Healthcare-Associated Infections, Sepsis, dan Pengendalian Resistensi Antimikroba (PPRA)
Buku Tematik 6 — Modul TI-6 (Tahap Madya)
KATA PENGANTAR
Buku ini disusun sebagai bagian keenam dari Seri Pendidikan Dokter Subspesialis Penyakit Dalam Konsultan Tropik dan Infeksi, yang secara keseluruhan mengacu pada Keputusan Konsil Kedokteran Indonesia Nomor 44/KKI/KEP/V/2023 tentang Standar Pendidikan Profesi Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Penyakit Tropik dan Infeksi. Buku ini secara khusus membahas Healthcare-Associated Infections (HAIs), sepsis dan syok sepsis di tatanan pelayanan kesehatan, serta Program Pengendalian Resistensi Antimikroba (PPRA), yang merupakan cakupan substansi Modul TI-6 pada Tahap Madya kurikulum pendidikan subspesialis.
Kompleksitas kasus penyakit dalam yang dirawat di rumah sakit rujukan, ditambah dengan peningkatan penggunaan alat invasif, prosedur pembedahan, dan terapi imunosupresif, menjadikan HAIs dan sepsis sebagai tantangan yang tidak terhindarkan dalam pelayanan kesehatan tersier. Di sisi lain, penggunaan antimikroba yang tidak rasional turut mempercepat laju resistensi antimikroba, yang oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah dinyatakan sebagai salah satu ancaman kesehatan global yang mendesak. Dokter Subspesialis Penyakit Dalam Pemimatan Penyakit Tropik dan Infeksi dituntut memiliki kompetensi klinis yang komprehensif dalam mendiagnosis, menatalaksana, mencegah, serta memimpin upaya pengendalian ketiga masalah yang saling berkaitan ini.
Buku ini disusun dengan kerangka yang konsisten pada setiap bab substansi klinis, yaitu definisi, epidemiologi, etiologi dan patogenesis, manifestasi klinis, pendekatan diagnostik, tata laksana, komplikasi, dan pencegahan, dilengkapi dengan kotak Poin Penting serta tabel ringkasan pada setiap bab yang relevan. Seluruh pernyataan faktual disertai sitasi mengikuti sistem Vancouver, dengan rujukan utama Harrison's Principles of Internal Medicine dan Manson's Tropical Diseases, diperkuat rujukan pedoman terkini dari CDC/NHSN, Surviving Sepsis Campaign, dan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Semoga buku ini bermanfaat bagi peserta didik Program Pendidikan Dokter Subspesialis Penyakit Dalam Pemimatan Penyakit Tropik dan Infeksi, serta seluruh tenaga kesehatan yang berkecimpung dalam upaya pengendalian infeksi dan resistensi antimikroba di Indonesia.
dr Norma Rahayu Najikhah, Sp.PD.
PENDAHULUAN EPIDEMIOLOGI HEALTHCARE-ASSOCIATED INFECTIONS
Healthcare-associated infections (HAIs), yang di Indonesia dikenal pula sebagai infeksi terkait pelayanan kesehatan, adalah infeksi yang timbul selama proses perawatan di fasilitas pelayanan kesehatan dan tidak didapati atau berada dalam masa inkubasi pada saat pasien masuk rawat, termasuk infeksi yang muncul setelah pasien pulang serta infeksi akibat pekerjaan pada tenaga kesehatan.1
Definisi operasional dan kriteria surveilans HAIs yang paling luas digunakan secara internasional, termasuk di Indonesia, mengacu pada definisi National Healthcare Safety Network (NHSN) yang dikelola oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC).3 Empat kategori HAIs yang paling banyak dilaporkan dan menjadi fokus surveilans nasional adalah infeksi luka operasi (surgical site infection/SSI), infeksi aliran darah terkait kateter vena sentral (central line-associated bloodstream infection/CLABSI), infeksi saluran kemih terkait kateter (catheter-associated urinary tract infection/CAUTI), dan pneumonia terkait ventilator (ventilator-associated pneumonia/VAP), ditambah infeksi Clostridioides difficile yang insidensinya terus meningkat di berbagai rumah sakit rujukan.3,4
Sebagai bagian dari seri pendidikan subspesialis Penyakit Tropik dan Infeksi, pembahasan HAIs pada buku ini turut merujuk pada kerangka kedokteran tropis komprehensif, mengingat infeksi terkait pelayanan kesehatan di kawasan endemis tropis kerap berinteraksi dengan beban penyakit infeksi tropis yang mendasari sehingga tata laksana perlu mempertimbangkan kedua aspek tersebut secara terintegrasi.2
Beban Epidemiologis Global dan Nasional
Data survei titik prevalensi WHO menunjukkan bahwa pada satu waktu tertentu, sekitar 7 dari 100 pasien rawat inap di negara maju dan 10 dari 100 pasien rawat inap di negara berkembang mengalami sedikitnya satu HAIs, dengan prevalensi pada studi kualitas tinggi di negara berkembang dapat mencapai sekitar 15 dari 100 pasien, dan beban tertinggi secara konsisten dijumpai pada unit perawatan intensif.5 HAIs berkontribusi terhadap perpanjangan lama rawat, peningkatan biaya perawatan, kecacatan jangka panjang, serta peningkatan mortalitas, dan pada banyak kasus disebabkan oleh mikroorganisme dengan pola resistensi antimikroba yang tinggi.5,6
Di Indonesia, data surveilans HAIs masih bervariasi antarfasilitas kesehatan mengingat implementasi sistem surveilans yang belum seragam, namun laporan dari rumah sakit rujukan nasional secara konsisten menunjukkan bahwa infeksi luka operasi dan infeksi aliran darah terkait kateter merupakan dua kontributor terbesar, sejalan dengan pola yang dilaporkan pada surveilans regional Asia Tenggara.6
Faktor Risiko dan Rantai Penularan
Faktor risiko HAIs dapat dikelompokkan menjadi faktor terkait pasien (usia lanjut, imunokompromais, komorbiditas berat, malnutrisi), faktor terkait prosedur (pemasangan alat invasif seperti kateter vena sentral, kateter urin, ventilator mekanik, serta tindakan pembedahan), dan faktor terkait sistem pelayanan (kepatuhan kebersihan tangan yang rendah, rasio tenaga kesehatan terhadap pasien yang tidak memadai, serta praktik pengendalian infeksi yang tidak konsisten).1,7
Pemahaman rantai penularan infeksi—agen infeksius, reservoir, portal keluar, cara penularan, portal masuk, dan pejamu yang rentan—menjadi dasar ilmiah bagi seluruh upaya pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI) yang dibahas lebih lanjut pada Bab V buku ini.7
- HAIs adalah infeksi yang timbul selama perawatan di fasilitas kesehatan dan tidak berada dalam masa inkubasi saat masuk rawat.¹
- Empat kategori HAIs prioritas surveilans nasional: SSI, CLABSI, CAUTI, dan infeksi Clostridioides difficile, dengan VAP sebagai kategori tambahan penting pada perawatan intensif.³,⁴
- HAIs berasosiasi dengan perpanjangan lama rawat, peningkatan biaya, dan peningkatan mortalitas, serta seringkali disebabkan mikroorganisme resisten multi obat.⁵,⁶
Tingkat kompetensi: Tingkat 4 — mampu mendiagnosis dan melakukan penatalaksanaan secara mandiri dan tuntas untuk kelompok Health-care Acquired Infections (HAIs), sesuai Lampiran Keputusan KKI No. 44/KKI/KEP/V/2023.
