Seri Pendidikan Dokter Subspesialis Penyakit Dalam · Konsultan Tropik dan Infeksi

Penyakit Tropik dan Infeksi pada Populasi Khusus, HIV/AIDS, dan Kedokteran Wisata (Travel Medicine)

Disusun mengacu pada Keputusan Konsil Kedokteran Indonesia Nomor 44/KKI/KEP/V/2023 tentang Standar Pendidikan Profesi Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Penyakit Tropik dan Infeksi.

Penanggung Jawab: dr Norma Rahayu Najikhah, Sp.PD. 2026

Kata Pengantar

Buku ini merupakan Buku 8 dari rangkaian Seri 10 Buku Pendidikan Dokter Subspesialis Penyakit Dalam Konsultan Tropik dan Infeksi, disusun sebagai materi pembelajaran pendalaman bagi peserta didik pada Tahap Mandiri, khususnya Modul TI-8, sebagaimana diamanatkan oleh Keputusan Konsil Kedokteran Indonesia Nomor 44/KKI/KEP/V/2023 tentang Standar Pendidikan Profesi Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Penyakit Tropik dan Infeksi.

Penyakit infeksi pada populasi khusus — ibu hamil, lanjut usia, dan pasien dengan kondisi immunocompromised — menuntut pendekatan klinis yang berbeda dari populasi umum, baik dari aspek farmakokinetik, keterbatasan modalitas diagnostik, maupun pertimbangan keselamatan janin atau kerentanan fisiologis. Demikian pula, epidemi Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang terus berkembang menuntut penguasaan tata laksana terapi antiretroviral (ARV) jangka panjang secara komprehensif, sementara mobilitas global yang meningkat menjadikan kedokteran wisata (travel medicine) sebagai kompetensi yang semakin relevan bagi seorang Subspesialis Penyakit Tropik dan Infeksi.

Buku ini disusun secara sistematis mengikuti kerangka Definisi–Epidemiologi–Etiologi dan Patogenesis–Manifestasi Klinis–Pendekatan Diagnostik–Tata Laksana–Komplikasi–Pencegahan pada setiap topik substansi klinis, dilengkapi dengan kotak Ringkasan Klinis, Poin Penting, dan Referensi Kunci, serta tabel-tabel ringkasan yang relevan secara klinis. Setiap topik dicantumkan tingkat kompetensinya sesuai Definisi Tingkat Kompetensi Konsil Kedokteran Indonesia tahun 2019, mengacu pada Lampiran Keputusan KKI Nomor 44/KKI/KEP/V/2023.

Semoga buku ini bermanfaat bagi peserta program pendidikan Dokter Subspesialis Penyakit Dalam Pemimatan Penyakit Tropik dan Infeksi di seluruh Indonesia, serta berkontribusi terhadap peningkatan mutu pelayanan kesehatan subspesialistik bagi masyarakat.

Penanggung Jawab Seri,
dr Norma Rahayu Najikhah, Sp.PD.

BAB I — Pendahuluan Pelayanan Infeksi pada Populasi Khusus

Populasi khusus dalam konteks penyakit tropik dan infeksi mencakup kelompok individu yang memiliki karakteristik fisiologis, imunologis, atau farmakokinetik berbeda dari populasi umum, sehingga memerlukan pendekatan diagnostik dan terapeutik yang disesuaikan. Kelompok ini meliputi perempuan hamil, lanjut usia (geriatri), dan pasien dengan kondisi imunokompromais, baik akibat infeksi HIV, terapi imunosupresan, kemoterapi, maupun transplantasi organ. [1]

Program Pendidikan Dokter Subspesialis Penyakit Dalam Pemimatan Penyakit Tropik dan Infeksi menempatkan pengelolaan infeksi pada populasi khusus sebagai salah satu kompetensi inti pada Tahap Mandiri (Modul TI-8), mengingat kompleksitas kasus yang dihadapi di layanan kesehatan tersier semakin banyak melibatkan pasien dengan komorbiditas dan kerentanan khusus. [3]

Selain populasi rentan tersebut, buku ini juga membahas dua kompetensi khusus lain yang tercantum dalam Lampiran Keputusan KKI Nomor 44/KKI/KEP/V/2023, yaitu kedokteran wisata (travel medicine) — mencakup konsultasi pre-travel, during-travel, dan post-travel — serta tata laksana keracunan makanan/zat kimia dan gigitan hewan/serangga, yang keduanya kerap ditemui dalam praktik subspesialistik penyakit tropik dan infeksi di rumah sakit rujukan. [3]

Pendekatan pelayanan pada populasi khusus menuntut prinsip kehati-hatian dalam pemilihan modalitas diagnostik (misalnya keterbatasan paparan radiasi pada kehamilan), penyesuaian dosis obat (misalnya penurunan fungsi ginjal pada geriatri), serta pertimbangan interaksi obat kompleks (misalnya interaksi ARV dengan obat lain pada pasien HIV dengan komorbiditas). Oleh karena itu, kolaborasi interdisiplin — melibatkan obstetri-ginekologi, geriatri, hematologi-onkologi, dan farmakologi klinik — menjadi kunci keberhasilan tata laksana.

Poin Penting
  • Populasi khusus memerlukan modifikasi pendekatan diagnostik dan terapeutik dibandingkan populasi umum.
  • Kolaborasi interdisiplin adalah prinsip utama dalam tata laksana infeksi pada populasi khusus.
  • Kompetensi travel medicine dan tata laksana keracunan/gigitan merupakan bagian integral kurikulum Modul TI-8.

BAB II — Infeksi pada Kehamilan

Kehamilan menyebabkan perubahan imunologis (pergeseran ke arah dominasi imunitas humoral dan toleransi imun terhadap unit fetoplasenta) yang meningkatkan kerentanan terhadap infeksi tertentu dan dapat memperberat perjalanan penyakit infeksi pada ibu, sekaligus membawa risiko transmisi vertikal ke janin.

2.1 Infeksi TORCH

Kelompok infeksi TORCH — Toxoplasma gondii, Others (termasuk sifilis, varisela, parvovirus B19), Rubella, Cytomegalovirus (CMV), dan Herpes Simplex Virus (HSV) — merupakan penyebab utama infeksi kongenital yang dapat menimbulkan sekuele berat pada janin, termasuk gangguan neurologis, oftalmologis, dan pendengaran. [4]

Toksoplasmosis pada Kehamilan

Tingkat Kompetensi Subspesialis: Tingkat 4

Infeksi oportunistik yang disebabkan oleh protozoa Toxoplasma gondii, dapat ditularkan secara vertikal ke janin (toksoplasmosis kongenital) apabila infeksi primer terjadi selama kehamilan.

