mycology. Lancet Infect Dis. 2021;21(12):e364-e374.
- 18. Wheat LJ, Freifeld AG, Kleiman MB, et al. Clinical Practice Guidelines for the Management of Patients with Histoplasmosis: 2007 Update by the Infectious Diseases Society of America. Clin Infect Dis. 2007;45(7):807-825.
- 19. Galgiani JN, Ampel NM, Blair JE, et al. 2016 Infectious Diseases Society of America (IDSA) Clinical Practice Guideline for the Treatment of Coccidioidomycosis. Clin Infect Dis. 2016;63(6):e112-e146.
- 20. Chang CC, Harrison TS, Bicanic TA, et al. Global guideline for the diagnosis and management of cryptococcosis: an initiative of the ECMM and ISHAM in cooperation with the ASM. Lancet Infect Dis. 2024;24(8):e495-e512.
- 21. World Health Organization. Guidelines for Diagnosing, Preventing and Managing Cryptococcal Disease Among Adults, Adolescents and Children Living with HIV. Geneva: WHO; 2022.
- 22. Perfect JR, Dismukes WE, Dromer F, et al. Clinical Practice Guidelines for the Management of Cryptococcal Disease: 2010 Update by the Infectious Diseases Society of America. Clin Infect Dis. 2010;50(3):291-322.
- 23. Perfect JR. The antifungal pipeline: a reality check. Nat Rev Drug Discov. 2017;16(9):603-616.
GLOSARIUM
- Amfoterisin B
- Antijamur golongan polyene yang berikatan dengan ergosterol membran sel jamur, tersedia dalam formulasi deoksikolat dan liposomal.
- Angioinvasi
- Invasi hifa jamur ke dinding pembuluh darah yang menyebabkan trombosis, infark jaringan, dan penyebaran hematogen.
- Antifungal stewardship
- Program pengelolaan penggunaan obat antijamur secara rasional untuk mengoptimalkan luaran klinis dan membatasi resistensi.
- Aspergilloma
- Massa jamur (fungus ball) yang tumbuh di dalam kavitas paru yang sudah ada sebelumnya, tanpa invasi jaringan sekitar.
- Breakthrough infection
- Infeksi jamur invasif yang timbul pada pasien yang sedang mendapat profilaksis atau terapi antijamur.
- Candidozyma auris
- Nama genus-spesies baru untuk Candida auris berdasarkan reklasifikasi filogenomik tahun 2024; kedua nama masih digunakan berdampingan dalam literatur dan pedoman klinis terkini.
- Coccidioidin
- Antigen yang digunakan pada uji kulit untuk mendeteksi paparan Coccidioides sebelumnya.
- Ergosterol
- Sterol utama penyusun membran sel jamur, menjadi target kerja golongan azole dan polyene.
- Fungemia
- Adanya jamur (paling sering Candida) dalam aliran darah yang dibuktikan dengan kultur darah positif.
- Galaktomanan
- Komponen dinding sel Aspergillus yang dapat dideteksi dalam serum atau bilasan bronkoalveolar sebagai penanda diagnostik.
- Halo sign
- Gambaran radiologis berupa area ground-glass opacity mengelilingi nodul paru, khas pada aspergilosis invasif dini.
- Hifa
- Struktur filamen bercabang penyusun tubuh jamur berfilamen (mold), dapat bersepta atau nonseptat.
- Immunocompromised host
- Individu dengan gangguan sistem imun (seluler dan/atau humoral) yang meningkatkan kerentanan terhadap infeksi oportunistik.
- India ink
- Teknik pewarnaan negatif untuk memvisualisasikan kapsul Cryptococcus neoformans di bawah mikroskop.
- Invasive fungal disease (IFD)
- Penyakit akibat infasi jaringan dalam oleh jamur, umumnya terjadi pada pejamu dengan imunitas terganggu.
- Kandidemia
- Infeksi aliran darah oleh spesies Candida, bentuk kandidiasis invasif yang paling sering ditemukan secara klinis.
- Kriptokokoma
- Massa granulomatosa akibat infeksi Cryptococcus di jaringan otak atau paru.
- Meningitis kriptokokus
- Infeksi susunan saraf pusat oleh Cryptococcus neoformans/gattii, komplikasi berat tersering pada infeksi HIV lanjut.