| Kategori HAIs | Definisi Ringkas (NHSN/CDC) | Dibahas pada |
|---|---|---|
| Surgical Site Infection (SSI) | Infeksi pada lokasi insisi bedah dalam 30-90 hari pascaoperasi tergantung ada/tidaknya implan | Bab II.1 |
| CLABSI | Bakteremia/fungemia laboratorium-konfirmasi tanpa sumber infeksi lain pada pasien dengan kateter vena sentral terpasang >2 hari kalender | Bab II.2 |
| CAUTI | Infeksi saluran kemih simtomatik pada pasien dengan kateter urin menetap terpasang >2 hari kalender | Bab II.3 |
| Infeksi Clostridioides difficile | Diare akibat toksin C. difficile yang timbul ≥3 hari setelah masuk rawat | Bab II.4 |
JENIS-JENIS HEALTHCARE-ASSOCIATED INFECTIONS
Bab ini membahas empat kategori HAIs yang paling sering dijumpai dan menjadi fokus surveilans nasional maupun internasional, dengan pendekatan definisi, epidemiologi, etiologi dan patogenesis, manifestasi klinis, pendekatan diagnostik, tata laksana, komplikasi, dan pencegahan yang konsisten pada setiap subbab.
2.1 Infeksi Luka Operasi (Surgical Site Infection)
Definisi
Infeksi luka operasi (SSI) didefinisikan sebagai infeksi yang terjadi pada lokasi insisi bedah dalam kurun waktu 30 hari pascaoperasi tanpa implan, atau hingga 90 hari pascaoperasi bila terdapat implan, dan diklasifikasikan menjadi SSI superfisial insisional, SSI dalam insisional, dan SSI organ/rongga sesuai kedalaman jaringan yang terlibat.3,8
Epidemiologi
SSI merupakan salah satu HAIs tersering pada pasien bedah, dengan insidensi yang bervariasi menurut jenis operasi, kelas luka (bersih, bersih-terkontaminasi, terkontaminasi, kotor), dan durasi operasi.8 Prosedur abdomen dan operasi kolorektal secara konsisten menunjukkan risiko SSI yang lebih tinggi dibandingkan prosedur bersih seperti operasi ortopedi elektif tanpa implan.8,9
Etiologi dan Patogenesis
Staphylococcus aureus (termasuk methicillin-resistant Staphylococcus aureus/MRSA), stafilokokus koagulase-negatif, Enterococcus spp., dan basil Gram negatif seperti Escherichia coli merupakan patogen tersering, dengan sumber kontaminasi utama berasal dari flora kulit pasien sendiri pada saat insisi.8
Manifestasi Klinis
Tanda klasik meliputi eritema, edema, nyeri tekan, hangat pada perabaan, dan keluarnya sekret purulen dari lokasi insisi, dapat disertai demam sistemik pada infeksi yang lebih dalam atau melibatkan organ/rongga.
Pendekatan Diagnostik
Diagnosis ditegakkan berdasarkan kriteria klinis NHSN yang membedakan ketiga subtipe SSI, didukung kultur mikrobiologi dari sekret luka atau cairan/jaringan yang diambil secara aseptik, serta pencitraan (ultrasonografi atau CT-scan) bila dicurigai abses dalam atau keterlibatan organ/rongga.3,8
Tata Laksana
Tata laksana SSI superfisial umumnya berupa membuka kembali insisi untuk drainase dan perawatan luka terbuka; antibiotik sistemik ditambahkan bila terdapat selulitis luas atau tanda sistemik. Pada SSI dalam atau organ/rongga, diperlukan drainase (perkutan atau bedah ulang) disertai antibiotik empiris spektrum luas yang mencakup Gram positif dan Gram negatif, disesuaikan dengan hasil kultur begitu tersedia, dengan durasi terapi umumnya 7-14 hari tergantung sumber dan respons klinis.8,9
Komplikasi
Komplikasi meliputi dehisensi luka, fasciitis nekrotikans, abses residual, sepsis, serta kegagalan implan pada operasi dengan pemasangan alat/bahan prostetik.
Pencegahan
Bundel pencegahan SSI mencakup profilaksis antibiotik yang tepat waktu (diberikan dalam 60 menit sebelum insisi), pengendalian kadar gula darah perioperatif, normotermia, persiapan kulit dengan antiseptik berbasis klorheksidin-alkohol, serta teknik bedah aseptik yang baik.9
- SSI diklasifikasikan menjadi superfisial insisional, dalam insisional, dan organ/rongga.³,⁸
- Profilaksis antibiotik tepat waktu dan persiapan kulit klorheksidin-alkohol menurunkan risiko SSI secara bermakna.⁹
Tingkat kompetensi: Tingkat 4 — mampu mendiagnosis dan melakukan penatalaksanaan secara mandiri dan tuntas untuk infeksi luka operasi, sesuai Lampiran Keputusan KKI No. 44/KKI/KEP/V/2023.
| Klasifikasi SSI | Kedalaman Jaringan | Contoh Tanda |
|---|---|---|
| Superfisial insisional | Kulit dan jaringan subkutan | Eritema, sekret purulen superfisial |
| Dalam insisional | Fasia dan lapisan otot | Dehisensi spontan, abses dalam insisi |
| Organ/rongga | Organ atau rongga yang dimanipulasi saat operasi | Abses intra-abdomen pascalaparotomi |
2.2 Central Line-Associated Bloodstream Infection (CLABSI)
Definisi
CLABSI didefinisikan sebagai bakteremia atau fungemia terkonfirmasi laboratorium yang timbul pada pasien dengan kateter vena sentral yang telah terpasang lebih dari dua hari kalender, tanpa adanya sumber infeksi lain yang dapat menjelaskan hasil kultur darah positif.3,10
Epidemiologi
CLABSI paling sering dilaporkan pada unit perawatan intensif dengan penggunaan kateter vena sentral jangka panjang, dan menjadi salah satu penyumbang mortalitas serta biaya perawatan tambahan yang signifikan pada pasien kritis.10
Etiologi dan Patogenesis
Stafilokokus koagulase-negatif, Staphylococcus aureus, Enterococcus spp., basil Gram negatif (Klebsiella pneumoniae, Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa), dan Candida spp. merupakan penyebab tersering, dengan patogenesis utama berupa kolonisasi permukaan kateter dan pembentukan biofilm yang melindungi mikroorganisme dari sistem imun pejamu dan antimikroba.10,11
Manifestasi Klinis
Demam, menggigil, dan tanda sepsis dapat timbul tanpa fokus infeksi yang jelas; inflamasi pada lokasi insersi kateter dapat ditemukan namun seringkali tidak ada.
Pendekatan Diagnostik
Diagnosis memerlukan kultur darah dari kateter dan dari vena perifer secara bersamaan; differential time to positivity (kultur dari kateter menjadi positif lebih dari dua jam sebelum kultur perifer) mendukung diagnosis infeksi terkait kateter tanpa harus melepas kateter.10,11
Tata Laksana
Terapi empiris awal mencakup cakupan terhadap MRSA (vankomisin) dan Gram negatif termasuk Pseudomonas pada pasien neutropenia atau sakit kritis, disesuaikan dengan pola resistensi lokal dan hasil kultur. Kateter vena sentral umumnya dilepas pada infeksi oleh Staphylococcus aureus, Candida, Pseudomonas, atau bila pasien mengalami sepsis berat/syok septik, endokarditis, atau tromboflebitis supuratif, sedangkan pada infeksi oleh organisme dengan virulensi lebih rendah dapat dipertimbangkan terapi antibiotic lock disertai terapi sistemik tanpa pelepasan kateter segera.10,11
Komplikasi
Endokarditis infektif, tromboflebitis septik, abses metastatik, dan syok septik merupakan komplikasi yang harus diwaspadai, terutama pada bakteremia oleh Staphylococcus aureus.