Seroprevalensi bervariasi menurut wilayah geografis dan kebiasaan makan; risiko transmisi ke janin meningkat seiring usia kehamilan, sementara beratnya penyakit kongenital berbanding terbalik dengan usia kehamilan saat infeksi. [4]

Transmisi terjadi melalui konsumsi daging kurang matang yang mengandung kista jaringan, konsumsi makanan/air terkontaminasi ookista dari feses kucing, atau transmisi transplasenta setelah parasitemia maternal.

Sebagian besar infeksi maternal bersifat asimtomatik atau menyerupai sindrom mononukleosis ringan (limfadenopati, demam ringan, malaise). Infeksi kongenital dapat menimbulkan triad klasik korioretinitis, hidrosefalus, dan kalsifikasi intrakranial, meskipun mayoritas bayi lahir asimtomatik dan bergejala di kemudian hari.

Skrining serologi IgG/IgM Toxoplasma, dikonfirmasi dengan uji aviditas IgG untuk memperkirakan waktu infeksi; pada kecurigaan infeksi janin, dilakukan PCR cairan amnion.

Spiramisin diberikan untuk mengurangi risiko transmisi transplasenta pada infeksi maternal tanpa bukti infeksi janin; bila infeksi janin terkonfirmasi, regimen pirimetamin–sulfadiazin–asam folinat digunakan setelah trimester pertama sesuai rekomendasi ahli. [4]

Korioretinitis, gangguan perkembangan neurologis, ketulian sensorineural, dan kehilangan penglihatan progresif dapat muncul bertahun-tahun setelah infeksi kongenital bila tidak terdeteksi.

Edukasi mengenai konsumsi daging matang sempurna, mencuci sayur/buah, menghindari kontak dengan kotoran kucing, serta kebersihan tangan setelah berkebun.

Infeksi Cytomegalovirus pada Kehamilan

Tingkat Kompetensi Subspesialis: Tingkat 4

Infeksi oleh Cytomegalovirus (famili Herpesviridae) yang merupakan penyebab tersering infeksi kongenital non-genetik di dunia.

Infeksi primer maternal terjadi pada sebagian kecil kehamilan namun membawa risiko transmisi vertikal tertinggi dibandingkan infeksi rekuren/reaktivasi. [4]

Transmisi melalui kontak dengan cairan tubuh (saliva, urin anak kecil), hubungan seksual, atau transmisi transplasenta; virus bersifat laten seumur hidup dengan potensi reaktivasi pada kondisi imunosupresi.

Infeksi maternal umumnya asimtomatik. Infeksi kongenital simtomatik (cytomegalic inclusion disease) ditandai petekie, hepatosplenomegali, mikrosefali, korioretinitis, dan kalsifikasi periventrikular.

Diagnosis infeksi maternal primer memerlukan serokonversi IgG atau IgM positif dengan aviditas IgG rendah; diagnosis infeksi janin memerlukan PCR DNA CMV pada cairan amnion setelah minggu ke-21 kehamilan.

Terapi definitif pada janin belum tersedia secara luas; valasiklovir dosis tinggi pada ibu hamil dengan infeksi janin dilaporkan dapat menurunkan viral load cairan amnion pada sejumlah studi terbatas, namun keputusan terapi memerlukan konsultasi subspesialistik karena bukti efikasi klinis jangka panjang masih berkembang. [2]

Tuli sensorineural progresif merupakan sekuele tersering, diikuti gangguan perkembangan kognitif dan motorik.

Kebersihan tangan setelah kontak dengan air liur/urin anak kecil, menghindari berbagi alat makan; belum tersedia vaksin CMV yang disetujui secara luas.

2.2 Infeksi Peripartum

Infeksi Intrapartum dan Korioamnionitis

Tingkat Kompetensi Subspesialis: Tingkat 4

Infeksi intraamnion (korioamnionitis) adalah peradangan akut pada korion dan amnion akibat invasi mikroorganisme, umumnya bersifat polimikrobial asendens dari traktus genital bawah.

Merupakan salah satu penyebab utama sepsis maternal dan neonatal, dengan faktor risiko meliputi ketuban pecah dini berkepanjangan, persalinan lama, dan pemeriksaan dalam berulang. [1]

Patogen tersering meliputi Streptococcus grup B, Escherichia coli, bakteri anaerob (Bacteroides, Prevotella), dan Ureaplasma/Mycoplasma genital.

Demam maternal, takikardia ibu dan janin, cairan amnion berbau, nyeri tekan uterus, dan leukositosis maternal.

Diagnosis klinis berdasarkan kriteria demam intrapartum disertai minimal satu tanda penyerta; kultur cairan amnion atau darah dapat mengonfirmasi patogen penyebab pada kasus refrakter.

Antibiotik spektrum luas segera (misalnya ampisilin dikombinasi gentamisin, ditambah klindamisin/metronidazol bila dilakukan seksio sesarea) serta percepatan penyelesaian persalinan. [1]

Sepsis maternal, atonia uteri, endometritis pascapersalinan, serta sepsis neonatal dini dengan morbiditas dan mortalitas signifikan.

Skrining dan profilaksis intrapartum Streptococcus grup B, minimalisasi pemeriksaan dalam pada ketuban pecah dini, dan penatalaksanaan persalinan lama secara tepat waktu.

Referensi Kunci Bab II
  • Harrison's Principles of Internal Medicine, edisi ke-22.
  • Manson's Tropical Diseases, edisi ke-24.
  • ACOG Practice Bulletin No. 151 mengenai Cytomegalovirus, Parvovirus B19, Varicella Zoster, dan Toksoplasmosis dalam Kehamilan.

BAB III — Infeksi pada Populasi Geriatri

Populasi lanjut usia mengalami imunosenensensi — penurunan fungsi imun bawaan dan adaptif seiring bertambahnya usia — yang meningkatkan kerentanan terhadap infeksi, memperlambat penyembuhan, dan sering menimbulkan presentasi klinis atipikal (misalnya tanpa demam, dengan delirium sebagai gejala utama).

Prinsip Umum Infeksi pada Geriatri

Tingkat Kompetensi Subspesialis: Tingkat 4

Sindrom infeksi pada populasi geriatri (usia ≥60 tahun menurut definisi nasional, atau ≥65 tahun menurut sebagian pedoman internasional) yang seringkali bermanifestasi atipikal akibat imunosenensensi dan polifarmasi.