- Mucorales
- Ordo jamur berfilamen nonseptat penyebab mukormikosis, tumbuh cepat dan bersifat sangat angioinvasif.
- Mycetoma
- Infeksi jamur atau bakteri kronik pada jaringan subkutan yang membentuk saluran sinus dan granula.
- Neutropenia berkepanjangan
- Hitung neutrofil absolut di bawah 500/µL yang menetap lebih dari 10 hari, faktor risiko utama infeksi jamur invasif.
- Non-culture based test
- Uji diagnostik infeksi jamur yang tidak bergantung pada pertumbuhan biakan, misalnya deteksi antigen atau PCR.
- One World One Guideline
- Inisiatif European Confederation of Medical Mycology (ECMM) bersama ISHAM/ASM untuk menyusun pedoman diagnosis dan tata laksana mikosis yang berlaku global dan mencakup wilayah berdaya sumber rendah maupun tinggi.
- Pichia kudriavzevii
- Nama genus-spesies baru untuk Candida krusei berdasarkan revisi taksonomi molekuler; secara klinis tetap dikenal luas dengan nama lama karena adopsi yang belum merata.
- Reversed halo sign
- Gambaran radiologis area konsolidasi dikelilingi cincin ground-glass opacity, sugestif mukormikosis paru.
- Rezafungin
- Echinocandin generasi baru berwaktu paruh panjang yang memungkinkan pemberian sekali seminggu; disetujui FDA Maret 2023 untuk kandidemia/kandidiasis invasif dan kini direkomendasikan kuat pada pedoman global candidiasis 2025.
- Rhino-orbital-cerebral mucormycosis (ROCM)
- Bentuk mukormikosis yang menyebar dari sinus paranasal ke orbita dan intrakranial.
- Spora
- Struktur reproduktif jamur yang resisten terhadap lingkungan dan menjadi bentuk infeksius pada banyak jamur endemik.
- Step-down therapy
- Strategi peralihan dari antijamur intravena spektrum luas ke agen oral/spektrum lebih sempit setelah perbaikan klinis.
- Target attainment
- Pencapaian konsentrasi obat pada jaringan/plasma yang sesuai target farmakokinetik-farmakodinamik untuk efikasi optimal.
- Therapeutic drug monitoring (TDM)
- Pemantauan kadar obat dalam darah untuk memastikan efikasi dan meminimalkan toksisitas, penting pada azole generasi lanjut.
- Voriconazole
- Antijamur triazole generasi kedua, terapi lini pertama untuk aspergilosis invasif.
TENTANG BUKU INI
Buku ini merupakan Buku 4 dari Seri 10 Buku Pendidikan Dokter Subspesialis Penyakit Dalam Konsultan Tropik dan Infeksi, yang secara khusus membahas Modul TI-4 Tahap Madya kurikulum berupa infeksi jamur invasif, infeksi jamur endemik, infeksi jamur lain, serta terapi antifungal lanjut dan manajemen resistensinya. Buku ini berkaitan erat dengan Buku 1 (Diagnostik Penyakit Tropik dan Infeksi) yang membahas prinsip umum pendekatan diagnostik non-kultur dan molekuler, Buku 2 (Infeksi Bakteri dan Antibiotik Lanjut) serta Buku 6 (Health-care Associated Infection) yang relevan dalam konteks infeksi oportunistik pada pejamu imunokompromais, dan direkomendasikan dibaca bersamaan dengan buku-buku lain dalam seri sebagai satu kesatuan kurikulum Modul TI-1 hingga TI-9 Program Pendidikan Dokter Subspesialis Penyakit Dalam Pemimatan Penyakit Tropik dan Infeksi.
Catatan revisi: edisi ini telah melalui audit substansi, konsistensi istilah, bahasa, referensi, sitasi, dan validitas tautan pada Juli 2026. Pembaruan utama meliputi penyelarasan dengan pedoman global "One World One Guideline" ECMM/ISHAM/ASM terbaru untuk kandidiasis (2025), kriptokokosis (2024), dan mikosis endemik (2021); pencatatan reklasifikasi taksonomi Candida auris menjadi Candidozyma auris serta Candida krusei menjadi Pichia kudriavzevii; dan pemutakhiran status regulasi antijamur baru (ibrexafungerp, oteseconazole, rezafungin, olorofim, fosmanogepix) sesuai pengetahuan yang tersedia hingga pertengahan 2026.