Pencegahan
Bundel pencegahan CLABSI mencakup kebersihan tangan, penggunaan tindakan barrier maksimal saat insersi, antiseptik kulit klorheksidin >0,5% dengan alkohol, pemilihan lokasi insersi yang optimal (menghindari vena femoralis bila memungkinkan), serta evaluasi harian kebutuhan kateter untuk pelepasan sedini mungkin.10
- Pedoman surveilans CLABSI CDC/NHSN memberikan kriteria baku laboratory-confirmed bloodstream infection yang digunakan secara internasional.³,¹⁰
Tingkat kompetensi: Tingkat 4 — mampu mendiagnosis dan melakukan penatalaksanaan secara mandiri dan tuntas untuk CLABSI, sesuai Lampiran Keputusan KKI No. 44/KKI/KEP/V/2023.
2.3 Catheter-Associated Urinary Tract Infection (CAUTI)
Definisi
CAUTI adalah infeksi saluran kemih simtomatik yang timbul pada pasien dengan kateter urin menetap yang telah terpasang lebih dari dua hari kalender, dibuktikan dengan gejala klinis yang sesuai disertai kultur urin positif dengan ambang hitung koloni yang ditetapkan.3,12
Epidemiologi
CAUTI merupakan salah satu HAIs tersering secara global mengingat luasnya penggunaan kateter urin menetap pada pasien rawat inap, meskipun proporsi yang benar-benar simtomatik lebih kecil dibandingkan bakteriuria asimtomatik terkait kateter.12
Etiologi dan Patogenesis
Escherichia coli, Klebsiella spp., Proteus mirabilis, Pseudomonas aeruginosa, Enterococcus spp., dan Candida spp. merupakan penyebab tersering, dengan pembentukan biofilm pada permukaan kateter sebagai mekanisme patogenesis utama yang memfasilitasi kolonisasi dan resistensi terhadap terapi.
Manifestasi Klinis
Demam tanpa penyebab lain, nyeri suprapubik atau nyeri sudut kostovertebra, perubahan status mental pada pasien geriatri, atau gejala sistemik sepsis dapat timbul; disuria klasik seringkali sulit dinilai pada pasien dengan kateter terpasang.
Pendekatan Diagnostik
Diagnosis memerlukan kultur urin yang diambil setelah penggantian kateter (bukan dari kantong urin) dengan hitung koloni ≥10⁵ colony forming unit/mL disertai gejala klinis yang sesuai; bakteriuria tanpa gejala pada pasien berkateter tidak dikategorikan sebagai CAUTI dan pada umumnya tidak memerlukan terapi antibiotik.12,13
Tata Laksana
Kateter urin sebaiknya diganti atau dilepas sebelum memulai terapi antibiotik. Terapi empiris dipilih berdasarkan pola resistensi lokal, dengan pilihan awal seperti seftriakson atau piperasilin-tazobaktam pada kasus berat, disesuaikan setelah hasil kultur tersedia; durasi terapi umumnya 7 hari dan dapat diperpendek menjadi 5 hari pada pasien dengan respons klinis cepat.12,13
Komplikasi
Pielonefritis, bakteremia sekunder, abses perinefrik, dan urosepsis merupakan komplikasi yang perlu diwaspadai terutama pada pasien dengan obstruksi saluran kemih yang tidak dikoreksi.
Pencegahan
Strategi pencegahan utama adalah pembatasan indikasi dan durasi pemasangan kateter urin menetap, penggunaan sistem drainase tertutup, serta evaluasi harian kebutuhan kateter dengan pelepasan sedini mungkin begitu indikasi tidak lagi terpenuhi.12
Tingkat kompetensi: Tingkat 4 — mampu mendiagnosis dan melakukan penatalaksanaan secara mandiri dan tuntas untuk CAUTI, sesuai Lampiran Keputusan KKI No. 44/KKI/KEP/V/2023.
| Kondisi | Bakteriuria Terkait Kateter | CAUTI |
|---|---|---|
| Gejala klinis | Tidak ada | Ada (demam, nyeri suprapubik, dsb.) |
| Tata laksana | Umumnya tidak diberikan antibiotik | Antibiotik sesuai kultur, kateter diganti/dilepas |
2.4 Infeksi Clostridioides difficile
Definisi
Infeksi Clostridioides difficile (dahulu Clostridium difficile) adalah diare akibat toksin A dan/atau toksin B yang dihasilkan oleh bakteri tersebut, dikategorikan sebagai HAIs bila gejala timbul pada hari ketiga rawat inap atau lebih, atau dalam 4 minggu setelah pulang rawat.3,14
Epidemiologi
Insidensi infeksi C. difficile meningkat secara global dalam dua dekade terakhir, berkaitan erat dengan penggunaan antibiotik spektrum luas, usia lanjut, rawat inap yang lama, dan penggunaan supresan asam lambung, dengan galur hipervirulen (ribotipe 027) yang berasosiasi dengan penyakit yang lebih berat.14,15
Etiologi dan Patogenesis
Gangguan mikrobiota usus normal akibat terapi antibiotik memungkinkan proliferasi spora C. difficile yang tertelan, dengan produksi toksin A dan B yang menyebabkan kerusakan mukosa kolon, inflamasi, dan pada kasus berat membentuk pseudomembran.
Manifestasi Klinis
Diare cair frekuen tanpa darah, kram abdomen, dan demam ringan pada kasus non-berat; pada kasus berat/fulminan dapat timbul ileus, megakolon toksik, perforasi kolon, dan syok.
Pendekatan Diagnostik
Diagnosis ditegakkan pada pasien dengan diare (≥3 kali buang air besar cair dalam 24 jam) melalui pemeriksaan tinja menggunakan nucleic acid amplification test (NAAT) atau kombinasi glutamate dehydrogenase (GDH) dan uji toksin, hanya pada spesimen tinja yang tidak berbentuk sesuai konsistensi wadah.14
Tata Laksana
Untuk episode awal, baik non-berat maupun berat, pembaruan IDSA/SHEA 2021 menyarankan fidaksomisin oral 200 mg dua kali sehari selama 10 hari sebagai terapi lini pertama dibandingkan vankomisin oral standar, karena fidaksomisin terbukti menurunkan angka rekurensi tanpa perbedaan bermakna pada angka kesembuhan, mortalitas, atau efek samping; vankomisin oral 125 mg empat kali sehari selama 10 hari tetap menjadi alternatif yang dapat diterima apabila fidaksomisin tidak tersedia atau karena keterbatasan sumber daya. Metronidazol tidak lagi direkomendasikan sebagai terapi lini pertama kecuali kedua agen tersebut tidak tersedia.14
Pada episode fulminan (disertai hipotensi, syok, ileus, atau megakolon toksik), diberikan vankomisin oral 500 mg empat kali sehari (ditambah vankomisin per rektal bila ileus) dikombinasikan dengan metronidazol intravena, serta konsultasi bedah untuk pertimbangan kolektomi pada perburukan klinis.14
Untuk infeksi rekuren, IDSA/SHEA 2021 menyarankan fidaksomisin (regimen standar atau extended-pulsed) dibandingkan vankomisin oral standar; vankomisin dengan regimen tapering-pulsed, vankomisin diikuti rifaksimin, atau transplantasi mikrobiota tinja (fecal microbiota transplantation) merupakan pilihan tambahan pada rekurensi multipel. Penambahan bezlotoxumab, suatu antibodi monoklonal anti-toksin B, dapat dipertimbangkan bersama terapi antibiotik standar pada pasien dengan risiko tinggi rekurensi untuk menurunkan risiko kekambuhan.14,15
Komplikasi
Megakolon toksik, perforasi kolon, syok septik, dan infeksi rekuren merupakan komplikasi utama yang meningkatkan mortalitas.