Infeksi saluran kemih, pneumonia, dan infeksi kulit/jaringan lunak merupakan tiga infeksi tersering pada populasi geriatri yang dirawat di rumah sakit maupun fasilitas perawatan jangka panjang. [1]

Selain patogen konvensional, populasi geriatri berisiko lebih tinggi terhadap patogen resisten multi obat akibat riwayat paparan layanan kesehatan berulang (health-care associated pathogens).

Presentasi atipikal meliputi delirium akut, penurunan status fungsional mendadak, anoreksia, jatuh berulang, atau inkontinensia baru, sering tanpa demam signifikan akibat respons termoregulasi yang tumpul.

Ambang kecurigaan klinis harus ditingkatkan; pemeriksaan penunjang (kultur, pencitraan) dilakukan lebih liberal dibandingkan populasi dewasa muda karena keterbatasan sensitivitas gejala klasik.

Penyesuaian dosis antimikroba berdasarkan fungsi ginjal (klirens kreatinin), perhatian terhadap interaksi polifarmasi, dan pendekatan tata laksana yang mempertimbangkan status fungsional serta preferensi pasien. [1]

Dekompensasi fungsional permanen, delirium berkepanjangan, peningkatan risiko institusionalisasi, dan mortalitas yang lebih tinggi dibandingkan populasi dewasa muda dengan infeksi serupa.

Vaksinasi (influenza, pneumokokus, herpes zoster, COVID-19), optimalisasi status nutrisi, serta pencegahan jatuh dan dekondisioning selama perawatan.

Bakteriuria Asimtomatik dan Infeksi Saluran Kemih Kompleks pada Geriatri

Tingkat Kompetensi Subspesialis: Tingkat 4

Bakteriuria asimtomatik adalah ditemukannya bakteriuria bermakna tanpa gejala saluran kemih, umum dijumpai pada populasi geriatri terutama yang menggunakan kateter menetap.

Prevalensi bakteriuria asimtomatik meningkat signifikan seiring usia dan pada penghuni fasilitas perawatan jangka panjang. [1]

Escherichia coli tetap menjadi patogen tersering, namun proporsi patogen atipikal dan resisten meningkat pada populasi dengan kateterisasi kronik atau paparan antibiotik berulang.

Bakteriuria asimtomatik tidak memerlukan terapi kecuali pada kondisi tertentu (kehamilan, prosedur urologis invasif); infeksi simtomatik ditandai disuria, frekuensi, atau pada geriatri dapat bermanifestasi sebagai delirium tanpa gejala lokal.

Kultur urin bersih porsi tengah diperlukan untuk konfirmasi; diagnosis infeksi saluran kemih tidak boleh ditegakkan hanya berdasarkan urin keruh atau berbau pada pasien tanpa gejala.

Terapi antibiotik hanya diberikan pada infeksi simtomatik, disesuaikan dengan pola sensitivitas lokal dan fungsi ginjal; skrining serta pengobatan rutin bakteriuria asimtomatik tidak dianjurkan pada geriatri non-hamil. [1]

Overtreatment bakteriuria asimtomatik berkontribusi terhadap resistensi antimikroba tanpa manfaat klinis terbukti.

Minimalisasi penggunaan kateter urin menetap, perawatan kateter yang tepat, dan hidrasi adekuat.

Poin Penting
  • Demam sering tidak muncul pada infeksi geriatri; delirium akut dapat menjadi tanda infeksi tersembunyi.
  • Bakteriuria asimtomatik pada geriatri non-hamil umumnya TIDAK memerlukan terapi antibiotik.
  • Penyesuaian dosis berdasarkan fungsi ginjal wajib dilakukan pada setiap peresepan antimikroba.

BAB IV — Infeksi pada Pasien Immunocompromised

Pasien dengan status imunokompromais — baik akibat infeksi HIV lanjut, terapi imunosupresan, kemoterapi sitotoksik, maupun kondisi pascatransplantasi organ padat atau sel punca hematopoietik — memiliki kerentanan tinggi terhadap infeksi oportunistik yang jarang menimbulkan penyakit signifikan pada individu imunokompeten.

4.1 Infeksi Oportunistik pada HIV

Pneumocystis jirovecii Pneumonia (PCP)

Tingkat Kompetensi Subspesialis: Tingkat 4

Pneumonia oportunistik yang disebabkan oleh jamur atipikal Pneumocystis jirovecii, umumnya terjadi pada pasien HIV dengan hitung CD4 di bawah 200 sel/µL.

Merupakan salah satu infeksi penanda AIDS tersering pada pasien yang belum atau baru memulai terapi ARV di negara dengan cakupan tes HIV dan ARV yang belum optimal. [6]

Pneumocystis jirovecii merupakan jamur atipikal yang menginfeksi alveoli, ditularkan melalui rute udara antarmanusia; reaktivasi laten juga diduga berperan pada individu imunokompromais.

Trias klasik berupa demam subakut, sesak napas progresif, dan batuk kering nonproduktif selama beberapa minggu, sering disertai hipoksemia yang tidak sebanding dengan temuan auskultasi paru yang minimal.

Pencitraan toraks menunjukkan infiltrat interstisial bilateral simetris; diagnosis definitif memerlukan identifikasi organisme pada sputum induksi atau bilasan bronkoalveolar dengan pewarnaan khusus atau PCR; kadar laktat dehidrogenase (LDH) serum sering meningkat.

Trimetoprim-sulfametoksazol dosis tinggi merupakan terapi lini pertama selama 21 hari; kortikosteroid ajuvan diberikan pada hipoksemia sedang-berat (PaO2 <70 mmHg) untuk mengurangi risiko gagal napas. [1]

Gagal napas akut, pneumotoraks, dan pada kasus berat dapat memerlukan ventilasi mekanik dengan angka mortalitas bermakna.

Profilaksis primer trimetoprim-sulfametoksazol diberikan pada pasien HIV dengan CD4 <200 sel/µL, dihentikan setelah CD4 pulih di atas ambang batas selama terapi ARV yang stabil.

Meningitis Kriptokokus pada HIV

Tingkat Kompetensi Subspesialis: Tingkat 4

Infeksi susunan saraf pusat oleh jamur Cryptococcus neoformans, merupakan penyebab utama meningitis pada pasien HIV lanjut di negara dengan beban HIV tinggi.

Terutama terjadi pada pasien dengan CD4 <100 sel/µL dan merupakan salah satu penyebab kematian terkait AIDS yang signifikan secara global. [6]

Cryptococcus neoformans ditemukan di tanah dan kotoran burung; infeksi terjadi melalui inhalasi, dengan diseminasi hematogen ke susunan saraf pusat pada kondisi imunosupresi berat.