Pencegahan
Pencegahan mengandalkan penggunaan antibiotik yang rasional melalui program PPRA (dibahas pada Bab IV), kebersihan tangan dengan sabun dan air mengalir (hand sanitizer berbasis alkohol tidak efektif membunuh spora), serta kewaspadaan kontak termasuk penggunaan sarung tangan dan gaun serta pembersihan lingkungan dengan disinfektan sporosidal.14
- Hand sanitizer berbasis alkohol tidak membunuh spora C. difficile — cuci tangan dengan sabun dan air adalah wajib pada kewaspadaan kontak untuk infeksi ini.¹⁴
- Fidaksomisin, bukan vankomisin, kini menjadi terapi lini pertama pilihan IDSA/SHEA 2021 untuk episode awal maupun rekuren; vankomisin oral tetap alternatif yang dapat diterima bila fidaksomisin tidak tersedia.¹⁴
Tingkat kompetensi: Tingkat 4 — mampu mendiagnosis dan melakukan penatalaksanaan secara mandiri dan tuntas untuk infeksi Clostridioides difficile, sesuai Lampiran Keputusan KKI No. 44/KKI/KEP/V/2023.
| Derajat Keparahan | Kriteria | Terapi Lini Pertama |
|---|---|---|
| Non-berat | Leukosit ≤15.000/µL, kreatinin <1,5 mg/dL | Fidaksomisin 200 mg 2x/hari, 10 hari (lini pertama); vankomisin oral 125 mg 4x/hari sebagai alternatif |
| Berat | Leukosit >15.000/µL atau kreatinin ≥1,5 mg/dL | Fidaksomisin 200 mg 2x/hari, 10 hari (lini pertama); vankomisin oral 125 mg 4x/hari sebagai alternatif |
| Fulminan | Hipotensi/syok, ileus, atau megakolon toksik | Vankomisin oral 500 mg 4x/hari + metronidazol IV; pertimbangkan bedah |
SEPSIS DAN SYOK SEPSIS DI TATANAN PELAYANAN KESEHATAN
Definisi
Berdasarkan konsensus internasional Sepsis-3, sepsis didefinisikan sebagai disfungsi organ yang mengancam nyawa akibat respons pejamu yang tidak teregulasi terhadap infeksi, dioperasionalkan secara klinis sebagai peningkatan skor Sequential Organ Failure Assessment (SOFA) ≥2 poin akibat infeksi. Syok septik adalah subset sepsis dengan abnormalitas sirkulasi, seluler, dan metabolik yang cukup berat sehingga secara substansial meningkatkan mortalitas, diidentifikasi secara klinis sebagai sepsis yang memerlukan vasopresor untuk mempertahankan tekanan arteri rerata ≥65 mmHg disertai kadar laktat serum >2 mmol/L meskipun resusitasi cairan adekuat telah diberikan.16
Epidemiologi
Sepsis merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas di rumah sakit di seluruh dunia; analisis Global Burden of Disease Study melaporkan sekitar 48,9 juta kasus dan 11 juta kematian pada tahun 2017, mencakup hampir seperlima dari seluruh kematian global, dengan sebagian besar beban terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah.17 Analisis pembaruan Global Burden of Disease 2021 menunjukkan bahwa setelah tren penurunan sejak 1990, insidensi dan mortalitas sepsis kembali meningkat pada tahun 2020-2021, terutama pada kelompok usia lanjut, seiring pandemi COVID-19.32 Sepsis yang berasal dari HAIs, khususnya CLABSI, CAUTI, dan infeksi luka operasi, berkontribusi bermakna terhadap beban ini di tatanan pelayanan kesehatan tersier.10,16
Etiologi dan Patogenesis
Sepsis dapat disebabkan oleh berbagai patogen bakteri, jamur, atau virus dari berbagai fokus infeksi (paru, saluran kemih, abdomen, aliran darah terkait kateter, kulit dan jaringan lunak). Patogenesis melibatkan aktivasi berlebihan sistem imun bawaan melalui pengenalan pola molekuler patogen (PAMPs) oleh reseptor pengenal pola (PRRs), yang memicu badai sitokin proinflamasi, disfungsi endotel, koagulopati, dan akhirnya kegagalan multiorgan.16,18
Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis bervariasi luas, mulai dari demam atau hipotermia, takikardia, takipnea, perubahan status mental, hingga tanda hipoperfusi organ seperti oliguria, mottling kulit, dan peningkatan waktu pengisian kapiler; pada syok septik dijumpai hipotensi yang memerlukan vasopresor disertai hiperlaktatemia persisten.
Pendekatan Diagnostik
Skrining di luar unit perawatan intensif dapat menggunakan quick SOFA (qSOFA)—frekuensi napas ≥22 kali/menit, perubahan status mental, dan tekanan darah sistolik ≤100 mmHg—dengan skor ≥2 yang mengindikasikan risiko luaran buruk dan perlunya evaluasi lebih lanjut, meskipun qSOFA tidak digunakan sebagai kriteria diagnostik tunggal sepsis.16
Diagnosis sepsis memerlukan identifikasi sumber infeksi (melalui kultur darah, urin, sputum, cairan tubuh lain sesuai indikasi klinis, serta pencitraan), penilaian skor SOFA lengkap, dan pemeriksaan laktat serum sebagai penanda hipoperfusi jaringan, dengan waktu pengisian kapiler (capillary refill time) dapat digunakan sebagai penanda tambahan perfusi di samping laktat serial.16,19
Tata Laksana
Pedoman Surviving Sepsis Campaign edisi 2026 merekomendasikan pengambilan kultur darah sesegera mungkin, idealnya sebelum pemberian antimikroba, namun tanpa menunda pemberian terapi. Pada pasien dengan syok septik atau sepsis definit/probable, antimikroba direkomendasikan diberikan segera, idealnya dalam 1 jam sejak pengenalan; pada sepsis yang mungkin (possible) tanpa syok, evaluasi cepat selama maksimal 3 jam masih dapat diterima sebelum memulai terapi apabila terdapat ketidakpastian diagnostik.19
Untuk resusitasi cairan, pedoman menyarankan pemberian kristaloid intravena minimal 30 mL/kgBB dalam 3 jam pertama pada pasien dengan hipoperfusi akibat sepsis atau syok septik, dengan volume dihitung berdasarkan berat badan aktual, atau berat badan terkoreksi/ideal pada pasien dengan indeks massa tubuh >30 kg/m². Pemberian cairan bersifat individual dan memerlukan reevaluasi berkala untuk menghindari resusitasi kurang maupun berlebih; pada pasien yang tetap mengalami hipoperfusi setelah 30 mL/kgBB awal, strategi cairan liberal atau restriktif dapat dipilih berdasarkan karakteristik pasien dan sumber daya fasilitas, dan pertimbangan pengeluaran cairan aktif (active fluid removal) setelah fase resusitasi awal juga disarankan untuk mencegah kelebihan cairan.19
Norepinefrin tetap menjadi vasopresor lini pertama pada syok septik (rekomendasi conditional); vasopresin dapat ditambahkan sebagai lini kedua untuk mengurangi kebutuhan katekolamin, bukan sebagai pengganti norepinefrin. Pada pasien dengan syok septik disertai disfungsi jantung, norepinefrin atau epinefrin dapat digunakan sebagai vasopresor lini pertama, dengan norepinefrin lebih diutamakan pada takiaritmia dan epinefrin pada bradiaritmia. Target tekanan arteri rerata umum adalah ≥65 mmHg, namun pada pasien usia ≥65 tahun dengan syok septik, target yang lebih rendah (60-65 mmHg) dapat dipertimbangkan dibandingkan target yang lebih tinggi. Pemilihan antibiotik empiris disesuaikan dengan sumber infeksi yang dicurigai, pola resistensi lokal, dan status imun pasien, kemudian dilakukan de-eskalasi begitu hasil kultur dan sensitivitas tersedia.19
Komplikasi
Sindrom disfungsi organ multipel, acute respiratory distress syndrome (ARDS), cedera ginjal akut, koagulasi intravaskular diseminata, dan post-sepsis syndrome (gangguan kognitif dan fungsional jangka panjang pada penyintas) merupakan komplikasi penting yang perlu diantisipasi.