Nyeri kepala subakut-kronik, demam ringan, dan perubahan status mental; tanda meningeal klasik (kaku kuduk) sering tidak jelas akibat respons inflamasi yang tumpul.

Pemeriksaan cairan serebrospinal dengan tinta india, deteksi antigen kriptokokus (lateral flow assay) pada serum dan cairan serebrospinal, serta pengukuran tekanan pembukaan yang sering meningkat signifikan.

Fase induksi dengan amfoterisin B liposomal dikombinasi flusitosin selama minimal dua minggu, dilanjutkan fase konsolidasi dan pemeliharaan dengan flukonazol; tata laksana peningkatan tekanan intrakranial melalui pungsi lumbal berulang sangat penting untuk menurunkan mortalitas. [6]

Peningkatan tekanan intrakranial refrakter, gangguan penglihatan, dan sindrom inflamasi pemulihan imun (IRIS) setelah inisiasi ARV.

Skrining antigen kriptokokus pada pasien HIV dengan CD4 <100 sel/µL sebelum inisiasi ARV di wilayah dengan prevalensi tinggi; inisiasi ARV ditunda sekitar 4–6 minggu setelah terapi antifungal untuk menghindari IRIS berat.

4.2 Pasien Pascatransplantasi Organ dan Kemoterapi

Infeksi pada Pasien Pascatransplantasi Organ Padat

Tingkat Kompetensi Subspesialis: Tingkat 4

Infeksi oportunistik yang timbul akibat terapi imunosupresan yang diperlukan untuk mencegah penolakan graft pada penerima transplantasi organ padat (ginjal, hati, jantung, paru).

Risiko infeksi tertinggi terjadi pada periode 1–6 bulan pascatransplantasi, sesuai kerangka waktu klasik infeksi pascatransplantasi. [1]

Pada bulan pertama, infeksi umumnya terkait prosedur bedah dan nosokomial; periode 1–6 bulan didominasi infeksi oportunistik (CMV, Pneumocystis, infeksi jamur invasif); setelah 6 bulan, infeksi komunitas menjadi lebih dominan kecuali pada imunosupresi intensif berkelanjutan.

Manifestasi dapat tersamar akibat efek imunosupresan terhadap respons inflamasi; demam dapat minimal meskipun terdapat infeksi berat.

Pemantauan viral load CMV secara berkala, kultur dan biomarker jamur (galaktomanan, beta-D-glukan) pada kecurigaan infeksi jamur invasif, serta pencitraan dengan ambang kecurigaan rendah.

Terapi definitif sesuai patogen, disertai penyesuaian sementara regimen imunosupresan berkoordinasi dengan tim transplantasi; profilaksis CMV dan Pneumocystis diberikan sesuai stratifikasi risiko donor-resipien. [1]

Penolakan graft akut yang dipicu infeksi, gagal graft, dan mortalitas terkait infeksi yang tetap menjadi penyebab utama kematian pascatransplantasi.

Profilaksis antimikroba terstruktur berdasarkan periode waktu pascatransplantasi, vaksinasi lengkap sebelum transplantasi bila memungkinkan, serta pemantauan ketat parameter infeksi.

Infeksi pada Pasien Neutropenia Pascakemoterapi

Tingkat Kompetensi Subspesialis: Tingkat 4

Demam neutropenia adalah kegawatdaruratan onkologis yang ditandai suhu tubuh ≥38,3°C dengan hitung neutrofil absolut <500 sel/µL, memerlukan tata laksana antibiotik empiris segera.

Terjadi pada proporsi bermakna pasien yang menjalani kemoterapi sitotoksik intensif, dengan risiko tertinggi pada regimen mieloablatif dan keganasan hematologi. [5]

Bakteri gram negatif (termasuk Pseudomonas aeruginosa) dan gram positif merupakan penyebab tersering; infeksi jamur invasif (Aspergillus, Candida) meningkat pada neutropenia berkepanjangan.

Demam dapat menjadi satu-satunya tanda infeksi akibat ketiadaan respons inflamasi neutrofilik; sumber infeksi sering tidak teridentifikasi secara klinis pada evaluasi awal.

Kultur darah dari dua lokasi berbeda sebelum inisiasi antibiotik, pemeriksaan fisik menyeluruh mencari fokus infeksi tersembunyi, dan stratifikasi risiko menggunakan skor klinis standar.

Antibiotik empiris spektrum luas dengan aktivitas antipseudomonal (misalnya piperasilin-tazobaktam atau sefepim) diberikan segera dalam satu jam sejak identifikasi demam neutropenia, disesuaikan setelah hasil kultur tersedia. [5]

Sepsis, syok septik, dan infeksi jamur invasif diseminata pada neutropenia berkepanjangan (>7–10 hari).

Profilaksis antibakteri dan antifungal pada pasien risiko tinggi, penggunaan faktor pertumbuhan granulosit sesuai indikasi, serta kewaspadaan standar dan isolasi protektif bila diperlukan.

Referensi Kunci Bab IV
  • WHO Consolidated Guidelines on HIV Prevention, Testing, Treatment, Service Delivery and Monitoring (2021).
  • Harrison's Principles of Internal Medicine, edisi ke-22.
  • Freifeld AG, dkk. IDSA Clinical Practice Guideline for the Use of Antimicrobial Agents in Neutropenic Patients with Cancer (2010 update, Clin Infect Dis 2011).

BAB V — HIV dan Terapi Antiretroviral Jangka Panjang

Human Immunodeficiency Virus (HIV) tanpa Komplikasi

Tingkat Kompetensi Subspesialis: Tingkat 4

Infeksi oleh Human Immunodeficiency Virus (HIV), retrovirus yang menginfeksi sel T CD4+ dan sel imun lain, menyebabkan penurunan progresif imunitas seluler bila tidak diobati.

HIV tetap menjadi tantangan kesehatan masyarakat global; cakupan tes dan terapi ARV terus ditingkatkan sesuai target global 95-95-95 (95% terdiagnosis, 95% menerima ARV, 95% tersupresi virologis). [6]

Transmisi melalui hubungan seksual tanpa proteksi, paparan darah/produk darah terkontaminasi, penggunaan jarum suntik bersama, dan transmisi ibu-ke-anak.

Infeksi akut dapat menyerupai sindrom mononukleosis (demam, ruam, limfadenopati, faringitis); fase laten klinis berlangsung bertahun-tahun sebelum progresi ke AIDS bila tidak diterapi, ditandai infeksi oportunistik dan keganasan terkait AIDS.