Pencegahan
Pencegahan sepsis di tatanan pelayanan kesehatan bertumpu pada pencegahan HAIs sebagai sumber infeksi (Bab II dan Bab V), pengenalan dini melalui sistem peringatan (early warning score), serta penerapan protokol resusitasi awal sepsis yang konsisten dan individual oleh tim multidisiplin, termasuk program peningkatan mutu (performance improvement program) untuk skrining sepsis pada pasien berisiko tinggi.19
- Sepsis = disfungsi organ mengancam nyawa akibat respons pejamu yang tidak teregulasi terhadap infeksi (Sepsis-3); syok septik ditandai kebutuhan vasopresor dan laktat >2 mmol/L meski resusitasi cairan adekuat.¹⁶
- Pedoman Surviving Sepsis Campaign 2026: kultur darah sebelum antimikroba tanpa menunda terapi; antimikroba segera (idealnya <1 jam) pada syok septik/sepsis definit-probable, evaluasi hingga 3 jam pada sepsis yang mungkin tanpa syok; kristaloid ≥30 mL/kgBB dalam 3 jam pertama yang diindividualisasi menurut berat badan dan reevaluasi berkala.¹⁹
- Norepinefrin tetap vasopresor lini pertama pada syok septik; target tekanan arteri rerata 60-65 mmHg dapat dipertimbangkan pada pasien usia ≥65 tahun.¹⁹
Tingkat kompetensi: Tingkat 4 — mampu mendiagnosis dan melakukan penatalaksanaan secara mandiri dan tuntas untuk sepsis dan syok septik, sesuai Lampiran Keputusan KKI No. 44/KKI/KEP/V/2023.
| Komponen SOFA | Sistem Organ | Contoh Parameter |
|---|---|---|
| Respirasi | Paru | Rasio PaO₂/FiO₂ |
| Koagulasi | Hematologi | Hitung trombosit |
| Hepar | Hepatobilier | Bilirubin serum |
| Kardiovaskular | Sirkulasi | Tekanan arteri rerata, kebutuhan vasopresor |
| Sistem saraf pusat | Neurologis | Glasgow Coma Scale |
| Ginjal | Renal | Kreatinin serum, produksi urin |
PROGRAM PENGENDALIAN RESISTENSI ANTIMIKROBA (PPRA)
Resistensi antimikroba (antimicrobial resistance/AMR) telah dinyatakan oleh WHO sebagai salah satu dari sepuluh ancaman kesehatan global teratas, didorong oleh penggunaan antimikroba yang tidak rasional baik di fasilitas kesehatan maupun di sektor pertanian dan peternakan.20 Di Indonesia, Kementerian Kesehatan mewajibkan setiap rumah sakit membentuk Program Pengendalian Resistensi Antimikroba (PPRA) melalui Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 8 Tahun 2015 tentang Program Pengendalian Resistensi Antimikroba di Rumah Sakit.21
4.1 Prinsip Antimicrobial Stewardship
Antimicrobial stewardship adalah upaya terkoordinasi untuk mengoptimalkan penggunaan antimikroba melalui pemilihan agen, dosis, rute, dan durasi terapi yang tepat guna mencapai luaran klinis terbaik dengan meminimalkan toksisitas dan tekanan seleksi terhadap resistensi.20,22
CDC merumuskan tujuh elemen inti program antimicrobial stewardship di rumah sakit: (1) komitmen pimpinan (leadership commitment), (2) akuntabilitas dengan penunjukan pemimpin program yang jelas, (3) keahlian kefarmasian (pharmacy expertise), (4) tindakan intervensi prioritas seperti prior authorization dan prospective audit with feedback, (5) pelacakan (tracking) penggunaan dan luaran antibiotik, (6) pelaporan (reporting) informasi tersebut secara berkala kepada staf klinis, dan (7) edukasi bagi tenaga kesehatan mengenai penggunaan antimikroba yang rasional.22 Untuk mempertajam penerapan ketujuh elemen inti tersebut, CDC selanjutnya merilis Priorities for Hospital Core Element Implementation, yang menyoroti pendekatan implementasi dengan bukti dukungan terkuat dari enam dari tujuh elemen inti tersebut.23
Di tingkat rumah sakit di Indonesia, Tim PPRA yang bersifat multidisiplin (dokter spesialis penyakit dalam/konsultan tropik dan infeksi, mikrobiologi klinik, farmasi klinik, keperawatan pengendalian infeksi) bertanggung jawab menyusun kebijakan penggunaan antibiotik, pedoman terapi empiris berbasis pola kuman lokal, serta melakukan audit penggunaan antibiotik secara berkala sesuai amanat Permenkes No. 8 Tahun 2015.21
Intervensi antimicrobial stewardship yang terbukti efektif antara lain de-eskalasi terapi begitu hasil kultur tersedia, konversi terapi intravena ke oral bila memungkinkan, penetapan durasi terapi yang tepat berdasarkan bukti (tidak lebih lama dari yang diperlukan), serta penghentian antibiotik profilaksis bedah dalam 24 jam pascaoperasi kecuali terdapat indikasi klinis lain.
4.2 Surveilans Resistensi Antimikroba
Surveilans resistensi antimikroba yang sistematis merupakan fondasi bagi kebijakan terapi empiris yang rasional maupun bagi respons kesehatan masyarakat terhadap ancaman AMR. Di tingkat global, WHO mengoordinasikan Global Antimicrobial Resistance and Use Surveillance System (GLASS) yang mengumpulkan data resistensi dan penggunaan antimikroba dari negara anggota, termasuk Indonesia.24
Di tingkat rumah sakit, perangkat lunak WHONET yang dikembangkan oleh WHO Collaborating Centre umum digunakan untuk mengolah data kerentanan mikroorganisme dari laboratorium mikrobiologi klinik menjadi antibiogram tahunan, yang selanjutnya menjadi acuan penyusunan pedoman terapi empiris lokal oleh Tim PPRA.24,25
Organisme multidrug-resistant (MDRO) prioritas yang dipantau meliputi methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA), vancomycin-resistant Enterococcus (VRE), Enterobacteriaceae penghasil extended-spectrum beta-lactamase (ESBL), Enterobacteriaceae resisten karbapenem (CRE), dan Acinetobacter baumannii serta Pseudomonas aeruginosa dengan resistensi multipel, yang seluruhnya termasuk dalam daftar prioritas patogen resisten antibiotik WHO.
- PPRA di rumah sakit Indonesia diwajibkan oleh Permenkes No. 8 Tahun 2015 dan dijalankan oleh tim multidisiplin.²¹
- Tujuh elemen inti antimicrobial stewardship CDC: komitmen pimpinan, akuntabilitas, keahlian farmasi, tindakan, pelacakan, pelaporan, dan edukasi, dipertajam melalui Priorities for Hospital Core Element Implementation.²²,²³
- Antibiogram lokal berbasis WHONET menjadi dasar pedoman terapi empiris rumah sakit; data nasional berkontribusi ke GLASS WHO.²⁴,²⁵
Tingkat kompetensi: Tingkat 4 — mampu mendiagnosis dan melakukan penatalaksanaan secara mandiri dan tuntas untuk pengendalian resistensi antibiotik (PPRA), sesuai Lampiran Keputusan KKI No. 44/KKI/KEP/V/2023.
| Elemen Inti CDC | Contoh Implementasi |
|---|---|
| Komitmen pimpinan | Alokasi anggaran dan SDM untuk Tim PPRA |
| Akuntabilitas | Penunjukan ketua Tim PPRA (konsultan tropik dan infeksi) |
| Keahlian farmasi | Apoteker klinik sebagai co-leader program |
| Tindakan | Prior authorization untuk antibiotik cadangan, audit prospektif dengan umpan balik |
| Pelacakan | Pemantauan defined daily dose (DDD) per 100 hari-rawat |
| Pelaporan | Diseminasi antibiogram tahunan kepada staf klinis |
| Edukasi | Pelatihan berkala penggunaan antibiotik rasional |
PENCEGAHAN DAN KEWASPADAAN STANDAR
Kewaspadaan standar (standard precautions) adalah seperangkat praktik pencegahan dan pengendalian infeksi minimal yang wajib diterapkan pada seluruh pasien tanpa memandang status infeksi yang diketahui, karena setiap pasien berpotensi menularkan mikroorganisme infeksius.26
Kebersihan Tangan
WHO merumuskan konsep Lima Momen Kebersihan Tangan (My 5 Moments for Hand Hygiene): sebelum kontak dengan pasien, sebelum melakukan prosedur aseptik, setelah terpapar cairan tubuh, setelah kontak dengan pasien, dan setelah kontak dengan lingkungan sekitar pasien.27 Kebersihan tangan dilakukan dengan hand rub berbasis alkohol bila tangan tidak tampak kotor, atau dengan sabun dan air mengalir bila tangan tampak kotor atau dicurigai kontak dengan organisme pembentuk spora seperti Clostridioides difficile atau Bacillus anthracis.27
Alat Pelindung Diri dan Praktik Injeksi Aman
Alat pelindung diri (APD)—sarung tangan, masker, pelindung mata, gaun/apron—dipilih berdasarkan risiko pajanan yang diantisipasi terhadap darah, cairan tubuh, sekret, atau ekskreta. Praktik injeksi aman mencakup penggunaan jarum dan alat suntik sekali pakai untuk satu pasien, tidak menggunakan kembali jarum untuk mengambil obat dari vial multidosis yang digunakan untuk pasien lain, serta pembuangan benda tajam pada wadah tahan tusuk (safety box).
Kebersihan Pernapasan/Etika Batuk, Pengelolaan Lingkungan, dan Limbah
Kebersihan pernapasan mencakup menutup mulut dan hidung saat batuk/bersin, penggunaan masker pada individu dengan gejala respiratorik, dan penempatan pasien dengan jarak yang memadai di ruang tunggu. Pembersihan dan disinfeksi permukaan lingkungan perawatan (terutama high-touch surfaces) serta pengelolaan limbah medis sesuai kategorinya (infeksius, benda tajam, farmasi) merupakan komponen kewaspadaan standar yang tidak terpisahkan.
Kewaspadaan Berbasis Transmisi
Selain kewaspadaan standar, pasien dengan infeksi atau dugaan infeksi yang menular melalui rute tertentu memerlukan kewaspadaan tambahan berbasis transmisi: kewaspadaan kontak (misalnya untuk infeksi C. difficile, organisme multidrug-resistant), kewaspadaan droplet (misalnya influenza, pertusis), dan kewaspadaan udara/airborne (misalnya tuberkulosis paru, campak, varisela) yang memerlukan ruang isolasi bertekanan negatif dan penggunaan respirator partikulat (N95 atau setara) oleh petugas.26
- Lima Momen Kebersihan Tangan WHO adalah fondasi kewaspadaan standar dan pencegahan seluruh kategori HAIs.²⁷
- Hand rub berbasis alkohol tidak efektif terhadap organisme pembentuk spora — sabun dan air mengalir wajib digunakan pada kecurigaan infeksi C. difficile.²⁷
- Kewaspadaan berbasis transmisi (kontak, droplet, airborne) bersifat tambahan terhadap kewaspadaan standar, bukan pengganti.²⁶
| Momen | Contoh Situasi |
|---|---|
| Sebelum kontak dengan pasien | Sebelum menjabat tangan atau mengukur tanda vital |
| Sebelum prosedur aseptik | Sebelum pemasangan kateter vena sentral |
| Setelah risiko paparan cairan tubuh | Setelah melepas sarung tangan pascatindakan |
| Setelah kontak dengan pasien | Setelah pemeriksaan fisik |
| Setelah kontak lingkungan sekitar pasien | Setelah menyentuh bed rail atau tiang infus |
TERAPI CAIRAN DAN NUTRISI PADA KEADAAN KRITIS
Terapi Cairan pada Keadaan Kritis
Resusitasi cairan pada pasien kritis, termasuk pada sepsis dan syok septik, bertujuan memperbaiki perfusi jaringan tanpa menimbulkan kelebihan cairan yang justru berasosiasi dengan luaran buruk. Larutan kristaloid seimbang (balanced crystalloid, seperti Ringer laktat atau Plasma-Lyte) direkomendasikan sebagai cairan resusitasi lini pertama dibandingkan salin normal 0,9%, karena salin normal dalam volume besar berasosiasi dengan asidosis metabolik hiperkloremik dan risiko cedera ginjal akut yang lebih tinggi; hal ini didukung oleh uji klinis SMART pada pasien sakit kritis yang menunjukkan perbaikan luaran komposit kematian, terapi pengganti ginjal baru, atau disfungsi ginjal menetap dengan penggunaan kristaloid seimbang dibandingkan salin.19,28
Setelah resusitasi awal, pemberian cairan lanjutan sebaiknya dipandu oleh penilaian responsivitas cairan (fluid responsiveness), misalnya melalui passive leg raise test, variasi tekanan nadi pada pasien dengan ventilasi mekanik terkontrol, atau waktu pengisian kapiler, untuk menghindari overresusitasi. Albumin dapat dipertimbangkan sebagai cairan tambahan pada pasien sepsis yang memerlukan volume kristaloid dalam jumlah besar, sedangkan hydroxyethyl starch tidak direkomendasikan pada pasien sepsis karena risiko cedera ginjal akut dan gangguan koagulasi.19
Nutrisi pada Keadaan Kritis
Nutrisi enteral dini, diberikan dalam 24-48 jam pertama setelah masuk unit perawatan intensif pada pasien yang hemodinamik stabil, direkomendasikan dibandingkan nutrisi parenteral maupun penundaan nutrisi, karena berasosiasi dengan preservasi integritas mukosa usus dan penurunan risiko infeksi.29,30
Target kalori pada fase akut awal (72 jam pertama) sebaiknya bersifat hipokalorik-permisif (sekitar 70% dari kebutuhan yang diperhitungkan) untuk menghindari overfeeding, dengan target protein 1,2-2,0 gram/kgBB/hari yang disesuaikan dengan tingkat katabolisme dan fungsi ginjal pasien. Pembaruan pedoman ASPEN 2022 menegaskan pentingnya asupan protein yang adekuat, meskipun bukti mengenai dosis energi dan protein optimal pada fase akut awal masih terbatas dan memerlukan individualisasi. Pemantauan ketat elektrolit (fosfat, kalium, magnesium) diperlukan pada inisiasi nutrisi untuk mendeteksi refeeding syndrome, terutama pada pasien dengan malnutrisi berat sebelumnya.29,30,31
Nutrisi parenteral dipertimbangkan bila nutrisi enteral tidak dapat mencapai target dalam 7-10 hari atau bila terdapat kontraindikasi enteral (ileus, obstruksi, iskemia usus), dengan tetap mempertahankan nutrisi enteral trofik dalam jumlah minimal bila memungkinkan untuk menjaga integritas mukosa usus.