Skrining dengan tes antigen/antibodi generasi keempat, dikonfirmasi dengan tes diferensiasi antibodi HIV-1/HIV-2 atau tes asam nukleat; pemeriksaan hitung CD4 dan viral load HIV RNA untuk menentukan stadium dan pemantauan terapi.

Terapi antiretroviral kombinasi (ART) diinisiasi segera pada seluruh individu terdiagnosis HIV tanpa memandang hitung CD4, dengan regimen lini pertama umumnya berbasis dua NRTI dikombinasi satu integrase strand transfer inhibitor (INSTI). [7]

Tanpa terapi, progresi menuju AIDS dengan infeksi oportunistik dan keganasan terkait imunodefisiensi; risiko penularan berkelanjutan pada individu dengan viral load tidak tersupresi.

Profilaksis pra-pajanan (PrEP), profilaksis pasca-pajanan (PEP), penggunaan kondom, program jarum suntik steril, dan strategi Undetectable = Untransmittable (U=U) pada individu dengan viral load tersupresi konsisten.

Terapi Antiretroviral Jangka Panjang

Tingkat Kompetensi Subspesialis: Tingkat 4

Pemantauan pasien HIV dalam terapi ARV jangka panjang mencakup evaluasi berkala efikasi virologis (viral load HIV RNA setiap 3–6 bulan hingga tersupresi, kemudian setiap 6–12 bulan), pemulihan imunologis (hitung CD4), kepatuhan terapi, serta toksisitas obat jangka panjang termasuk gangguan metabolik (dislipidemia, resistensi insulin), nefrotoksisitas (khususnya pada regimen berbasis tenofovir disoproxil fumarate), penurunan densitas mineral tulang, dan risiko kardiovaskular yang meningkat pada populasi HIV dibandingkan populasi umum sebaya. Sejak awal 2026, pertimbangan terapi statin pada populasi HIV mengacu pada pedoman dislipidemia American College of Cardiology/American Heart Association terbaru, menggantikan bagian statin pada pedoman DHHS sebelumnya. [7]

Kegagalan virologis — didefinisikan sebagai viral load terdeteksi >200 kopi/mL setelah periode supresi — memerlukan evaluasi kepatuhan, interaksi obat, dan uji resistensi genotipik sebelum penggantian regimen. Perpindahan regimen mempertimbangkan riwayat terapi, profil resistensi, komorbiditas, serta potensi interaksi dengan terapi tuberkulosis atau kontrasepsi hormonal. [7]

Ringkasan Klinis
  • Target terapi ARV: viral load HIV RNA tidak terdeteksi dan pemulihan hitung CD4 berkelanjutan.
  • Pemantauan jangka panjang mencakup fungsi ginjal, profil lipid, densitas tulang, dan risiko kardiovaskular.
  • Prinsip U=U (Undetectable = Untransmittable) mendasari konseling pencegahan transmisi pada pasangan pasien dengan viral load tersupresi.
Kelas Obat ARVContoh AgenPertimbangan Utama
NRTITenofovir, Lamivudin, EmtrisitabinPemantauan fungsi ginjal dan densitas tulang pada tenofovir disoproxil fumarate
INSTIDolutegravir, BictegravirRegimen lini pertama pilihan; risiko kenaikan berat badan
NNRTIEfavirenz, RilpivirinInteraksi obat signifikan; efek samping neuropsikiatri pada efavirenz
PI (boosted)Darunavir/ritonavirInteraksi obat luas; digunakan pada regimen lini kedua/ketiga
Referensi Kunci Bab V
  • Panel on Antiretroviral Guidelines for Adults and Adolescents (DHHS), diperbarui terakhir 27 Mei 2026.
  • WHO Consolidated Guidelines on HIV Prevention, Testing, Treatment, Service Delivery and Monitoring (2021).
  • Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor HK.01.07/MENKES/90/2019 tentang Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana HIV.

BAB VI — Kedokteran Wisata (Travel Medicine)

Kedokteran wisata merupakan bidang subspesialistik yang berfokus pada pencegahan, tata laksana, dan konseling risiko kesehatan terkait perjalanan internasional. Kompetensi ini mencakup tiga fase konsultasi: pre-travel, during-travel, dan post-travel. [9]

6.1 Konsultasi Pre-Travel

Konsultasi pre-travel idealnya dilakukan 4–6 minggu sebelum keberangkatan untuk memberikan waktu yang cukup bagi vaksinasi dan kemoprofilaksis mencapai efikasi optimal. Penilaian risiko mempertimbangkan destinasi, durasi, aktivitas yang direncanakan, kondisi kesehatan dasar, serta akses layanan kesehatan di lokasi tujuan. [9]

Vaksinasi Wisata

Vaksinasi wisata dikategorikan menjadi vaksin rutin (yang seharusnya sudah dimiliki sesuai jadwal imunisasi nasional), vaksin yang direkomendasikan berdasarkan risiko destinasi (misalnya hepatitis A, tifoid, demam kuning, ensefalitis Jepang, rabies pra-pajanan), dan vaksin yang diwajibkan secara regulasi oleh negara tertentu (misalnya demam kuning untuk memasuki wilayah endemis tertentu, serta meningokokus untuk jemaah haji/umrah). [11]

VaksinIndikasi UtamaCatatan Khusus
Demam KuningWilayah endemis Afrika sub-Sahara & Amerika SelatanWajib pada beberapa negara sesuai regulasi IHR; kontraindikasi pada imunokompromais berat
Hepatitis AHampir seluruh destinasi berkembangDianjurkan untuk sebagian besar pelancong
TifoidAsia Selatan, Afrika, dengan paparan makanan/air berisikoTersedia bentuk oral dan injeksi
Ensefalitis JepangPerjalanan pedesaan Asia dengan tinggal lamaDipertimbangkan berdasarkan durasi dan musim
MeningokokusSabuk meningitis Afrika, jemaah haji/umrahWajib untuk visa haji/umrah sesuai regulasi Arab Saudi

Kemoprofilaksis Malaria

Pemilihan regimen kemoprofilaksis malaria mempertimbangkan pola resistensi Plasmodium di wilayah tujuan, durasi perjalanan, riwayat alergi obat, kehamilan, serta interaksi dengan obat lain. Pilihan lini pertama umumnya meliputi atovakuon-proguanil, doksisiklin, atau meflokuin, dengan pertimbangan efek samping neuropsikiatri pada meflokuin dan fotosensitivitas pada doksisiklin. [14]

6.2 Konsultasi During-Travel

Selama perjalanan, risiko kesehatan meliputi diare wisatawan, penyakit terkait ketinggian (mountain sickness), motion sickness, paparan penyakit tular vektor, serta cedera terkait aktivitas rekreasi. Diare wisatawan merupakan keluhan kesehatan tersering pada pelancong internasional, umumnya disebabkan oleh Escherichia coli enterotoksigenik, dengan tata laksana rehidrasi oral dan antibiotik empiris (misalnya azitromisin atau fluorokuinolon) pada kasus sedang-berat. [9]

Kit perjalanan yang direkomendasikan mencakup obat antidiare (loperamid dengan kehati-hatian pada diare berdarah/demam tinggi), antibiotik siaga sesuai indikasi, tabir surya, repelan serangga mengandung DEET atau ikaridin, serta obat-obatan rutin dalam jumlah cukup untuk seluruh durasi perjalanan.