- Kristaloid seimbang lebih dianjurkan daripada salin normal 0,9% untuk resusitasi cairan pada sepsis.¹⁹,²⁸
- Nutrisi enteral dini (24-48 jam) dengan target hipokalorik-permisif pada fase akut awal menurunkan risiko komplikasi infeksi.²⁹,³⁰
- Pantau fosfat, kalium, dan magnesium pada inisiasi nutrisi untuk mendeteksi refeeding syndrome.³⁰
| Jenis Cairan | Karakteristik | Catatan Klinis |
|---|---|---|
| Kristaloid seimbang (RL, Plasma-Lyte) | Komposisi elektrolit mendekati plasma | Lini pertama resusitasi sepsis |
| Salin normal 0,9% | Klorida tinggi (154 mEq/L) | Risiko asidosis hiperkloremik bila volume besar |
| Albumin | Koloid, tekanan onkotik tinggi | Pertimbangan tambahan pada kebutuhan volume besar |
| Hydroxyethyl starch | Koloid sintetik | Tidak direkomendasikan pada sepsis |
DAFTAR REFERENSI
1. Longo DL, Fauci AS, Kasper DL, Hauser SL, Jameson J, Loscalzo J, Holland SM, Langford CA, editor. Harrison's Principles of Internal Medicine. Edisi ke-22. New York: McGraw Hill; 2025.
2. Farrar J, Hotez PJ, Junghanss T, Kang G, Lalloo D, White NJ, Garcia PJ, editor. Manson's Tropical Diseases. Edisi ke-24. London: Elsevier; 2023.
3. Centers for Disease Control and Prevention (CDC), National Healthcare Safety Network (NHSN). NHSN Patient Safety Component Manual. Atlanta: CDC; edisi terkini.
4. World Health Organization. Report on the Burden of Endemic Health Care-Associated Infection Worldwide. Geneva: WHO; 2011.
5. World Health Organization. Global report on infection prevention and control. Geneva: WHO; 2022.
6. Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 2017 tentang Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di Fasilitas Pelayanan Kesehatan. Jakarta: Kemenkes RI; 2017.
7. Bennett JE, Dolin R, Blaser MJ, editor. Mandell, Douglas, and Bennett's Principles and Practice of Infectious Diseases. Edisi terbaru. Philadelphia: Elsevier.
8. Berríos-Torres SI, Umscheid CA, Bratzler DW, dkk. Centers for Disease Control and Prevention Guideline for the Prevention of Surgical Site Infection, 2017. JAMA Surg. 2017;152(8):784-791.
9. Anderson DJ, Podgorny K, Berríos-Torres SI, dkk. Strategies to Prevent Surgical Site Infections in Acute Care Hospitals: 2014 Update. Infect Control Hosp Epidemiol. 2014;35(6):605-627.
10. Mermel LA, Allon M, Bouza E, dkk. Clinical Practice Guidelines for the Diagnosis and Management of Intravascular Catheter-Related Infection: 2009 Update by the Infectious Diseases Society of America. Clin Infect Dis. 2009;49(1):1-45.
11. Marschall J, Mermel LA, Fakih M, dkk. Strategies to Prevent Central Line-Associated Bloodstream Infections in Acute Care Hospitals: 2014 Update. Infect Control Hosp Epidemiol. 2014;35(7):753-771.
12. Hooton TM, Bradley SF, Cardenas DD, dkk. Diagnosis, Prevention, and Treatment of Catheter-Associated Urinary Tract Infection in Adults: 2009 International Clinical Practice Guidelines from the Infectious Diseases Society of America. Clin Infect Dis. 2010;50(5):625-663.
13. Lo E, Nicolle LE, Coffin SE, dkk. Strategies to Prevent Catheter-Associated Urinary Tract Infections in Acute Care Hospitals: 2014 Update. Infect Control Hosp Epidemiol. 2014;35(5):464-479.
14. Johnson S, Lavergne V, Skinner AM, dkk. Clinical Practice Guideline by the Infectious Diseases Society of America (IDSA) and Society for Healthcare Epidemiology of America (SHEA): 2021 Focused Update Guidelines on Management of Clostridioides difficile Infection in Adults. Clin Infect Dis. 2021;73(5):e1029-e1044.
15. McDonald LC, Gerding DN, Johnson S, dkk. Clinical Practice Guidelines for Clostridium difficile Infection in Adults and Children: 2017 Update by IDSA and SHEA. Clin Infect Dis. 2018;66(7):e1-e48.
16. Singer M, Deutschman CS, Seymour CW, dkk. The Third International Consensus Definitions for Sepsis and Septic Shock (Sepsis-3). JAMA. 2016;315(8):801-810.
17. Rudd KE, Johnson SC, Agesa KM, dkk. Global, Regional, and National Sepsis Incidence and Mortality, 1990-2017: Analysis for the Global Burden of Disease Study. Lancet. 2020;395(10219):200-211.
18. van der Poll T, van de Veerdonk FL, Scicluna BP, Netea MG. The Immunopathology of Sepsis and Potential Therapeutic Targets. Nat Rev Immunol. 2017;17(7):407-420.
19. Prescott HC, Antonelli M, Alhazzani W, dkk. Surviving Sepsis Campaign: International Guidelines for Management of Sepsis and Septic Shock 2026. Crit Care Med. 2026;54(4):725-812.
20. World Health Organization. Global Action Plan on Antimicrobial Resistance. Geneva: WHO; 2015.
21. Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2015 tentang Program Pengendalian Resistensi Antimikroba di Rumah Sakit. Jakarta: Kemenkes RI; 2015.
22. Centers for Disease Control and Prevention. Core Elements of Hospital Antibiotic Stewardship Programs. Atlanta: CDC; 2019.
23. Centers for Disease Control and Prevention. Priorities for Hospital Core Element Implementation. Atlanta: CDC; 2022.
24. World Health Organization. Global Antibiotic Resistance Surveillance Report 2025: WHO Global Antimicrobial Resistance and Use Surveillance System (GLASS): Summary. Geneva: WHO; 2025.
25. World Health Organization Collaborating Centre for Surveillance of Antimicrobial Resistance. WHONET Software Documentation. Boston.
26. World Health Organization. Guidelines on Core Components of Infection Prevention and Control Programmes at the National and Acute Health Care Facility Level. Geneva: WHO; 2016.
27. World Health Organization. WHO Guidelines on Hand Hygiene in Health Care. Geneva: WHO; 2009.
28. Semler MW, Self WH, Wanderer JP, dkk. Balanced Crystalloids versus Saline in Critically Ill Adults. N Engl J Med. 2018;378(9):829-839.
29. Singer P, Reintam Blaser A, Berger MM, Szczeklik W, van Zanten ARH, Bischoff SC. ESPEN Practical and Partially Revised Guideline: Clinical Nutrition in the Intensive Care Unit. Clin Nutr. 2023;42(9):1671-1689.