6.3 Konsultasi Post-Travel

Evaluasi post-travel diindikasikan pada pelancong yang kembali dengan demam, diare persisten, ruam kulit, atau gejala pernapasan setelah kunjungan ke wilayah endemis. Anamnesis rinci mengenai riwayat perjalanan (destinasi, durasi, aktivitas, riwayat gigitan serangga, konsumsi makanan/air, kontak hewan) merupakan kunci diagnosis, mengingat masa inkubasi berbagai penyakit tropik dapat bervariasi dari beberapa hari hingga bulan. [9]

Demam pada pelancong yang kembali dari wilayah endemis malaria harus dianggap sebagai malaria hingga terbukti sebaliknya, mengingat potensi perburukan cepat pada infeksi Plasmodium falciparum. Evaluasi awal mencakup apusan darah tebal dan tipis atau tes diagnostik cepat malaria, dilakukan segera dan diulang bila hasil awal negatif namun kecurigaan klinis tetap tinggi.

Poin Penting
  • Konsultasi pre-travel idealnya 4–6 minggu sebelum keberangkatan.
  • Demam pada pelancong dari wilayah endemis malaria dianggap malaria hingga terbukti sebaliknya.
  • Anamnesis riwayat perjalanan yang rinci merupakan kunci diagnosis pada evaluasi post-travel.
Referensi Kunci Bab VI
  • CDC Yellow Book, edisi 2026: Health Information for International Travel.
  • International Society of Travel Medicine (ISTM) Body of Knowledge in Travel Medicine.
  • WHO International Travel and Health (dengan pembaruan lampiran persyaratan vaksinasi negara terakhir Januari 2023).

BAB VII — Keracunan dan Gigitan

7.1 Keracunan Makanan dan Zat Kimia

Keracunan Makanan

Tingkat Kompetensi Subspesialis: Tingkat 4

Sindrom klinis akibat konsumsi makanan/minuman terkontaminasi patogen (bakteri, virus, parasit) atau toksin yang dihasilkannya, bermanifestasi sebagai gejala gastrointestinal akut.

Merupakan penyebab morbiditas signifikan secara global, dengan sebagian besar kasus bersifat self-limiting namun sebagian dapat menimbulkan komplikasi berat terutama pada populasi rentan. [1]

Penyebab tersering meliputi Salmonella spp., Staphylococcus aureus (toksin preformed), Bacillus cereus, Clostridium perfringens, serta norovirus; sumber kontaminasi meliputi makanan tidak dimasak sempurna, penyimpanan suhu tidak sesuai, dan kontaminasi silang.

Onset gejala bervariasi tergantung mekanisme (toksin preformed menimbulkan gejala dalam hitungan jam, sementara infeksi invasif memerlukan masa inkubasi lebih panjang); manifestasi meliputi mual, muntah, nyeri abdomen kolik, dan diare, dengan atau tanpa demam.

Diagnosis umumnya klinis; kultur tinja atau deteksi toksin dipertimbangkan pada kasus berat, wabah, atau pasien immunocompromised.

Rehidrasi oral atau intravena sesuai derajat dehidrasi merupakan tata laksana utama; antibiotik empiris dipertimbangkan pada diare berdarah/demam tinggi atau pasien immunocompromised, sementara antiemetik dan antimotilitas digunakan secara selektif. [1]

Dehidrasi berat, gangguan elektrolit, dan pada kasus tertentu (misalnya Guillain-Barré pasca-Campylobacter) komplikasi pascainfeksi jangka panjang.

Praktik keamanan pangan (pemasakan sempurna, penyimpanan suhu tepat, mencegah kontaminasi silang) dan kebersihan tangan.

Keracunan Zat Kimia (Organofosfat, Alkohol, Benzodiazepin, Opiat, Amfetamin, Logam Berat)

Tingkat Kompetensi Subspesialis: Tingkat 4

Sindrom toksik akibat paparan berbagai golongan zat kimia yang masing-masing menimbulkan sindrom toksidrom klinis khas.

Keracunan organofosfat lazim terjadi pada populasi agraris sebagai akibat paparan okupasional atau percobaan bunuh diri; keracunan zat psikoaktif lain bervariasi menurut pola penyalahgunaan zat setempat. [1]

Organofosfat menghambat asetilkolinesterase menyebabkan toksidrom kolinergik; opiat menyebabkan depresi susunan saraf pusat dan pernapasan; logam berat menimbulkan efek toksik multiorgan kronik/akut tergantung jenis logam.

Toksidrom kolinergik pada organofosfat meliputi miosis, hipersalivasi, bronkorea, kram abdomen, dan fasikulasi otot (dapat diingat dengan mnemonik SLUDGE); toksidrom opiat meliputi trias klasik miosis pinpoint, depresi napas, dan penurunan kesadaran.

Diagnosis umumnya klinis berdasarkan toksidrom yang dikenali; pemeriksaan kadar kolinesterase plasma/eritrosit dapat mengonfirmasi keracunan organofosfat; skrining toksikologi urin membantu identifikasi zat psikoaktif.

Dekontaminasi (pelepasan pakaian terkontaminasi pada organofosfat), atropin dan pralidoksim pada keracunan organofosfat, nalokson pada keracunan opiat, serta tata laksana suportif jalan napas-pernapasan-sirkulasi sebagai prioritas pada seluruh kasus keracunan berat. [1]

Gagal napas, sindrom intermediate pada keracunan organofosfat, aritmia jantung, serta gangguan neurologis jangka panjang pada paparan logam berat kronik.

Edukasi keselamatan kerja pada paparan pestisida okupasional, penyimpanan zat kimia yang aman, dan skrining pada populasi berisiko paparan logam berat okupasional.