30. McClave SA, Taylor BE, Martindale RG, dkk. Guidelines for the Provision and Assessment of Nutrition Support Therapy in the Adult Critically Ill Patient: SCCM and ASPEN. JPEN J Parenter Enteral Nutr. 2016;40(2):159-211.
31. Compher C, Bingham AL, McCall M, dkk. Guidelines for the Provision of Nutrition Support Therapy in the Adult Critically Ill Patient: American Society for Parenteral and Enteral Nutrition. JPEN J Parenter Enteral Nutr. 2022;46(1):12-41.
32. Gray AP, Chung E, Hsu RL, dkk. Global, Regional, and National Sepsis Incidence and Mortality, 1990-2021: A Systematic Analysis for the Global Burden of Disease Study 2021. Lancet Glob Health. 2025 Oct 21. doi:10.1016/S2214-109X(25)00356-0.
GLOSARIUM
Antibiogram — Ringkasan pola kerentanan mikroorganisme terhadap antimikroba pada suatu fasilitas atau populasi tertentu dalam periode waktu tertentu.
Antimicrobial stewardship — Upaya terkoordinasi untuk mengoptimalkan pemilihan, dosis, rute, dan durasi terapi antimikroba guna mencapai luaran klinis terbaik dengan meminimalkan resistensi.
Bakteriuria asimtomatik — Ditemukannya bakteri dalam urin pada jumlah bermakna tanpa disertai gejala klinis infeksi saluran kemih.
Bezlotoxumab — Antibodi monoklonal anti-toksin B Clostridioides difficile yang dapat ditambahkan pada terapi antibiotik standar untuk menurunkan risiko rekurensi pada pasien berisiko tinggi.
Biofilm — Komunitas mikroorganisme yang melekat pada suatu permukaan (misalnya kateter) dan terbungkus matriks ekstraseluler yang melindunginya dari sistem imun dan antimikroba.
Bundel Hour-1 — Konsep bundel resusitasi sepsis 1 jam dari Surviving Sepsis Campaign 2018 (laktat, kultur darah, antibiotik, cairan, vasopresor); sejak pembaruan pedoman 2026, tata laksana awal sepsis diindividualisasi menurut kepastian diagnosis dan status syok, namun tetap menekankan kultur darah dan pemberian antimikroba sedini mungkin.
CAUTI — Catheter-associated urinary tract infection; infeksi saluran kemih simtomatik terkait pemasangan kateter urin menetap.
CLABSI — Central line-associated bloodstream infection; bakteremia/fungemia terkait pemasangan kateter vena sentral.
Clostridioides difficile — Bakteri anaerob pembentuk spora penyebab diare dan kolitis terkait antibiotik melalui produksi toksin A dan B.
Debridement — Tindakan pengangkatan jaringan mati, terinfeksi, atau benda asing dari suatu luka untuk mempercepat penyembuhan.
De-eskalasi antibiotik — Penyempitan spektrum atau penghentian sebagian regimen antibiotik empiris setelah hasil kultur dan sensitivitas tersedia.
Fidaksomisin — Antibiotik makrosiklik dengan spektrum sempit terhadap Clostridioides difficile, digunakan sebagai terapi lini pertama infeksi tersebut.
Fecal microbiota transplantation — Transplantasi mikrobiota tinja dari donor sehat ke usus pasien untuk memulihkan mikrobiota normal, digunakan pada infeksi C. difficile rekuren.
GLASS — Global Antimicrobial Resistance and Use Surveillance System; sistem surveilans resistensi dan penggunaan antimikroba yang dikoordinasikan WHO.
Kewaspadaan berbasis transmisi — Tindakan pencegahan tambahan (kontak, droplet, airborne) yang diterapkan pada pasien dengan infeksi yang diketahui atau dicurigai menular melalui rute tertentu.
Kewaspadaan standar — Praktik pencegahan dan pengendalian infeksi minimal yang diterapkan pada seluruh pasien tanpa memandang status infeksinya.
Laktat serum — Penanda biokimia hipoperfusi jaringan yang digunakan dalam penilaian keparahan sepsis dan syok septik.
MDRO — Multidrug-resistant organism; mikroorganisme yang resisten terhadap satu atau lebih agen antimikroba dari tiga atau lebih kategori antimikroba.
Norepinefrin — Vasopresor katekolamin yang menjadi terapi lini pertama pada syok septik untuk mencapai target tekanan arteri rerata.
PPRA — Program Pengendalian Resistensi Antimikroba; program wajib rumah sakit di Indonesia sesuai Permenkes No. 8 Tahun 2015.
Profilaksis antibiotik bedah — Pemberian antibiotik sebelum insisi bedah untuk mencegah infeksi luka operasi, umumnya dihentikan dalam 24 jam pascaoperasi.
qSOFA — Quick Sequential Organ Failure Assessment; alat skrining cepat di luar unit intensif untuk mengidentifikasi pasien berisiko luaran buruk akibat infeksi.
Refeeding syndrome — Gangguan metabolik dan elektrolit (terutama hipofosfatemia) yang timbul akibat inisiasi nutrisi terlalu cepat pada pasien malnutrisi berat.
Resusitasi cairan — Pemberian cairan intravena dalam jumlah dan kecepatan tertentu untuk memperbaiki volume intravaskular dan perfusi jaringan.
Sepsis — Disfungsi organ yang mengancam nyawa akibat respons pejamu yang tidak teregulasi terhadap infeksi, menurut definisi Sepsis-3.
SOFA — Sequential Organ Failure Assessment; skor yang menilai derajat disfungsi enam sistem organ utama pada pasien sakit kritis.
SSI — Surgical site infection; infeksi pada lokasi insisi bedah, dibedakan menjadi superfisial insisional, dalam insisional, dan organ/rongga.
Syok septik — Subset sepsis dengan abnormalitas sirkulasi dan metabolik yang cukup berat sehingga meningkatkan mortalitas secara substansial.
Terapi antibiotic lock — Pengisian lumen kateter dengan larutan antibiotik konsentrasi tinggi untuk mengatasi infeksi terkait kateter tanpa melepas kateter.
WHONET — Perangkat lunak yang dikembangkan WHO Collaborating Centre untuk mengolah data kerentanan mikroorganisme dari laboratorium mikrobiologi klinik.
TENTANG BUKU INI
Buku ini adalah Buku 6 dari 10 dalam Seri Pendidikan Dokter Subspesialis Penyakit Dalam Konsultan Tropik dan Infeksi, yang secara khusus membahas Healthcare-Associated Infections, sepsis dan syok sepsis di tatanan pelayanan kesehatan, serta Program Pengendalian Resistensi Antimikroba (PPRA), sesuai cakupan Modul TI-6 pada Tahap Madya kurikulum. Pembaca yang membutuhkan pembahasan lebih mendalam mengenai penggunaan antimikroba spesifik pada penyakit infeksi bakteri dapat merujuk pada Buku Tematik 2 (Infeksi Bakteri dan Antibiotik Lanjut) dalam seri ini, sementara pembahasan mengenai infeksi oportunistik pada pasien immunocompromised, termasuk HIV, dapat ditemukan pada Buku Tematik yang membahas populasi khusus. Seluruh sepuluh buku dalam seri ini disusun dengan kerangka format dan kaidah ilmiah yang seragam guna menjamin konsistensi mutu pendidikan Dokter Subspesialis Penyakit Dalam Pemimatan Penyakit Tropik dan Infeksi di seluruh Indonesia, mengacu pada Keputusan Konsil Kedokteran Indonesia Nomor 44/KKI/KEP/V/2023.