7.2 Gigitan Hewan dan Serangga

Gigitan Ular Berbisa

Tingkat Kompetensi Subspesialis: Tingkat 4

Envenomasi akibat gigitan ular berbisa yang dapat menimbulkan efek toksik lokal maupun sistemik tergantung spesies dan volume bisa yang diinokulasi.

Merupakan kegawatdaruratan medis penting di wilayah tropis termasuk Indonesia, dengan sekitar 135.000 kasus gigitan ular per tahun dan angka kematian diperkirakan mencapai 10%, terutama pada populasi agraris. [13]

Bisa ular dapat bersifat hemotoksik (menyebabkan koagulopati dan perdarahan), neurotoksik (menyebabkan paralisis neuromuskular), atau sitotoksik (nekrosis jaringan lokal), tergantung spesies penyebab.

Manifestasi lokal meliputi nyeri, edema progresif, dan nekrosis jaringan; manifestasi sistemik dapat berupa koagulopati (perdarahan gusi, hematuria), paralisis progresif (ptosis, disfagia, gagal napas), atau rabdomiolisis tergantung jenis bisa.

Identifikasi spesies ular bila memungkinkan (dari deskripsi atau foto, bukan menangkap ular hidup), pemeriksaan koagulasi (20-minute whole blood clotting test sebagai alternatif sederhana), dan pemantauan fungsi neuromuskular serta ginjal.

Serum anti-bisa ular (SABU) polivalen/monovalen sesuai jenis ular endemis diberikan berdasarkan derajat envenomasi klinis, bukan berdasarkan luka gigitan semata; imobilisasi ekstremitas dan transportasi segera ke fasilitas kesehatan merupakan tata laksana pra-rumah sakit yang esensial. [13]

Gagal ginjal akut akibat rabdomiolisis/koagulopati, gagal napas pada envenomasi neurotoksik, sindrom kompartemen, dan kematian pada kasus tidak tertangani.

Edukasi masyarakat mengenai penggunaan alas kaki dan pencahayaan yang memadai di wilayah endemis, serta menghindari tindakan tradisional yang tidak terbukti manfaatnya (insisi, torniket ketat, pengisapan luka).

Gigitan Hewan Berisiko Rabies

Tingkat Kompetensi Subspesialis: Tingkat 4

Paparan gigitan atau cakaran hewan (umumnya anjing, kucing, kera) yang berisiko menularkan virus rabies, suatu ensefalitis viral yang hampir selalu fatal setelah onset gejala klinis.

Indonesia termasuk wilayah endemis rabies pada sejumlah provinsi, dengan anjing sebagai vektor utama penularan ke manusia. [2]

Virus rabies (famili Rhabdoviridae) ditularkan melalui saliva hewan terinfeksi yang masuk melalui luka gigitan/cakaran atau kontak mukosa.

Masa inkubasi bervariasi (rata-rata beberapa minggu hingga bulan, tergantung lokasi gigitan dan jarak ke susunan saraf pusat); gejala prodromal nonspesifik diikuti fase neurologis dengan hidrofobia, aerofobia, atau paralisis progresif hingga kematian.

Diagnosis pada manusia umumnya klinis dan epidemiologis; konfirmasi laboratorium (deteksi antigen/RNA virus) dilakukan pada fasilitas rujukan, sementara observasi hewan penggigit (bila memungkinkan) membantu penentuan risiko.

Tata laksana pasca-pajanan (PEP) segera meliputi pencucian luka dengan sabun dan air mengalir selama minimal 15 menit, pemberian vaksin rabies sesuai jadwal, dan immunoglobulin rabies pada kategori paparan berisiko tinggi (kategori III WHO). [12]

Rabies klinis (ensefalitis rabies) bersifat hampir selalu fatal begitu gejala neurologis muncul; oleh karena itu pencegahan pasca-pajanan bersifat mutlak dan tidak boleh ditunda.

Vaksinasi hewan peliharaan, vaksinasi pra-pajanan pada individu berisiko okupasional tinggi (dokter hewan, petugas satwa liar), dan edukasi masyarakat mengenai tata laksana segera pasca-gigitan.

Referensi Kunci Bab VII
  • Manson's Tropical Diseases, edisi ke-24.
  • Harrison's Principles of Internal Medicine, edisi ke-22.
  • Kemenkes RI. Buku Pedoman Penanganan Gigitan, Sengatan Hewan Berbisa dan Keracunan Tumbuhan serta Jamur (2023); WHO Rabies Vaccines Position Paper (2018).

Daftar Referensi

  1. Longo DL, Fauci AS, Kasper DL, Hauser SL, Jameson JL, Loscalzo J, Holland SM, Langford CA, editors. Harrison's Principles of Internal Medicine. 22nd ed. New York: McGraw Hill; 2025.
  2. Farrar J, Hotez PJ, Junghanss T, Kang G, Lalloo D, White NJ, Garcia PJ, editors. Manson's Tropical Diseases. 24th ed. Edinburgh: Elsevier; 2023.
  3. Konsil Kedokteran Indonesia. Keputusan Konsil Kedokteran Indonesia Nomor 44/KKI/KEP/V/2023 tentang Standar Pendidikan Profesi Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Penyakit Tropik dan Infeksi. Jakarta: KKI; 2023.
  4. American College of Obstetricians and Gynecologists. Practice Bulletin No. 151: Cytomegalovirus, Parvovirus B19, Varicella Zoster, and Toxoplasmosis in Pregnancy. Obstet Gynecol. 2015;125:1510-1525. Tersedia dari: acog.org
  5. Freifeld AG, Bow EJ, Sepkowitz KA, Boeckh MJ, Ito JI, Mullen CA, Raad II, Rolston KV, Young JH, Wingard JR. Clinical Practice Guideline for the Use of Antimicrobial Agents in Neutropenic Patients with Cancer: 2010 Update by the Infectious Diseases Society of America. Clin Infect Dis. 2011;52(4):e56-e93. Tersedia dari: doi.org/10.1093/cid/cir073
  6. World Health Organization. Consolidated Guidelines on HIV Prevention, Testing, Treatment, Service Delivery and Monitoring: Recommendations for a Public Health Approach. Geneva: WHO; 2021. Tersedia dari: who.int
  7. Panel on Antiretroviral Guidelines for Adults and Adolescents. Guidelines for the Use of Antiretroviral Agents in Adults and Adolescents with HIV. Rockville: US Department of Health and Human Services; diperbarui terakhir 27 Mei 2026. Tersedia dari: clinicalinfo.hiv.gov
  8. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/90/2019 tentang Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana HIV. Jakarta: Kemenkes RI; 2019. Tersedia dari: kemkes.go.id
  9. Halsey ES, Angelo KM, Barnett ED, Chen LH, Coyle CM, Ericsson CD, Freedman DO, Ostroff SM, Petersen K, Ryan ET, Weinberg M, editors. CDC Yellow Book, 2026 Edition: Health Information for International Travel. Atlanta: Centers for Disease Control and Prevention (US); 2025. Tersedia dari: cdc.gov
  10. International Society of Travel Medicine (ISTM). ISTM Body of Knowledge in Travel Medicine. Tersedia dari: istm.org
  11. World Health Organization. International Travel and Health. Geneva: WHO; 2012 (pembaruan daring berkelanjutan; lampiran persyaratan vaksinasi negara terakhir diperbarui Januari 2023). Tersedia dari: who.int
  12. World Health Organization. Rabies Vaccines: WHO Position Paper - April 2018. Wkly Epidemiol Rec. 2018;93(16):201-220. Tersedia dari: who.int
  13. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Buku Pedoman Penanganan Gigitan, Sengatan Hewan Berbisa dan Keracunan Tumbuhan serta Jamur. Jakarta: Kemenkes RI; 2023. Tersedia dari: badankebijakan.kemkes.go.id
  14. Centers for Disease Control and Prevention. Malaria. Dalam: CDC Yellow Book, 2026 Edition: Health Information for International Travel. Atlanta: CDC (US); 2025. Tersedia dari: cdc.gov

Glosarium

Antiretroviral (ARV)
Golongan obat yang menghambat replikasi Human Immunodeficiency Virus (HIV) melalui berbagai mekanisme kerja.
Bakteriuria Asimtomatik
Ditemukannya bakteri bermakna pada kultur urin tanpa disertai gejala klinis saluran kemih.
CD4
Jenis limfosit T yang menjadi target utama infeksi HIV; hitungnya digunakan untuk menilai derajat imunosupresi.
Delirium
Gangguan kesadaran dan kognisi akut serta fluktuatif, sering menjadi manifestasi infeksi atipikal pada geriatri.
Envenomasi
Proses masuknya bisa (venom) ke dalam tubuh akibat gigitan atau sengatan hewan berbisa.
Immunocompromised
Kondisi penurunan fungsi sistem imun akibat penyakit, obat, atau terapi tertentu sehingga meningkatkan kerentanan terhadap infeksi.
Imunosenensensi
Penurunan fungsi sistem imun bawaan dan adaptif yang terjadi secara alami seiring bertambahnya usia.
Infeksi Kongenital
Infeksi yang ditularkan dari ibu ke janin selama masa kehamilan, persalinan, atau segera setelah lahir.
Infeksi Oportunistik
Infeksi yang umumnya tidak menimbulkan penyakit signifikan pada individu dengan sistem imun normal, namun menjadi patogenik pada kondisi imunosupresi.
Kemoprofilaksis
Pemberian obat untuk mencegah terjadinya suatu penyakit infeksi sebelum paparan atau selama periode risiko.
Korioamnionitis
Peradangan pada membran korion dan amnion akibat infeksi, umumnya bersifat asendens dari traktus genital bawah.
Neutropenia
Penurunan hitung neutrofil absolut dalam darah di bawah ambang normal, meningkatkan risiko infeksi berat.
Piramida Miller
Kerangka konseptual penilaian kompetensi klinis bertingkat: knows, knows how, shows how, dan does.
Post-Exposure Prophylaxis (PEP)
Pemberian intervensi medis segera setelah paparan suatu patogen untuk mencegah terjadinya infeksi, misalnya pada paparan HIV atau rabies.
Pre-Exposure Prophylaxis (PrEP)
Pemberian obat antiretroviral kepada individu berisiko tinggi sebelum paparan HIV untuk mencegah infeksi.
Rabdomiolisis
Kerusakan otot rangka akut yang melepaskan konten intraselular ke sirkulasi, dapat menyebabkan gagal ginjal akut.
Serokonversi
Perubahan status serologis dari negatif menjadi positif terhadap antibodi suatu patogen, menandakan infeksi baru.
Seroprevalensi
Proporsi populasi yang menunjukkan bukti serologis (antibodi) terhadap suatu patogen tertentu.
Sindrom Inflamasi Pemulihan Imun (IRIS)
Perburukan klinis paradoksal yang terjadi akibat pemulihan respons imun setelah inisiasi terapi ARV pada pasien dengan infeksi oportunistik yang mendasari.
Toksidrom
Kumpulan tanda dan gejala klinis khas yang timbul akibat paparan golongan zat toksik tertentu.
Transmisi Vertikal
Penularan patogen dari ibu ke janin atau bayi, dapat terjadi secara transplasenta, intrapartum, atau melalui air susu ibu.
Travel Medicine
Cabang ilmu kedokteran yang berfokus pada pencegahan dan tata laksana masalah kesehatan terkait perjalanan internasional.
Undetectable = Untransmittable (U=U)
Prinsip yang menyatakan individu HIV dengan viral load tersupresi konsisten di bawah ambang deteksi tidak menularkan virus melalui hubungan seksual.
Viral Load
Jumlah salinan materi genetik virus (misalnya HIV RNA) per mililiter darah, digunakan untuk memantau efikasi terapi antiretroviral.
Zoonosis
Penyakit infeksi yang dapat ditularkan dari hewan kepada manusia.

Tentang Buku Ini

Buku ini merupakan Buku 8 dari 10 dalam Seri Pendidikan Dokter Subspesialis Penyakit Dalam Konsultan Tropik dan Infeksi, membahas secara khusus pengelolaan infeksi pada populasi khusus (kehamilan, geriatri, dan pasien immunocompromised), tata laksana HIV/AIDS dengan penekanan pada terapi antiretroviral jangka panjang, kedokteran wisata (travel medicine), serta tata laksana keracunan dan gigitan hewan/serangga, sesuai cakupan Modul TI-8 pada Tahap Mandiri kurikulum. Pembaca dianjurkan untuk merujuk pula pada Buku 1 (Diagnostik Penyakit Tropik dan Infeksi) untuk prinsip dasar pendekatan diagnostik, Buku 2 dan Buku 6 (Infeksi Bakteri dan Healthcare-Associated Infections) untuk tata laksana infeksi bakteri terkait layanan kesehatan yang relevan dengan populasi immunocompromised, serta Buku 9 (Modul Unggulan) untuk topik-topik pendalaman lanjutan sesuai unggulan masing-masing institusi penyelenggara pendidikan.